Data Pengguna Facebook Rentan Disalahgunakan untuk Alat Propaganda

Foto: Cambridge Analytica.

KIBLAT.NET – Para peneliti yang sebelumnya pernah memperingatkan tentang kemungkinan risiko penyalahgunaan data Facebook menunjukkan bagaimana profiling psikologis mulai menampakkan hasil.

Dilaporkan saat ini sedang terjadi kegaduhan di Washington dan Silicon Valley terkait sejumlah temuan di antaranya bahwa Cambridge Analytica, sebuah perusahaan yang dikenal pro Trump yang bergerak di bidang konsultan “psikografis” telah mengantongi secara detil data personal 87 juta pengguna Facebook.

Sementara kegaduhan yang terjadi banyak berkaitan dengan masalah privasi dan etika, ternyata hal itu masih menyisakan sebuah pertanyaan praktis, “Apakah penargetan psikologis merupakan sebuah cara yang efektif dalam propaganda digital?”  Menurut seorang peneliti Stanford yang telah banyak merintis teknik-teknik original, jawabannya adalah “iya.”

“Bertahun-tahun saya sudah peringatkan akan kemungkinan risiko ini,” kata Michal Kosinski yang bekerja sebagai seorang psikolog sekaligus asisten profesor di Stanford Graduate School of Business (SGSB). “Penelitian terbaru kami mengkonfirmasi bahwa jenis atau cara penargetan psikologis ini bukan hanya memberikan kemungkinan, tetapi sangat efektif untuk dijadikan sebagai alat persuasi massa secara digital.” Kosinski tidak pernah bekerja untuk Cambridge Analytica, dan ia pun tidak pernah bisa mendapatkan data Facebook tanpa ijin pengguna.

Memanfaatkan “Likes” pada Facebook

Sebagai seorang mahasiswa program doktoral (S3) sekaligus wakil direktur Pusat Psikometrik Universitas Cambridge dari tahun 2008-2014, Kosinski bekerja dengan seorang koleganya untuk menginvestigasi apakah mungkin dilakukan identifikasi karakter psikologi seseorang dari “likes” di Facebook. Sebagai contoh, orang-orang yang mengklik “liked” Battlestar Galactica kemungkinan adalah seorang introvert. Sementara mereka yang me-“liked” Lady Gaga adalah orang-orang ekstrovert.

Kosinski dan koleganya di Cambridge, David Stillwell, mampu mengkorelasikan antara “likes” dengan karakter atau kepribadian dasar lainnya, seperti: keterbukaan, kehati-hatian, keramahan, dan kelainan mental. Dengan berbekal hanya 10 “likes” mereka bisa mengevaluasi sifat seseorang secara lebih akurat daripada yang dilakukan oleh teman seprofesi orang tersebut. Dan dengan 70 “likes,” penilaian mereka bisa lebih akurat daripada penilaian teman-teman dekat seseorang.

BACA JUGA  Tiga Pelajaran Dari Bencana Alam

Dalam sebuah penelitian baru saat ini, Kosinski dan para koleganya, termasuk Stillwell, Sandra Matz dari Sekolah Bisnis Kolumbia, dan Gideon Nave dari Sekolah Bisnis Wharton, mengkonfirmasi langkah logis berikutnya bahwa iklan akan terasa lebih persuasif apabila disesuaikan dengan sifat-sifat psikologis tersebut.

Riset untuk Memberi Peringatan 

Kosinski tidak membual tentang hal ini. “Sebagian besar penelitian saya dimaksudkan sebagai peringatan,” katanya. “Anda bisa membayangkan berbagai macam aplikasi yang dibuat untuk tujuan yang baik, tetapi jauh lebih mudah memikirkan aplikasi-aplikasi yang memanipulasi orang untuk membuat keputusan yang bertolak belakang dengan hati nurani dan kepentingan mereka.”

Kosinski bersama koleganya menciptakan sebuah aplikasi Facebook yang memungkinkan orang mengisi kuis kepribadian yang nantinya akan menilai lima sifat kepribadian dasar. Mereka kemudian meminta akses ke “likes” para pengguna, dan akhirnya sebuah database sudah terisi dengan 3 juta profil.

Dengan cara menghubungkan “likes” seseorang dengan skor kuis kepribadian mereka, Kosinski dan Stillwell mengembangkan algoritma yang dapat menyimpulkan secara akurat sejumlah besar sifat-sifat kepribadian seseorang dari aktifitas Facebooknya.

Para pendiri Cambridge Analytica mengadopsi teknik-teknik yang sama dan menerapkannya ke dunia politik. Mereka juga maju selangkah ke depan, dengan menggunakan aplikasi mereka sendiri untuk mengumpulkan secara rahasia aktifitas dari 10 juta pengguna Facebook dan yang sudah berteman dengan mereka yang mengisi kuis aplikasi.

Dalam studi terbaru mereka, Kosinski bersama kolega-koleganya itu ingin melihat apakah penargetan psikologis betul-betul memberikan hasil yang lebih baik dalam  periklanan. Para peneliti melakukan tiga kampanye iklan yang bersifat eksperimen terkait Facebook.

Mengukur Efek Iklan yang Terbidik 

Dalam mempromosikan kosmetika, misalnya, mereka menggunakan iklan-iklan yang saling menyerang yang ditujukan kepada orang-orang introvert dan ekstrovert. Semua dikatakan, iklan telah menjangkau 3 juta orang.

Iklan untuk orang ekstrovert menampilkan seorang wanita sedang menari dengan slogan “Menari seperti tidak ada yang melihat (padahal mereka terlihat oleh banyak orang).” Sebaliknya, iklan untuk orang introvert menampilkan seorang wanita sedang merenungi dirinya sendiri di depan cermin dengan sebuah slogan sunyi: “Kecantikan tidak harus diteriakkan.”

BACA JUGA  Islam, Sistem Paripurna Sebagai Pembangkit Semangat dan Penggali Potensi Jiwa Muda

Cukup meyakinkan, bahwa 50 persen orang kemungkinan akan membeli produk kosmetik apabila mereka melihat iklan yang ditujukan kepada ciri/sifat khusus mereka. Hasilnya pun sama ketika para peneliti mempromosikan sebuah aplikasi teka-teki silang untuk smartphone dengan iklan yang ditujukan kepada para pengguna yang berbasis pada keterbukaan mereka terhadap hal-hal baru.

Orang-orang yang diidentifikasikan sangat terbuka didorong untuk membebaskan kreatifitas pada sebuah puzzle dengan nomor tak terbatas. Mereka yang melihat iklan yang ditujukan kepada tingkat tertentu aspek keterbukaan mereka, 30 persen kemungkinan akan men-download game tersebut daripada yang tidak.

Dalam sebuah uji coba yang ketiga, Kosinski dkk menguji iklan saingannya untuk sebuah video game yang sudah jelas diketahui akan menarik orang-orang introvert. Iklan pertama menampilkan sebuah nada standar penuh aksi: “Siap? Tembak!….” Iklan kedua disesuaikan dengan tipe introvert: “Owh! Hari yang sulit? Bagaimana dengan sebuah puzzle yang harus dimenangkan?” Di sini, iklan untuk introvert menghasilkan 30 persen lebih klik dan 20 persen lebih download.

Kosinski mengatakan sepertinya tidak mungkin untuk melarang penargetan psikologis sebagai alat propaganda politik, tetapi ia mengatakan masyarakat dapat melindungi diri dengan selalu waspada dan memahami bagaimana mekanisme penargetan itu bekerja. Mereka juga bisa menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan mencegah terjadinya penyalahgunaan.

“Ini sedikit mirip dengan api,” katanya. “Anda bisa menggunakan api untuk menghangatkan rumah Anda, atau juga membakarnya hingga habis. Anda tidak bisa melarang api, dan Anda tidak bisa menghentikan sebagian orang yang melakukan aksi pembakaran. Yang Anda perlukan adalah regu pemadam kebakaran dan peralatan keselamatannya.”

Sumber: Standford.edu
Redaktur: Yasin Muslim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Waspada! Hacker Retas Puluhan Juta Akun Facebook

Amerika - Sabtu, 13/10/2018 08:36