Kasus Bos PT Indaco Urung Dibawa ke Pengadilan, Orang Tua Korban Tuntut Keadilan

Foto: Suharto (peci putih), orang tua Eko Prasetio korban penabrakan Presiden Direktur PT Indaco Warna Dunia Iwan Adranacus, bersama dengan pengacara dari LBH Mega Bintang

KIBLAT.NET, Solo – Belum ada kejelasan dalam proses kasus penabrakan yang dilakukan bos PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus hingga menewaskan Eko Prasetio. Orang tua korban mengharapkan keadilan dalam kasus itu dan pelaku dihukum semaksimal mungkin.

Hampir tiga bulan yang lalu, pada Rabu (22/8/2018) sekitar pukul 12.15 WIB bertepatan Idul Adha, kecelakaan terjadi di Jalan KS Tubun, tepat di timur Mapolresta Solo, Manahan, Banjarsari, Solo. Sepeda motor yang dikendarai Eko Prasetio ditabrak mobil Mercy yang dikendarai oleh Iwan Adranacus. Eko meninggal dunia seketika di tempat kejadian.

Atas perbuatannya, Iwan segera ditahan pihak kepolsian. Bos perusahaan cat itu dinilai melanggar Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 351 ayat 3 tetang penganiayaan yang berakibat kematian dengan ancam hukuman 15 tahun penjara.

Sampai kini kasus hukum itu tak kunjung diproses di pengadilan. Ayah Eko, Suharto juga telah menunjuk LBH Mega Bintang sebagai kuasa hukum dalam mengawal kasus tersebut.

Berdasarkan penjelasan pihak LBH Mega Bintang, berkas kasus itu saat ini masih diteliti pihak Kejaksaan. “Berkas saat ini masih diteliti di Kejaksaan,” kata pengacara LBH Mega Bintang, Arsy Nuur M. Y., saat ditemui di kantornya di kawasan Pasar Kliwon, Solo, Rabu (10/10/2018).

Menurut Arsy, bulan lalu tepatnya pada 10 September 2018 pihak Kejaksaan mengembalikan berkas kasus itu ke Kepolisian Resor Kota (Polresta) Surakarta. Kala itu berkas dari polisi dinilai belum lengkap. Setelah dilengkapi, berkas itu diserahkan kembali ke Kejaksaan, dan kini masih dalam tahap penelitian.

BACA JUGA  OPM Bantai Pekerja Proyek, Komisi III DPR Pertanyakan Kinerja BIN

Arsy bersama enam pengacara LBH Mega Bintang yang ditunjuk untuk menangani kasus itu, meminta Kejaksaan untuk menerapkan Pasal 340 KUHP, tentang pembunuhan berencana. Pasal yang disangkakan Kepolisian kepada Iwan, yaitu Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang berakibat kematian dengan ancam hukuman 15 tahun penjara, tidak layak.

“Dari kami, lawyernya Pak Harto, tetap minta pasal 340 dan akan kami perjuangkan. Karena memang pelaku telah terindikasi melakukan perencanaannya itu sangat patut diduga, terencana walaupun dengan durasi perencanaan yang singkat,” ungkapnya.

“Kami akan terus konfirmasi pasal mana yang telah ditetapkan. Kami mengambil pasal 340 itu karena dari rekonstruksi itu sudah jelas,” imbuhnya.

Suharto, ayah Eko Prasetio, turut menyimak penjelasan Arsy Nuur tersebut. Yang terlihat diwajahnya hanyalah tatapan kosong. “Intinya kami ingin keadilan, kami ingin pelaku dihukum semaksimal mungkin,” ujar Suharto menimpali penjelasan pihak LBH Mega Bintang.

Dalam kasus kematian anaknya, Suharto tak menginginkan penyelesaian dalam bentuk lain. Dia berharap proses hukum berjalan dengan semestinya dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal.

“Saya tidak meminta uang, maka saya minta pelaku dihukum semaksimal mungkin, syukur-syukur seumur hidup,” tandas Suharto.

Reporter: Reno Aldi
Editor: Imam S.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga