Kritisi Program Pemulangan Rohingya, PBB: Kondisi Rakhine Belum Aman

Foto: Pengungsi Rohingya

KIBLAT.NET, Rakhine- Besok Kamis, 15 November 2018 pemulangan pengungsi Rohingya di Bangladesh akan dimulai. Namun, kesepakatan antara Bangladesh-Myanmar itu mendapat kritikan dari PBB.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Filippo Grandi mengingatkan agar pemulangan ini dilakukan tanpa paksaan. Karena menurutnya, kondisi Rakhine saat ini belum tepat untuk dihuni kembali oleh etnis Muslim Rohingya.

Filippo Grandi menekankan, bagi pengungsi yang akan dipulangkan harus dipastikan bahwa mereka mengetahui kondisi daerah asalnya saat ini. Sehingga dalam proses pemulangan ini tidak ada kebohongan atau informasi yang ditutup-tutupi.

“Cara terbaik untuk memberi pengetahuan tentang daerah asal mereka kepada pengunsi Rohingya di Bangladesh adalah memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat langsung kondisi di Myanmar,” ungkapnya seperti dikutip dari Independent, Selasa (13/11/2018).

Selain itu, PBB juga meminta agar sebelum dipulangkan, pengungsi Rohingya harus memiliki hak untuk memilih apakah mereka akan kembali atau tidak. Sehingga keputusan pulang benar-benar berada di tangan pengungsi Rohingya.

“Tanggung jawab untuk memperbaiki kondisi itu ada pada Myanmar. Meskipun UNHCR tidak percaya kondisi saat ini di negara Rakhine kondusif bagi pengungsi yang sukarela, aman, bermartabat, dan berkelanjutan dari Bangladesh, kami tetap berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah Myanmar untuk menciptakan kondisi seperti itu, di bawah ketentuan nota kesepemahaman (MoU) yang ditandatangani oleh UNHCR, UNDP (United Nations Development Program) dan pihak berwenang Myanmar pada bulan Juni,” tukas Grandi.

BACA JUGA  Myanmar Gunakan Taktik Baru untuk Usir Muslim Rohingya

Sumber: The Independent
Redaktur: Syafei Irman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Nasib Uighur di Balik Jeruji Nasionalisme

Suara Pembaca - Senin, 24/12/2018 12:43