Pengungsi Rohingya Syok Dengar Kabar Akan Dipulangkan

Foto: Anak-anak perempuan pengungsi Rohingya di kamp Jamtoli, Bangladesh (Clodagh Kilocyne/Reuters)

KIBLAT.NET, Cox’s Bazar- Agustus 2017 lalu, di tengah hiruk-pikuk jeritan, asap dan suara tembakan, Abdul bersama anak dan isterinya berusaha melarikan diri dari serangan militer Myanmar. Tak sedikit orang-orang di desanya yang tewas akibat timah panas militer Myanmar, termasuk keponakan dan menantunya.

Saat itu, rasa takut seakan mengejar-ngejar Abdul (bukan nama asli). Ia besama isteri dan empat anaknya berhasil menyeberang ke Bangladesh bersama ratusan ribu etnis Rohingya lainnya.

Satu tahun lebih ia mengungsi di Bangladesh. Meski hidup dalam kondisi sulit, setidaknya ia merasa aman dari jangkaun tentara yang telah melakukan kejahatan genosida, menurut penyelidik PBB.

Namun rasa takut itu kembali datang, ketika seorang petugas keamanan menyambangi gubuknya di kamp pengungsian Jamtolo, Cox’s Bazar. Petugas itu mengatakan bahwa ia dan keluarganya akan dipulangkan pekan ini.

“Kami kaget, saya tidak bisa berkata apa-apa, mulut saya tak mampu berkata apa-apa,” katanya kepada Al Jazeera.

Hasil kesepakatan Bangladesh-Myanmar itu membuat banyak pengungsi gelisah. Kesepakatan repratiasi yang akan dimulai pada Kamis, 15 November 2018 besok. Kabar itu menjadi hal yang paling menakutkan sejak mereka melarikan diri dari kampung halamannya.

Begitu pula yang dirasakan oleh Nurul Amin (35 tahun), salah-satu pengungsi Muslim Rohingya di kamp pengungsian Jamtoli. Sejak namanya muncul sebagai calon pengungsi yang akan dipulangkan, Amin mengaku tak bisa tidur dan makan.

BACA JUGA  Peneliti Jerman Ungkap Jumlah Uighur di Kamp Konsentrasi Cina

“Saya hampir tidak tidur semalaman karena takut dipulangkan secara paksa. Sejak saya mendengar bahwa saya terdaftar, saya tidak bisa makan,” ungkap pria yang memiliki empat anak perempuan, seorang istri dan saudari perempuan.

Reuters telah mewawancarai duapuluh dari dua ribu pengungsi Rohingya yang namanya terdaftar untuk dipulangkan ke Myanmar. Meski Bangladesh menjanjikan tidak ada paksaan, semuanya mengaku ketakutan untuk kembali ke negara asalnya.

Lebih dari 2.200 orang akan dipulangkan pada Kamis besok. Sedangkan kesepakatan Bangladesh dan Myanmar akhir Oktober lalu jumlah pengungsi yang akan dipulangkan mencapai 5.000 orang. Meski pejabat Bangladesh mengatakan bahwa pemulangan bersifat sukarela tetapi pengungsi Rohingya tidak yakin.

Sejak Agustus 2017, lebih dari 730.000 orang melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar, dibantu oleh kelompok Buddha, menyerang desa-desa penduduk Rohingya. PBB menuduh bahwa Myanmar telah melakukan aksi genosida namun Myanmar mengklaim bahwa tindakan itu adalah operasi kontraterorisme.

Sumber: Reuters, Aljazeera
Redaktur: Syafei Irman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Awas!!! Sifat Lalai Bisa Menyeretmu ke Api Neraka

Tarbiyah Jihadiyah - Ahad, 27/01/2019 20:29