Pemulangan Pengungsi Rohingya Diundur?

Foto: Anak-anak perempuan pengungsi Rohingya di kamp Jamtoli, Bangladesh (Clodagh Kilocyne/Reuters)

KIBLAT.NET, Cox’s Bazar- Ada kesimpangsiuran tentang rencana pemulangan pengungsi Rohingya di Bangladesh. Bila mengacu pada kesepakatan bilateral antara Myanmar dan Bangladesh bulan lalu, proses repratiasi ini akan dimulai pada Kamis (15/11/2018).

Langkah tersebut jelas ditentang oleh Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dan empatpuluh lebih lembaga kemanusiaan yang khawatir tentang keamanan etnis minoritas itu. Pengungsi Rohingya sendiri mengaku ketakutan dengan rencana pemulangan.

Namun kantor berita Reuters mengeluarkan laporan berdasarkan sumber anonim dari Bangladesh bahwa rencana pemulangan itu diundur. Meski demikian, baik Bangladesh maupun Myanmar belum mengkonfirmasi kabar tersebut.

“Rencana itu tidak dilakukan besok (Kamis), karena tidak ada yang ingin pulang,” kata Reuters mengutip sumber anonim. Rencananya, pada gelombang pertama sekitar 2.260 pengungsi dari 485 keluarga akan dipulangkan pada Kamis ini.

Sementara itu, The Washington Post juga mengeluarkan laporan serupa. Dalam laporannya disebutkan bahwa pada Rabu kemarin, Komisaris Pengungsi, Repatriasi, dan Rehabilitasi, Abul Kalam menyatakan bahwa pada Kamis akan dilakukan serah terima 30 keluarga pengungsi di perbatasan Ghumdhum yang tidak jauh dari kamp pengungsi Cox’s Bazar. Namun pada Rabu malam, informasi bahwa pemulangan diundur mulai beredar.

Kalam mengatakan bahwa pada Rabu malam, PBB datang menemuinya dan memberikan laporan hasil diskusi dengan pengungsi yang ada di daftar repatriasi. Dalam laporan tersebut, PBB tidak ingin pemerintah Bangladesh memulangkan pengungsi Rohingya dalam situasi saat ini.

BACA JUGA  Tiga Kapal Perang Cina Merapat ke Kamboja

Pada Ahad lalu, pemerintah Myanmar mengatakan siap untuk menyambut pengungsi yang kembali. Dijelaskan bahwa pengungsi Rohingya yang dipulangkan akan tinggal di kamp-kamp repatriasi selama dua hari, mereka akan menerima makanan dan pakaian sebelum pindah ke kamp-kamp transit. Myanmar juga mengatakan bahwa Cina, India dan Jepang memberikan bantuan yang diperlukan untuk proses pemulangan.

Sedangkan, Ketua Tim Pencari Fakta PBB untuk kasus genosida Rohingya, Marzuki Darusman menolak keras rencana pemulangan tersebut. Baginya, rencana pemulangan ini akan dilakukan bila Myanmar berjanji memberikan status kewarganegaraan bagi pengungsi Rohingya. Ia menegaskan, repatriasi tersebut bukan hanya tidak memenuhi syarat minimal, namun benar-benar tidak memenuhi syarat.

Sumber: Reuters, The Washington Post
Redaktur: Syafei Irman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga