Kunci Kesuksesan Itu Bernama Sabar

Sabar Terhadap Sesuatu yang Disukai

Berdasarkan objeknya, secara garis besar sabar terbagi menjadi dua. Sabar terhadap sesuatu yang disukai dan sabar terhadap sesuatu yang dibenci. Sabar terhadap sesuatu yang disukai jauh lebih sulit daripada sabar terhadap apa yang dibenci/tidak disukai hati. Maka dari itu sahabat Abdurrahman bin ‘Auf pernah mengatakan:

Kami mampu bersabar tatkala diuji dengan kesempitan. Namun kami tidak mampu bersabar tatkala diuji dengan kelapangan.”

Maka Allah ta’ala pun mewanti-wanti kaum muslimin,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghabun: 14)

Dr. Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah menyebutkan ada empat perkara yang harus kita perhatikan pada sebuah kenikmatan yang diinginkan oleh hati, yaitu:

  1. Tidak cenderung kepadanya.
  2. Tidak terlalu bernafsu dalam mengumpulkannya, meskipun yang dikumpulkan tergolong hal yang mubah. Seperti harta dan makanan.
  3. Menjaga dan memelihara hak-hak Allah yang ada padanya.
  4. Menjauhi yang haram selama mencarinya.

Maka sekali lagi, sabar terhadap sesuatu yang kita sukai jauh lebih sukar dari sabar menghadapi musibah. Ketika mengingat akan segala nikmat yang telah kita peroleh, kita harus bersabar atasnya, yakni tidak lalai dari mengingat Allah karenanya, tidak cenderung kepadanya, dan tidak memandang remeh orang lain karenanya.

BACA JUGA  Muslim United Murni untuk Persatuan Umat Islam

Sabar Terhadap Sesuatu yang Dibenci

Lalu sabar yang kedua adalah sabar terhadap sesuatu yang dibenci. Dr. Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah membagi sabar yang kedua ini dalam tiga bagian:

  1. Sabar ikhtiyari.
  2. Sabar qahri.
  3. Sabar ikhtiyari pada awal mulanya, dan menjadi qahri pada akhirnya, dikarenakan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan tersebut ternyata berat dirasa sehingga seseorang menjadi terpaksa menjalani konsekuensi tersebut.

Sabar ikhtiyari merupakan sabar yang merupakan sebuah pilihan, di mana seseorang mempunyai kebebasan untuk memilih antara bersabar dan tidak. Sabar ikhtiyari terjadi ketika seseorang dihadapkan pada perintah dan larangan Allah, dia dapat memilih untuk bersabar ketika menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya, atau dia dapat memilih untuk tidak bersabar dan bermaksiat kepada Allah.

Sabar ikhtiyari dicontohkan dengan baik oleh Yusuf ‘alaihissalam ketika digoda oleh istri tuannya, kisah ini diabadikan dalam surat Yusuf ayat 23:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

BACA JUGA  Panitia: Tagar Lengserkan Jokowi di BC Muslim United Bukan dari Kami

Mari kita renungkan, betapa luar biasanya Yusuf ‘alaihissalam yang ketika itu masih muda, perjaka, dan tentu saja beliau orang asing sehingga jikalau melakukan keburukan tidak akan ada nama keluarga yang khawatir tercoreng, namun beliau memilih untuk bersabar dan takut kepada Allah ‘azza wa jalla.

Adapun sabar qahri merupakan kesabaran dalam menghadapi musibah yang mesti dihadapi, yang manusia tidak bisa menolaknya dan tidak mempunyai pilihan selain bersabar menghadapinya. Seperti ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, tidak ada pilihan bagi beliau selain bersabar menunggu pertolongan.

Namun sabar qahri ternyata mempunyai beberapa tingkatan, dalam artian ekspresi kepasrahan seseorang ketika tertimpa musibah ternyata berbeda-beda. Bagi manusia yang lemah akal dan lemah iman, dia hanya menangis, mengeluh, dan mengemis bantuan kepada manusia lainnya. Adapun bagi manusia yang mempunyai cukup keimanan, mereka akan menahan diri untuk mengeluh kepada manusia meskipun terkadang masih timbul rasa tidak puas terhadap takdir Allah yang sedang menimpanya. Sedangkan tingkatan yang tertinggi adalah orang-orang ridha terhadap segala ketentuan Allah yang menghampiri dirinya, mereka senantiasa memenuhi waktunya dengan khusnudzon terhadap Rabbul alamin dalam segala kondisi.

Penulis: Rusydan Abdul Hadi

1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Muslim United Murni untuk Persatuan Umat Islam

Indonesia - Senin, 07/10/2019 16:47