Perang Hunain dan Debat Media Tentang Jumlah Peserta 212

Foto: Reuni 212 di Monumen Nasional (Monas), Ahad (02/12/2108)

KIBLAT.NET – Reuni 212 pada hari Ahad (02/12/2018) disebut-sebut pesertanya lebih banyak daripada Aksi Bela Islam 212 dua tahun lalu. Beberapa media bahkan memberitakan tentang asumsi berapa jumlah peserta aksi sebenarnya. Metode penghitungannya pun beragam, seperti menghitung dengan teori Herbert Jacobs atau melakukan estimasi penghitungan sederhana lewat situs www.mapdevelopers.com.

Saling klaim asumsi yang benar tentang jumlah peserta lazim dilakukan berbagai media arus utama, yang sedang digambarkan melakukan bunuh diri massal lantaran banyaknya pemilik media mainstream menjadi pendukung paslon petahana yang jelas merasa tersudut karena memahami reuni 212 sebagai bagian unjuk gigi paslon pesaing yang juga hadir didalam acara reuni tersebut.

Entah benar atau tidak cara menghitungnya, setidaknya media menyuguhkan perasaan lega terhadap dirinya dan pihak yang didukung, bahwa jumlah kehadiran peserta reuni 212 tak sebanyak yang digembar-gemborkan.

Jangan Berbangga terhadap jumlah

Salah jika seorang muslim yang meniatkan diri untuk mencari keridhaan Allah dengan ikut dalam kafilah Aksi Bela Tauhid bertajuk Reuni 212 kemudian turun moral setelah mengetahui jumlah peserta yang melebihi pemberitaan media mainstream. Justru kita perlu mengingat kembali kejadian yang menimpa para sahabat dalam perang Hunain setelah Fathu Makkah.

Jumlah pasukan muslimin saat itu 12 ribu personel, jumlah yang spektakuler. Melihat jumlah pasukan yang banyak saat itu, ada seseoranng yang berkomentar, “Kita tidak akan kalah hari ini karena kekurangan pasukan.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar dengan kenyataan tersebut, maka beliau pun segera bermunajat kepada Allâh Azza wa Jalla selepas shalat Shubuh dan berdoa:

“Ya Allah Azza wa Jalla, dengan (kekuatan)-Mu aku berjuang, dengan (kekuasaan)-Mu aku melawan, dan dengan (pertolongan)-Mu aku berperang.”

Sahabat Suhaib ar-Rumi radhiyallahuanhu bertanya, “Wahai Rasulullah, baru saja kami melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan sebelumnya. Apakah gerangan yang kau baca?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya ada seorang nabi dari umat sebelum kalian yang merasa kagum dengan banyaknya jumlah umatnya. Nabi tadi sempat berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang dapat melawan mereka,’ maka Allâh mewahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya kebaikan umatmu terletak pada salah satu dari tiga hal, yaitu ketika Kami menguasakan mereka kepada musuh dari selain mereka, lalu musuh tersebut membantai mereka, atau Kami jadikan mereka kelaparan, atau Kami utus kematian kepada mereka.’ Setelah mendapat wahyu tersebut, sang nabi bermusyawarah dengan kaumnya, lalu kata mereka, ‘Kalau menghadapi musuh, maka kita tidak punya kekuatan. Sedangkan menghadapi kelaparan kita pun tak cukup sabar. Jadi, biarlah kita mati saja.’ Akhirnya Allâh mengirim kematian yang menewaskan 70 ribu orang dari mereka dalam tiga hari. Itulah sebabnya mengapa aku mengucapkan doa tersebut hari ini,”(HR Ad-Darimi).

BACA JUGA  Isu Bom Rakitan Di Reuni 212, Ini Klarifikasi Panitia

Dalam perang Hunain, diriwayatkan pasukan musuh yang dipimpin oleh Malik bin ‘Auf jumlahnya dua kali lipat atau lebih dari jumlah pasukan Islam. Ia juga melakukan serangkaian persiapan baik mental maupun material guna menaikkan semangat tempur pasukannya. Salah satunya ialah dengan berpidato dan mengatakan: “Muhammad belum pernah menghadapi pertempuran yang sesungguhnya sebelum kali ini. Selama ini ia hanya menghadapi orang-orang yang tak berpengalaman sehingga menang melawan mereka”.

Menjelang terbit fajar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memompa semangat perang kaum Muslimin dan membagi-bagikan panji serta komando. Kaum Muslimin pun mulai bergerak menuruni lembah, tapi tiba-tiba mereka dikejutkan oleh hujan panah kaum musyrikin dari kanan-kiri lembah. Mereka kaget dengan serangan serempak pihak musuh, hingga pasukan kaum Muslimin lari tercerai-berai meninggalkan lembah.

Namun Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyisihkan dirinya bersama sejumlah kaum Muhajirin dan Anshar ke arah kanan sambil berseru, “Wahai pasukan, kemarilah. Aku Rasûlullâh ! Aku Muhammad bin Abdillah!”

Menurut riwayat yang paling shahih, saat itu yang bersama Nabi hanya sekitar 80 orang. Di antara yang tetap bersama beliau adalah: Abu Bakar, Umar, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdil-Muththalib dan al- Fadhl puteranya, Abu Sufyan ibnul-Harits dan Ja’far puteranya, Rabi’ah ibnul-Harits, Usamah bin Zaid, dan Aiman bin ‘Ubaid.

Ketika itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan keberaniannya dengan segera memacu bighal-nya ke depan seraya berseru, “Aku Adalah Nabi yang tidak berdusta, akulah putera Abdul-Muththalib!”

BACA JUGA  Siapakah yang Bermain-main di Atas Darah Anak-anak Yaman?

Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh ‘Abbas bin Abdil-Muththalib yang bersuara lantang agar memanggil para sahabat yang berbaiat di bawah pohon (ahli Hudaibiyah), ‘Abbas pun berseru sekuat tenaga, “Dimanakah mereka yang berbaiat di bawah pohon Samurah?”

Mendengar seruan itu, mereka seakan tergerak seperti induk sapi yang mendengar teriakan anaknya. Mereka sontak menjawab: “Yaa Labbaika… yaa labbaika!”

“Lawanlah orang-orang kafir itu!” seru ‘Abbas.

Demikian pula dengan kaum Anshar yang juga dipanggil agar kembali: “Yaa aa’syaral-Anshaar!”, wahai sekalian kaum Anshar.

Lalu ‘Abbas mengkhususkan panggilan tersebut kepada Bani Harits ibnul-Khazraj dari suku Anshar. Sedangkan Rasulullah tetap duduk tegap di atas bighal-nya. Sambil menyaksikan mereka berperang, beliau berkata, “Inilah saatnya peperangan memanas!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memungut beberapa butir kerikil, lalu melemparkannya ke arah orang-orang kafir sembari berkata, “Kalahlah kalian, demi Rabb-nya Muhammad”.

Tak lama setelah beliau melemparkan kerikil-kerikil tadi, nampaklah satu persatu dari pasukan musuh mulai kecapaian dan kalah.

Kemenangan tidak pada jumlah

Belajar dari peristiwa Hunain di atas, hendaknya kaum muslimin mengingat 2 ayat berikut:

“Sesungguhnya Allah telah menolongmu di tempat tempat yang banyak dan di hari perang Hunain. Ingatlah di saat itu kalian merasa ujub dengan jumlah yang banyak, padahal jumlah yang banyak itu tidak bermanfaat sedikitpun untuk kalian dan menjadi sempitlah bumi yang luas itu bagi kalian dan kalianpun lari ke belakang” (Surah At Taubah ayat 25).

“…Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Surah Al Baqarah ayat 249)

Inti dari Reuni 212

Banyaknya kaum muslimin hadir di Reuni 212 adalah indikator kaum muslimin mulai sadar tentang identitas, bahwa kaum muslimin mulai sadar mereka dirusak secara sistemik, dan kaum muslimin mulai sadar perlu untuk bersatu dalam menghadapinya.

Penulis: Achmad Riza (Kabid Dakwah dan Pengkajian Agama PDPM Surakarta)

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Zoom In : Sendiri Dalam Keramaian Reuni 212

Video News - Jum'at, 14/12/2018 15:54

Ada Ibroh di Balik Reuni Akbar 212

Suara Pembaca - Jum'at, 14/12/2018 11:15

Akhir Hayat Idris dalam Pelukan Bendera Tauhid

Indonesia - Rabu, 12/12/2018 14:36