Amanah Terhadap Harta Umat

Foto: Harta Umat

KIBLAT.NET – Umat Islam bagaikan satu tubuh. Ini tertuang dalam sabda Nabi

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Bencana yang bertubi-tubi menghantam negeri membuat rumah porak-poranda dan nyawa melayang. Isak tangis sana sini menghempas kesunyian dan membuat mata sembab dan hati trenyuh.

Tak menunggu lama, bantuan pun mengalir dari segala penjuru. Sesuai yang termaktub dalam hadits di atas bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh. Kesadaran bahwa jika “satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam” sudah terpatri dalam hati.

Penggalangan dana pun digelar dimana-mana. Semua orang berlomba untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Sungguh suatu pemandangan yang menyejukkan memang, saling mengulurkan tangan karena rasa persaudaraan yang berlandaskan iman.

Maka, sudah sepantasnya bagi mereka yang telah diamanahi untuk menyalurkan bantuan haruslah mampu mengemban amanah. Selain untuk menjaga kepercayaan dari para muhsinin, amanah juga sifat Rasulullah yang harus diteladani umatnya. Amanah juga menjadi tanda bagi orang yang dijauhkan dari sifat kemunafikan. Karena salah satu tanda kemunafikan adalah jika diberi amanah, dia berkhianat.

Potret Salaf dalam Mengemban Amanah

Siapa yang tak kenal Umar bin Abdul Aziz? Seorang khalifah Bani Ummayah yang dijuluki sebagai khulafaurrasyidin kelima ini memberikan teladan mulia di setiap episode kehidupannya. Ia dikenal sebagai tokoh yang sangat berhati-hati dalam masalah memanfaatkan harta umat Islam.

BACA JUGA  Kemenag Tetapkan Idul Fitri Jatuh Hari Rabu

Salah satu kisah yang ditulis oleh Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Ashr Ad-Daulatain : Al-Umawiyah wa Al-Abbasiyah wa Zhuhur Khawarij adalah ketika masuk dalam pembahasan masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Umar menyukai madu dan senang menjadikannya sebagai campuran makanan. Pada suatu hari, dia meminta madu dari keluarganya,dan mereka tidak memiliki madu sedikitpun. Selang beberapa saat, mereka membawa sedikit madu kepada Umar. Dia pun bertanya kepada istrinya,

“Dari mana kamu mendapatkan madu ini?”

Istrinya memberitahu padanya bahwa dia mengutus pelayan dengan membawa dua dinar dengan naik hewan yang dikhususkan untuk pengiriman surat (pos). Kemudian dia datang dengan membawa madu.

Lantas, umar meminta bejana berisi madu itu dibawa kepadanya. Dia mengambilnya dan menjualnya. Dia mengembalikan modal awal (dua dinar) kepada keluarganya dan memasukkan sisanya ke baitul mal. Lalu Umar berkata,

“Kalian menggunakan hewan milik kaum muslimin untuk keinginan Umar…”

Sekelumit kisah di atas memberikan banyak hikmah pada kita semua, betapa wara’nya seorang Umar terhadap harta kaum muslimin. Dia selalu memastikan bahwa harta dan fasilitas yang ia nikmati adalah kepunyaan pribadi. Sedang segala fasilitas milik kaum muslimin harus dipakai untuk kepentingan umum bukan kepentingan pribadi.

Harta Bantuan Kaum Muslimin

Begitu pula dengan bantuan yang dihimpun dari kaum muslimin. Apapun itu, segala bantuan yang dihimpun untuk penanggulangan bencana, aksi solidaritas, membantu dhuafa, bantuan perobatan bagi orang yang tidak mampu dan sebagainya haruslah digelontorkan di tempat yang semestinya dan sesuai amanah dari pemilik harta.

Apa yang dicontohkan di atas adalah dalam skala besar yang artinya langsung bersinggungan dengan bantuan yang diberikan. Dalam skala kecil adalah apa yang dicontohkan oleh Umar dalam kisahnya di atas. Bagaimana sikap Umar ketika madu yang diberikan padanya ternyata dibeli dengan kendaraan hewan yang seharusnya digunakan untuk mengirim surat.

BACA JUGA  Seorang Pria Ledakkan 'Bom Bunuh Diri' di Depan Pos Polisi Kartasura

Amirul Mukminin merasa bahwa itu bukanlah pada tempatnya jika kepentingan pribadinya dipenuhi dengan memanfaatkan fasilitas milik kaum muslimin. Sebagaimana di dalam penggalangan dana umat Islam. Orang-orang yang bersinggungan dalam dunia ini seharusnya orang yang memang mampu bersikap wara’ dalam hal sekecil apapun. Karena apa yang dia pakai, yang dia pegang adalah fasilitas milik umat. Para pengemban amanah ini harus mampu memilah mana kepentingan pribadi yang dipenuhi dengan kepunyaan pribadi dan mana kepentingan umat Islam yang harus dipenuhi dengan fasilitas milik kaum muslimin.

Baik dalam skala kecil atau skala besar, haruslah mampu menjaga diri. Penggalangan dana untuk kaum muslimin adalah tindakan terpuji, berpahala dan tentunya manfaatnya langsung bisa dirasakan oleh yang bersangkutan.  Penggalangan dana ini membuktikan bahwa umat Islam memang satu tubuh dan saling menyokong satu sama lain. Di samping manfaatnya yang besar, ada sisi lain yang dapat membuat kita bertambah amalan dan pahala dengan menyampaikan amanah sebagaimana mestinya.

Jadi, selain penggalangan dana membantu orang yang kesusahan, mempermudah para muhsinin untuk beramal, juga membuat para penggalang dana memperoleh pahala yang besar dengan menyampaikan amanah tepat pada yang berhak dan bersikap wara’ terhadap harta dan fasilitas yang bukan haknya. Membekali diri dengan ilmu adalah modal dasar bagi para pengemban amanah, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khattab tidak mengizinkan para pedagang yang tidak menguasai ilmu fiqih berjualan di pasar.  Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani_El-Ashimi
Editor: Arju

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Abu Qotadah Al-Filastini: Kemewahan Adalah Musuh Jihad

Tarbiyah Jihadiyah - Sabtu, 01/06/2019 14:49

Mengenal Masyarakat Jahiliyah Bersama Sayyid Quthb

Tarbiyah Jihadiyah - Kamis, 25/04/2019 23:20

Selalu Menjaga Keikhlasan dalam Amal Islami

Tarbiyah Jihadiyah - Rabu, 27/03/2019 10:59