Syamil Salmanovich Basayev, Generasi Imam Syamil Abad Ini (2/2)

Juga telah diketahui bahwa Rusia telah menyebar mata-mata di Chechnya dan membuat sebuah ledakan bunuh diri di ibukota Rusia, Moskow. Peledakan itu terjadi pada 14 September 1999 di sebuah apartemen di jantung Rusia. Bom itu memang sengaja dibuat untuk melegalkan serangan kedua yang akan dilancarkan Rusia ke Chechnya.

Jadi, gerak cepat yang dilakukan dua bersaudara dalam iman ini dengan menyerang Daghestan adalah langkah yang tepat. Karena menyerang Daghestan atau tidak, Rusia tetap akan memulai invasi ke Chechnya untuk kedua kalinya. Dalih yang dipakai pihak Rusia untuk menyerang Chechnya adalah memerangi terorisme. Padahal Rusia sendiri yang sebenarnya teroris, menyerang sebuah negara dengan menghalalkan segala cara.

Jihad Chechnya Kedua

Pada bulan Ramadhan 1418 H mujahidin dipimpin oleh Khattab dan Syamil Basayev melancarkan operasi besar atas basis militer Rusia terbesar di Daghestan. Mereka melakukan operasi militer dengan menghancurkan wilayah Daghestan. Peristiwa ini mendorong pemerintah setempat melakukan tekanan terhadap aktivis dakwah dan menangkap para pemimpinnya, hingga sebagian terpaksa mengungsi keluar negeri.

Mujahidin meminta bantuan dan akhirnya bantuan pun datang. Polisi Daghestan bercerai berai dan meminta bantuan kepada tentara Rusia hingga mereka datang dengan kekuatan besar ke kota dan mengepungnya.

Mereka menyerbu dengan pesawat tempur dan roket. Maka, para mujahidin meminta bantuan pada saudara-saudara mereka di Chechnya yang akhirnya mereka masuk melalui provinsi Butlek dan berhasil menguasai tiga distrik dan pangkalan militer. Rangkaian peristiwa itu terjadi sangat cepat dan pasukan Rusia mengerahkan berbagai senjata berat dan ringan mereka untuk menghadapi mujahidin.

Pada tahun 1999, Syamil menetap di Grozny untuk menghadapi pasukan Rusia yang bisa dipastikan akan melakukan invasi kembali. Di tahun yang sama, ia beserta Khattab menyempatkan diri pergi ke Kandahar untuk bertemu syaikh Usamah bin Ladin. Kerja sama terjalin untuk saling membantu dalam perjuangan. Hal inilah yang ditakutkan musuh-musuh Islam, bersatunya kaum muslimin akan menambah kesolidan dan tentunya makin sulit dikalahkan.

Pada tahun 2000, Syamil kehilangan kakinya karena menginjak ranjau darat. Dirinya pun terdesak dan semakin diburu oleh tentara Rusia. Perang gerilya pun dimulai dari tempat persembunyian di hutan dan gunung. Pencarian Syamil sebagai komandan mujahidin terus digencarkan Rusia bahkan dengan tawaran hadiah satu juta dolar pada Juni 2001.

Syamil kehilangan kaki kanannya

Syamil kehilangan kaki kanannya

Satu bulan kemudian pada bulan Agustus 2001, Syamil mengerahkan pasukannya untuk menyerang besar-besaran di Vadensky. Untuk melemahkan perjuangan Syamil, Rusia mengubah caranya. Tahun 2002, tepatnya bulan Januari, pasukan Rusia secara sengaja membunuh ayah Syamil. Persis seperti yang  Rusia lakukan sebelumnya dengan menghabisi keluarga Syamil. Cara-cara seperti ini adalah untuk menghancurkan mental lawan. Ketika mereka kesulitan menargetkan lawan aslinya, maka orang-orang terdekatnyalah yang menjadi sasaran.

BACA JUGA  Mahathir Mohamad: Akar Penyebab Terorisme adalah Israel

Pada tahun ini pula, tepatnya 20 Maret 2002 jenderal Khattab syahid karena diracuni seorang pengkhianat. Lagi-lagi hal ini dilakukan untuk melemahkan gerilya para pejuang Checnya dengan menargetkan pimpinannya. Syamil terpaksa berpisah dengan saudaranya tercinta, Khattab yang telah mendahului syahid. Rusia terus memburu Syamil hingga bulan Mei 2002 tersebar berita komandan batalion Abkhaz ini syahid. Namun, itu hanyalah klaim Rusia semata, Syamil tetap segar bugar dan terus berjuang melawan kebatilan.

Jenazah jenderal Khattab saat dimasukkan ke kuburan

Jenazah jenderal Khattab saat dimasukkan ke kuburan

Perang gerilya terus berlanjut, beberapa operasi terus dilakukan Syamil walau banyak orang-orang terdekatnya telah syahid mendahuluinya. Kehilangan satu kaki bukanlah alasan untuk berhenti melangkah, justru hal itu membuat lari semaking kencang. Strategi perang gerilya memungkinkan para mujahidin menyerang Rusia kapan dan dimana saja. Beberapa operasi bom dilakukan mujahidin untuk melemahkan Rusia dan sekutunya, yaitu pemerintah Chechnya pro Rusia.

Salah satu operasi yang paling dikenang dunia internasional adalah penyanderaan sekolah di Beslan pada 1 September 2004. Syamil beserta batalionnya Riyadush Shalikhin menyandera 1100 orang selama tiga hari. Syamil bukanlah komandan yang gegabah dan tidak mungkin bertindak asal-asalan. Kita bisa menilai dari beberapa operasi penyanderaan yang terjadi sebelumnya dan operasi pembajakan pesawat yang membuat nama Syamil dikenal. Sasaran dan tujuan jelas dan tidak bertujuan melukai rakyat sipil. Syamil menuntut Rusia meninggalkan pengaruhnya di Chechnya dan membebaskan tawanan yang ada.

BACA JUGA  Muslim United Murni untuk Persatuan Umat Islam

Akan tetapi, Vladimir Putin selaku presiden Rusia menanggapi aksi ini dengan aksi militer berlebihan. Hingga publik bertanya-tanya mengapa  banyak sekali korban yang tewas dan apakah perundingan benar-benar telah dilakukan. Beberapa saksi mata menyebutkan bahwa tentara Rusia dengan alasan mendesak  menggunakan senjata berat,seperti panser dan senjata pelontar granat. Juga dikatakan aparat keamanan Rusia menembaki ruangan yang dijadikan tempat sandera.  Pada akhirnya dari 1100 sandera, 385 tewas entah karena terkena peluru dari senjata siapa. Keluarga korban yang meminta kejelasan dari pemerintah Rusia pun tidak dapat mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Pemerintah Rusia justru menggambarkan Syamil sebagai tokoh berdarah dingin yang membuat kematian ratusan anak-anak dalam tragedi pengepungan dan penyanderaan sebuah sekolah di Beslan. Kematian anak-anak sengaja di-blow up oleh Vladimir Putin untuk lebih mendramatisir ‘kekejaman’ brigade Riyadush Shalikhin. Padahal track record menyebutkan bahwa justru pemerintah Rusia yang berlumuran darah dalam perang Chechnya pertama. Dengan sengaja menargetkan rakyat sipil untuk melemahkan daya juang mujahidin.

Di tahun ini pula, mujahidin berhasil menjalankan operasi menewaskan presiden Chechnya pro Rusia, Akhmad Kadyrov pada 9 Mei 2004. Syamil menyebutnya sebagai operasi kecil tetapi kemenangan yang telak.

Manusia $10 juta dolar

Moskow menghargai nyawa Syamil dengan $10 juta. Mereka geram tidak mampu menangkap komandan yang telah kehilangan satu kakinya ini. Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan oleh TV ABC dalam program Nightline, Syamil menanggapi pertanyaan jurnalis Andrei Babitsky soal penyematan teroris kepadanya. Syamil mengatakan,

“Faktanya, lebih dari 40.000 anak kami tewas dan puluhan ribu dimutilasi. Apakah ada seseorang yang berkata sesuatu tentang ini? Ini adalah tanggung jawab bangsa Rusia dan selama ini hanya diam yang berarti mengiyakan kejadian itu.”

Media mainstream selalu memblow up apapun yang seolah menjadi kelemahan mujahidin, walaupun itu kejadian penuh rekayasa. Tetapi kejahatan kemanusiaan di depan mata mereka tidak pernah diangkat karena memang tidak sesuai dengan kepentingan. Itu faktanya dan ini masih sering terjadi di dunia media saat ini.

Baca halaman selanjutnya: Apakah penyematan harga $10...

Halaman Selanjutnya 1 2 3

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Chechnya Resmikan Masjid Terbesar di Eropa

Eropa - Sabtu, 24/08/2019 10:15

Syaikh Ali Belhaj, Tokoh Spiritual FIS Al-Jazair

Profil - Jum'at, 28/06/2019 14:38