Mencari Al-Mu’tashim Baru untuk Uighur

Foto: Anak-anak Uighur

KIBLAT.NET – Benar-benar seperti tubuh yang satu. Umat Islam Indonesia menggelar aksi solidaritas untuk Muslim Uighur yang digelar di sejumlah kota, Jumat (21/12). Rupanya, aksi tersebut juga dipantau oleh komunitas Uighur yang tinggal di berbagai negara.

Hampir bersamaan dengan pelaksanaan aksi tersebut, di media sosial beredar foto bocah-bocah Uighur berbaris rapi. Melalui secarik kertas putih, mereka mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih atas simpati dan dukungan kaum Muslimin Indonesia.

Wajah polos bocah-bocah itu menyiratkan cahaya kejujuran. Bahwa terima kasih yang mereka ucapkan tulus berasal dari lubuk hati terdalam. Ketika orangtua mereka direnggut paksa, masih ada sekelompok manusia berteriak lantang melawan kezaliman ini.

Perlu dicatat, menumbuhkan solidaritas untuk Uighur bukanlah perkara mudah. Membela Uighur berarti berhadapan dengan raksasa ekonomi yang hari ini mencengkeram kehidupan politik, hukum dan keamanan di banyak negara.

Banyak kepala negara memilih bisu. Sejumlah tokoh dan aktivis Islam di berbagai negara masih ragu, benarkah pemerintah Cina berlaku sedemikan bengis kepada etnis Uighur. Sebagian lagi masih terkungkung pola pikir konspirasi jadul, bahwa isu ini bikinan Amerika yang tak ingin disaingi Cina.

Di titik inilah, umat Islam Indonesia patut dibanggakan. Naluri kemanusiaan membuat mereka begitu sigap mendengar dan menjawab jeritan Muslim Uighur. Sehingga membentuk gelombang yang saling saut-menyaut dalam balutan iman, menerabas tembok nasionalisme dan sekat negara.

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Jika sikap dan aksi solidaritas ini terus dipupuk, bukan tidak mungkin akan menjelma sosok baru Al-Mu’thasim. Seorang khilafah yang kisah pembelaannya terhadap seorang Muslimah yang teraniaya, menjadi legenda sepanjang masa.

Tentu saja, Al-Mu’tashim bukan sosok kosong. Ada banyak PR besar yang harus segera dikejar agar persoalan Muslim Uighur ini tak berhenti hanya sebatas orasi dan poster semata. PR yang kompleks dan menguras tenaga, pikiran dan segalanya dari berbagai lapisan umat.

Sejarah Uighur dan kronologi nestapa yang mereka alami harus terus diperbincangkan dalam ruang-ruang publik. Sebab, masih banyak yang belum mengenal siapa mereka, dan mengapa mereka diperlakukan sedemikian zalim.

Perlawanan hukum dan tekanan politik juga harus terus dilakukan untuk menjebol benteng besar yang melindungi kebijakan tiran ini.Perlawanan ekonomi juga perlu terus dikaji untuk menemukan cara yang tepat, meski hari ini banyak yang pesimistis bisa hidup tanpa barang buatan Cina.

Lembaga kemanusiaan yang selama ini menjadi saluran kepedulian umat, harus mencari formula yang tepat. Agar saluran donasi umat menemukan sasaran yang benar-benar efektif untuk meringankan beban etnis Uighur di Cina.

Poster dan narasi penggalangan dana harus dibuat sejujur mungkin. Pertanyaan bagaimana mengirim bantuan sementara lokasi Muslim Uighur di Cina diisolasi begitu rapat, harus disiapkan jawabannya mulai dari sekarang.

Semua hal di atas, dan PR-PR lain yang belum disebut berkejaran dengan strategi dan kontra-narasi yang sedang dan sudah dibangun oleh rezim penindas Uighur. Jangan sampai keinginan menghadirkan Al-Mu’tashim baru dari Indonesia bagi Uighur, gagal karena tersalip siasat mereka.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Bagi Seorang Uighur, Puasa adalah Sebuah Kemewahan

Feature - Rabu, 08/05/2019 16:35