Poligami, Syariat Islam yang Dinodai

Foto: Ilustrasi. (Ilgiomale)

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S (Penulis Buku)

KIBLAT.NET – Permasalahan poligami tak pernah sepi diperbincangkan. Terlebih belakangan ini, kembali menjadi sorotan pasca Grace Natalie ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan sikapnya menolak poligami. Dalam pidatonya, Grace berjanji akan mengupayakan pelarangan poligami ┬ábagi pejabat publik di lembaga legislatif, ekskutif, dan yudikatif hingga aparatur sipil negara.

Komnas perempuan pun setali tiga uang, seolah turut merestui pernyataan Grace. Sebagaimana dinyatakan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Kiai Imam Nahei bahwa jelas praktik poligami merupakan tindakan kekerasan terhadap perempuan. Hal tersebut disimpulkan berdasarkan pengaduan yang masuk ke lembaganya.

Sungguh miris, poligami yang sejatinya merupakan ajaran Islam dianggap sebagai penyebab malapetaka bagi perempuan. Akhirnya muncul arus penolakan terhadapnya dan disuarakan dengan sumir. Padahal dalam pandangan syariat, hukum poligami adalah mubah. Artinya pilihan, boleh dilakukan boleh juga tidak. Lantas jika syariat memperbolehkannya, mengapa kita mengharamkannya?

Framing buruk tentang poligami sejatinya hanyalah alat untuk menikam ajaran Islam. Lebih-lebih, media sekular saat ini lebih banyak menggiring opini publik pada potret poligami yang membawa ekses negatif terhadap perempuan. Sementara potret keluarga poligami yang sakinah mawadah warahmah jarang di blow up.

Maka rasanya sangat nyata jika dalam sistem kehidupan sekuler hari ini, seolah-olah poligami sama hinanya dengan selingkuh. Atau lebih parah lagi, ada yang menganggap bahwa perselingkuhan jauh lebih baik daripada menduakan istri.

BACA JUGA  Jadi, Di Mana Salah UBN?

Padahal bagi setiap muslim yang beriman kepada kitabullah, sudah selayaknya menerima semua ajaran Islam, disuka atau pun tidak. Menolaknya apalagi menghujatnya merupakan sebuah kefasikan yang nyata. Dan sungguh penolakan terhadap ajaran Islam dapat mencederai akidah kita.

Alangkah berbahayanya jika kita menghukumi suatu perkara dengan akal dan perasaan semata. Sudah semestinya hanya Al-Quran dan As-sunnah saja yang menjadi patokan dalam menilai. Karena Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Dan sudah pasti bahwa di balik setiap perkara yang telah Allah tetapkan atasnya, ada kebaikan di dalamnya.

Sungguh, arus deras penolakan terhadap poligami merupakan bukti nyata bahwa negeri ini jauh dari pemahaman soal ajaran Islam yang kaffah. Umat seolah didesain untuk jauh dari pemikiran Islam sejauh-jauhnya, mulai perkara cabang hingga perkara akar. Maka alangkah penting bagi kita untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya inspirasi dalam setiap elemen kehidupan kita. Agar ajaran Islam tak melulu dinodai demi terwujudnya kehidupan yang diridhoi Allah.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

PSI Tolak Poligami, Jubir BPN: Itu Sudah Keterlaluan

Indonesia - Ahad, 31/03/2019 11:50