Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan, Kemenangan Jihadis?

Foto: Pasukan AS di Afghanistan.

KIBLAT.NET – Tanggal 19 Desember lalu Presiden AS Donald Trump mengumumkan sebuah kebijakan yang mengagetkan para pemerhati kebijakan luar negeri dunia bahwa Washington akan menarik pasukan AS dari Suriah, dan secara sepihak menyatakan kelompok ISIS atau Daulah al-Baghdadi sudah berhasil dikalahkan. Dua hari kemudian, tanggal 21 Desember kembali muncul laporan bahwa militer AS akan segera ditarik hampir setengah dari jumlah kekuatan mereka dari Afghanistan, dan kemungkinan sisanya akan mundur secara keseluruhan hingga akhir 2019.

Sebenarnya, bagi yang mengamati perkembangan kebijakan militer AS di Afghanistan secara cermat, keputusan Trump tersebut bukan lah sesuatu yang tiba-tiba, karena sejak Oktober sebelumnya sudah ada lampu kuning bahwa perintah penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan akan bisa datang sewaktu-waktu. Banyak yang menyambut gembira langkah AS tersebut mengingat lamanya konflik/perang yang sudah berlangsung lebih dari 17 tahun, besarnya biaya yang dihabiskan, serta ketidakmampuan pemerintah Afghanistan untuk mengelola negara secara mandiri tanpa bantuan pihak asing.

Bagi mereka yang melihat secara cermat detil dinamika konflik di Afghanistan, banyak kritik mengarah kepada pemangku kebijakan perang Amerika di Afghanistan, terutama retorika optimisme berlebihan yang kerap dibangun oleh para perwira militer Pentagon. Kita juga bisa dengan mudah menemukan titik kelemahan taktis maupun strategis perang Amerika di Afghanistan.

Konskuensi lain yang tidak mudah diterima bahkan akan lebih sulit untuk dihadapi selain sebuah “perang panjang yang tiada akhir” adalah kemenangan Mujahidin. Dan keputusan Trump menarik pasukan Amerika dari Afghanistan adalah untuk mengakhiri efek “perang tiada akhir” tersebut, namun Trump tidak menjamin akan mencegah munculnya efek lain, yaitu kemenangan pihak musuh.

Selama bertahun-tahun menghadapi perang melawan Amerika, Taliban dan al-Qaidah terus memotivasi para pendukungnya dengan konsisten menyatakan bahwa kemenangan sudah dekat. “Sungguh, Allah telah menjanjikan kita kemenangan, dan Amerika menjanjikan kita kekalahan, maka kita akan menyaksikan mana di antara dua janji tersebut yang akan terpenuhi,” kata mendiang Mullah Omar dalam satu kesempatan.

Yang terbaru, dalam berbagai narasi pemimpin al-Qaidah Syaikh Aiman adz-Dzawahiri menyatakan bahwa Pemerintahan Islam yang dipimpin Taliban di Afghanistan merupakan cikal bakal berdirinya sebuah Kekhilafahan Islam yang baru. Inilah di antara alasan penting pengganti Usamah bin Ladin, yaitu Dr. Aiman adz-Dzawahiri, berada di tengah-tengah medan jihad Afghan.

BACA JUGA  Hamzah Bin Ladin, Ikon Jihadis Milenial dan Masa Depan Al-Qaidah

Hal senada pernah diungkap oleh pemimpin al-Qaidah cabang anak benua India, AQIS (Al Qaeda in the Indian Subcontinent), yaitu Syaikh Asim Umar. Pada tahun 2017, Asim Umar memprediksi bahwa kebijakan “America First” yang sekaligus menjadi jargon kampanye Trump artinya adalah Amerika akan menarik diri alias mundur dari Afghanistan, sehingga dengan itu AS akan kehilangan posisi kepemimpinan global.

Hari ini, prediksi kedua pemimpin al-Qaidah itu seolah seperti “nubuwah” yang mulai terlihat indikasi kebenarannya. Penarikan mundur pasukan AS secara cepat akan memberikan Taliban dan al-Qaidah sebuah kemenangan. Sebagaimana para Mujahidin berhasil menundukkan sebuah negara superpower di Afghanistan sebelumnya, si beruang merah Uni Soviet, maka dalam waktu dekat mereka juga akan bisa mengumumkan berhasil mengalahkan superpower kedua.

Situasi “di atas angin” ini akan mendorong semakin bergairahnya gerakan jihadis di tahun-tahun yang akan datang. Kebijakan penarikan mundur pasukan AS oleh Trump ini juga akan melemahkan upaya negosiasi para diplomat Amerika dengan Pakistan yang selama ini sudah berada di posisi yang lemah. Meski tidak signifikan, eksistensi kelompok ISIS di Afghanistan yang belum bisa “dikalahkan” membuat posisi Washington terlihat semakin lemah.

Kemenangan bagi Taliban dan Al-Qaidah?

Sekali lagi, penarikan cepat pasukan AS dari Afghanistan akan memberi jalan bagi Taliban, kelompok insurjensi terkuat di dunia yang melindungi al-Qaidah sebelum dan sesudah serangan spektakuler 11 September 2001, menuju sebuah kemenangan yang nyata. Kemenangan Taliban berarti juga kemenangan bagi al-Qaidah yang hingga kini masih menjadi sekutu terkuat Taliban sejak invasi AS di akhir tahun 2001.

Adz-Dzawahiri sudah menyatakan sumpah setia (baiat) kepada Mullah Haibatullah Akhundzada, pemimpin Taliban saat ini, sebagaimana ia (adz-Dzawahiri) juga telah berbaiat kepada 2 pemimpin Taliban pendahulu Akhundzada. Deputi tertinggi Mullah Akhundzada, Sirajuddin Haqqani, sudah sejak lama menjalin kerjasama dengan al-Qaidah di berbagai medan tempur Afghan. Bahkan Sirajuddin Haqqani sendiri dan ayahnya, Jalaluddin Haqqani, adalah di antara orang pertama yang memberi jalan bagi al-Qaidah membangun basis di wilayah mereka.

BACA JUGA  Hamzah Bin Ladin, Ikon Jihadis Milenial dan Masa Depan Al-Qaidah

Ketika kematian Jalaluddin Haqqani diumumkan di awal September lalu, komando pusat al-Qaidah merilis eulogi berisi pujian untuk mengenang riwayat hidup Haqqani yang dikatakan sebagai “saudara” Usamah bin Ladin. Al-Qaidah menyebut Mullah Akhundzada dan Sirajuddin Haqqani sebagai “pemimpin kami di Imarah Islam” yang menunjukkan al-Qaidah masih setia kepada Taliban beserta proyek & misi-misinya. Secara khusus Sirajuddin disebut sebagai deputi Amirul Mukminin Imarah Islam Afghanistan. Istilah “Amirul Mukminin” ini sebenarnya merupakan sebutan kehormatan bagi seorang Khalifah. Dengan menggunakan istilah tersebut yang ditujukan kepada Akhundzada, menunjukkan betapa al-Qaidah secara konsisten setia dan hormat kepada pemimpin Taliban.

Kesetiaan dan sikap hormat al-qaidah tersebut ternyata bukan sebatas retorika. Berbagai laporan independen termasuk sejumlah analisa & penilaian para ahli mengkonfirmasi bahwa al-Qaidah mengirim agen-agen dan personil mereka sebagai instruktur & penasehat militer di dalam tubuh Taliban. Selain itu, al-Qaidah juga men-support Taliban dengan pasukan tempur yang terlatih. Atas sejumlah pertimbangan, AQIS kemudian dibentuk pada tahun 2014 yang pada dasarnya untuk membantu Taliban membangun kembali “negara” Imarah Islam. Sampai saat ini, anggota-anggota AQIS masih bekerja dan berkhidmat untuk Taliban.

Selama bertahun-tahun Al-Qaidah tidak mengekspos maupun mempublikasikan jaringan mereka di Afghanistan. Kelompok jihadis global ini bahkan tidak mengumbar foto-foto maupun video aktifitas di kamp-kamp pelatihan mereka yang tersebar masif di wilayah itu. Rupanya cara ini cukup efektif membuat sebagian analis berfikir bahwa al-Qaidah tidak banyak memiliki jaringan di Afghanistan. Selain itu, ada fenomena lain bahwa ada semacam industri yang memproduksi propaganda dan kampanye yang membela Taliban di Barat. Di antaranya, klaim bahwa aliansi antara Taliban dan al-Qaidah sudah tidak ada lagi, dan ini akan teruji kebenarannya dalam beberapa bulan ke depan.

Untuk itu, sebagian pihak berharap ketika pasukan AS nanti sudah meninggalkan Afghanistan, al-Qaidah mulai kembali merilis propaganda dengan mempublikasikan sebagian aktifitas mereka. Demikian juga, anak buah adz-Dzawahiri akan memanfaatkan momen kekalahan Amerika itu sebagai alat rekrutmen yang efektif, dengan menonjolkan narasi bahwa AS tidak mampu mengalahkan mereka.

Baca halaman selanjutnya: Melemahkan Posisi Negosiasi...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mengapa Terorisme Global Menurun?

Analisis - Kamis, 25/07/2019 12:32