Hati-hati, Politik Praktis ‘Membunuhmu’!

Foto: KH Ma'ruf Amin dalam video di Youtube berjudul Pendapat Ma'ruf Amin Mengenai Vonis Ahok

KIBLAT.NET – Cawapres nomor urut 1, KH. Ma’ruf Amin tiba-tiba membuat pernyataan yang mengejutkan umat Islam. Bagaimana tidak, ketika diwawancarai oleh Kemal Pahlevi di chanel youtube IDN Times, Kyai Ma’ruf mengungkapkan kekecewaannya ketika menjadi saksi Ahok terkait sikap keagamaan MUI.

Pengakuan ini meruntuhkan kepercayaan umat Islam bahwa Kyai seorang yang begitu peduli terhadap Islam. Sebab, ketika ia menjadi saksi saat itu, Kyai Ma’ruf tampak heroik. Duduk di kursi pesakitan selama tujuh jam di bawah cecaran pengacara Ahok dan tetap konsisten menyuarakan pendapat MUI bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thahadja Purnama telah melakukan penodaan agama.

Tentu, ucapan Kyai Ma’ruf menunjukkan inkonsistensi beliau dalam menyikapi kasus Ahok. Karena ketika ia menjabat sebagai ketua MUI, muncul pandangan keagamaan bahwa Ahok menista agama. Pun Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama (PBNU) juga mengeluarkan sikap yang sama, yaitu Ahok telah menistakan Al-Quran.

Pernyataan Kyai Ma’ruf tidak bisa dianggap pepesan kosong. Ini merupakan pernyataan serius, meskipun hanya pernyataan selaku pribadi beliau. Bukan atas nama lembaga apapun. Setidaknya, dengan penyesalan tersebut, secara tidak langsung dia menganggap Ahok tidak melakukan penistaan agama.

Dan ketika dianggap tidak menistakan agama, maka KH. Ma’ruf Amin tidak menerima atau meragukan dengan keputusan hakim yang berkekuatan tetap yang menyatakan Ahok telah melanggar pasal 156 A KUH Pidana tentang penodaan agama. Seharusnya, jika mengaku sebagai warga negara yang baik, ia menerima keputusan pengadilan itu sendiri.

BACA JUGA  Ada Aparat Hukum yang Dianggap Terlibat Teror Pimpinan KPK

Hal ini juga menegaskan bahwa Kyai telah mengesampingkan keberpihakannya terhadap agama demi politik praktis. Kesakralan ayat suci digadaikan dengan kewenangan atribusi. Dan yang melakukan ini adalah seorang Kyai. Kenapa penulis katakan keberpihakan terhadap agama dikesampingkan oleh Kyai? Karena meragukan putusan pengadilan yang menyatakan Ahok telah menista agama.

Seharusnya, Kyai tetap teguh dalam pendiriannya dalam menyikapi kasus Ahok. Karena kasus Ahok menyangkut hal yang prinsip yaitu agama. Dan agama harus diletakkan di tempat yang paling tinggi. Ayat suci harus di atas ayat konstitusi. Al-Quran yang mengatur negara, bukan sebaliknya.

Peristiwa ini pun pada akhirnya menunjukkan kotornya politik demokrasi. Bahwa keberpihakan terhadap agama harus dilunturkan demi mendulang suara. Suara siapa yang dicari Kyai Ma’ruf? Tentu suara Ahoker. Karena bagaimanapun, Ahoker tak akan lupa dengan peran Kyai Ma’ruf dalam mengantarkan Ahok ke jeruji besi.

Maka, sebenarnya sikap politik yang demikian ‘membunuh’ karakter pelakunya sendiri. Apresiasi dari umat Islam kepada Kyai ketika memimpin MUI tiba-tiba hilang dalam sesuatu yang mereka sebut pesta demokrasi. Bukankah ini sebuah ironi?

Penulis: Taufiq Ishaq

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Berikut Sikap MUI Terkait Pileg dan Pilpres 2019

Indonesia - Rabu, 09/01/2019 09:31