Hukum Mention Wanita Bukan Mahram di Sosial Media

Foto: Sosial Media

Pertanyaan: Ustadz saya mau bertanya, sebenarnya bagaimanakah batasan interaksi antar lawan jenis di sosial media? Apakah sama dengan interaksi di dunia nyata? Karena saya terkadang mendapati seorang pria mention wanita yang bukan mahram di status medsos bukan untuk keperluan yang mendesak. Azzam (Bekasi)

Jawaban: Saudara penanya yang dirahmati Allah. Islam sangat menjaga kehormatan wanita. Agar terhindar dari segala macam fitnah atau terjadinya sesuatu yang melecehkan martabat wanita, Islam menetapkan aturan yang cukup detail perihal hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram. Di antaranya, Islam mengharamkan khalwat (berduaan antara laki-laki dan perempuan), memerintahkan adanya sutrah (pembatas) yang syar’i, menundukkan pandangan, meminimalisir pembicaraan dengan lawan jenis sesuai dengan kebutuhan, tidak memerdukan dan menghaluskan perkataan ketika bercakap dengan mereka, dan keriteria lainnya. Beberapa larangan tersebut ditegaskan langsung oleh Allah Ta’ala melalui firman-Nya. Antara lain tentang perintah menjaga pandangan, Allah ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)

Kemudian adab dalam meminta sesuatu, Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka..” (QS. Al Ahzab : 53).

BACA JUGA  Hindari Bentrok Lanjutan, Faksi Oposisi Suriah Buat Kesepakatan di Idlib

Demikian juga tentang larangan memperhalus perkataan di depan lawan jenis yang bukan mahram, Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu melembut-lembutkan dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (syahwat, –pen.) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 32)

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menuliskan, “Makna yang dimaksud ialah mereka istri-istri Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– . Tidak boleh bertutur kata dengan nada lemah lembut jika berbicara dengan lelaki. Dan maksud dari firman Allah, ‘dan ucapkanlah perkataan yang baik,’ ialah ucapan yang baik, pantas, lagi tegas. Dengan kata lain, seorang wanita itu bila berbicara dengan lelaki lain hendaknya tidak memakai nada suara yang lemah lembut. Yakni janganlah seorang wanita berbicara dengan lelaki lain dengan perkataan seperti dia berbicara kepada suaminya sendiri.

Karena itu, dalam pembicaraan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, Baik di dunia nyata maupun di dunia maya, Islam juga menetapkan aturan yang cukup ketat. Walaupun pada dasarnya tidak ada pembicaraan yang dilarang selama tidak melanggar batasan-batasan syar’i, seperti menjaga adab-adab kesopanan, tidak menimbulkan fitnah atau khalwat. Begitu juga jika obrolannya dirasa penting dan benar-benar membutuhkan seperti halnya dalam jual beli, kebakaran, dalam keadaan sakit dan sebagainya.

BACA JUGA  Nasib Uighur dan Jerat Investasi Cina di Pakistan

Bagaimana dengan chattingan dengan lawan jenis yang bukan mahram di sosial media?

Secara umum, interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, kaidahnya sama. Menghindari segara potensi yang mengarah terbukanya pintu fitnah. Namun secara spesifik, ada beberapa ketentuan syar’i yang perlu diperhatikan laki-laki maupun perempuan yang bukan mahram sebelum melakukan chattingan di media sosial, di antaranya:

  1. Pembicaraan hanya seputar menjelaskan kebenaran atau mengingkari kemungkaran
  2. Pembicaraan hanya dibatasi dalam konteks proses belajar mengajar semata
  3. Dalam berbicara tidak keluar dari batas-batas adab kesopanan, cukup menggunakan kata-kata yang tegas dan jika terpaksa harus berbicara, maka tidak boleh memperlembut suara sehingga membangkitkan nafsu lawan bicara
  4. Saling berkomitmen untuk tetap berbicara seperlunya atau sewajarnya saja dalam menjelaskan kebenaran.
  5. Menghindari perbicaraan lewat kolom pesan atau chat khusus. Artinya, pembicaraan hendaknya dilakukan di halaman umum (fanpage) atau di kolom komentar yang dapat dilihat oleh semua orang.

Kesimpulannya, Islam merupakan agama yang sangat menghormati kemulian kaum wanita. Karena itu, ia menetapkan aturan yang cukup rapi dan detail terhadap apapun yang dapat merusak kemulian tersebut. Tidak hanya soal khalwat atau pelecehan, pembicaraan atar laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pun diatur dengan cukup detail dan ketat. Tujuannya, agar segala macam fitnah atau pintu yang berpotensi menuju pintu zina dapat tertutup dengan rapat. Wallahu a’lam bis shawab!

Dijawab oleh Ustadz Fakhruddin
Editor: Arju

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Hukum Memindahkan Kuburan, Bolehkah?

Konsultasi - Ahad, 20/01/2019 21:16

Gara-gara Algoritma

Opini - Selasa, 09/10/2018 15:02

Disaster Emak-Emak Berdaster

News - Ahad, 07/01/2018 22:48