Kumpul Kebo Zaman Milenial dan Keberlangsungan Akal Sehat

Foto: Kampanye anti laku seks bebas di Surabaya dilakukan memperingati Hari AIDS Sedunia.

Yuyun Novia (Revowriter Chapter Bogor)

Suka sama suka dan ‘No Baper’ adalah slogan dari hubungan Friend with Benefit (FWB). Hubungan tanpa ikatan, tanpa status, dan pastinya tanpa tanggung jawab. Prinsip dasarnya adalah nyaman dapet, pelampiasan seksual dapet, tanpa ribet. Begitulah potret fenomena bebasnya pemenuhan syahwat yang selama ini sukses dipromosikan melalui film-film dan gaya hidup Barat.

FWB-ers biasanya juga tidak menunjukkan aktivitas layaknya pasangan kekasih semacamĀ candle light dinner romantis. Mereka cenderung lebih fleksibel menjalani pergaulan bebas, mereka sekedar sesama “teman” yang butuh pelampiasan seksual tanpa perlu “jajan”. Menjalani FWB ini juga digadang-gadang anti baper karena diklaim tidak melibatkan perasaan, bisa saja di kehidupannya mereka punya pacar atau bahkan istri/suami. Tapi mereka juga punya FWB sebagai selingan yang katanya menantang dan mengasyikan.

Gaya baru berhubungan seksual tanpa ikatan kini merebak dan diminati kaum muda millenial. Mahasiswi asyik ber-FWB ria dengan kakak tingkatnya, bahkan tak jarang FWB dilakukan dengan suami orang. Pelakor versi 2.0?

Jika dulu mayoritas masyarakat menolak dan mengucilkan pelaku kumpul kebo, kini pelaku FWB mendapat perlakuan berbeda. Dengan dalih “cuma teman” dan tidak tinggal bersama, aktivis FWB bisa dengan mudah berkamuflase sebagai teman biasa. Padahal di balik pintu kamar kos atau hotel, kelakuannya sama saja dengan kumpul kebo. Terlebih pemakluman terhadap aktivitas mereka sudah dipromosikan sebegitu gencarnya melalui berbagai kanal media, dari sinetron di televisi, vlog, youtube, berbagai akun media sosial, hingga film box office. Terlebih, generasi millenial pelaku FWB juga pandai bermain cantik hingga jarang terdeteksi oleh keluarganya.

BACA JUGA  Herika Muhamad Taki, Penerima Gelar Doktor Pertama Dalam Bidang Urban and Regional Planning di Arab Saudi

Tren FWB ini tentu menjadi badai pergaulan baru yang menantang kita agar mendekap generasi muda lebih erat lagi. Kita sedang berlomba dengan para pengasong gaya hidup liberal dalam meraih atensi anak-anak untuk memilih jalan hidup yang akan mereka tempuh. Di era serbuan informasi ini, anak muda tidak cukup dengan dipingit agar terhindar dari pergaulan yang rusak dan merusak. Tren ini tetap akan menyelusup masuk ke dalam rumah bahkan hingga ke kamar anak kita melalui smartphone mereka.

Bahaya perilaku seks bebas melalui tren FWB sama resikonya dengan varian perilaku seks bebas lainnya. Hancurnya tatanan keluarga, rusaknya kepercayaan pasangan halal serta orang tua. Belum lagi intaian penyakit menular seksual, semisal HIV/AIDS yang lagi-lagi belum ditemukan obatnya. Adapun konsumsi ARV diklaim hanya mampu meminimalisir komplikasi, tapi tidak bisa menyembuhkan 100% bencana auto imun akibat AIDS.

Pergaulan bebas seperti FWB ini juga mengancam hancurnya tatanan nasab yang posisinya sangat penting dan sangat dijaga dalam ajaran Islam. Anak tak berdosa yang lahir akibat aktivitas seks bebas ala FWB tidak dapat memperoleh kewalian dan hak waris bahkan terputus sama sekali dari nasab ayah biologisnya.

Maka sebagai orang tua dari generasi milenial zaman now, kita harus peka terhadap tren pergaulan mereka. Bagaimana mungkin kita bisa menjaga dan melindungi anak-anak kita jika medan pergaulannya tidak kita kenali dengan baik. Memperlakukan anak kita sebagai sahabat dan melimpahinya dengan kasih sayang adalah pintu gerbang kepercayaan dan bonding dengan mereka. Selanjutnya, pengasuhan dan pendidikan yang baik dan benar menjadi sarana terbaik keluarga menjaga generasi emas peradaban masa depan.

BACA JUGA  AILA: Berita Prostitusi Berdampak Negatif Bagi Anak dan Perempuan

Memang peran keluarga masih akan kalah oleh derasnya gaya hidup bebas yang diasongkan oleh peradaban asing. Di sinilah urgensitas peran institusi negara menjaga generasi mendatang dengan menerapkan berbagai aturan yang mampu menjaga berbagai fitrah manusia. Fitrah beragama, fitrah seksualitas, fitrah belajar, dan lain sebagainya agar tetap on the track sesuai norma yang berlaku di masyarakat.

Sebagai negeri timur yang menjunjung norma agama dan kesusilaan yang agung, kita wajib menolak perilaku destruktif semacam ini. Jika regulasi yang ada tidak mampu membendung arus pergaulan bebas ini, saatnya mengadopsi sistem aturan baru yang mampu menjaga keselamatan lahir dan batin seluruh warga negaranya.

Manusia yang berakal sehat tidak hanya butuh kesejahteraan secara fisik saja dengan perut yang kenyang, infrastruktur serba mentereng, atau GDP yang tinggi. Kesehatan moral dan musnahnya pernyakit masyarakat juga merupakan bagian dari kebutuhan mendasar bagi sebuah masyarakat beradab. Sistem Islam terbukti telah mampu mengeliminasi hal tersebut melalui penerapan syariat yang paripurna dengan menegakkan hudud yang tegas terkait pergaulan. Jika ada aturan yang terbaik, mengapa enggan mengadopsi? Jika ada aturan yang sempurna dari Sang Pencipta, untuk apa tambal sulam aturan warisan penjajah yang dipenuhi celah penyimpangan hukum dan norma?

 

Disclaimer: Opini ini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya, tidak menjadi bagian tanggungjawabĀ KIBLAT.NET.

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Hati-hati Berita Fahisyah

Indonesia - Kamis, 10/01/2019 19:43