Orang Berusia 65 Tahun ke Atas Rentan Jadi Korban Hoaks

Foto: Hoaks

KIBLAT.NET, New York – Pengguna Facebook berusia 65 tahun ke atas lebih cenderung berbagi berita palsu daripada yang berusia lebih muda. Demikian menurut sebuah studi baru yang diterbitkan Rabu (09/01/2019).

Para peneliti dari Universitas Princeton dan Universitas New York menganalisis posting Facebook dari hampir 1.200 orang yang setuju untuk membagikan data mereka setelah pemilu presiden AS 2016.

Mereka kemudian membandingkan tautan yang telah dibagikan responden di Facebook dengan beberapa daftar situs web yang diketahui berbagi informasi palsu. Termasuk dari BuzzFeed.

Studi yang dipublikasikan di Science Advances, menemukan hanya kurang dari 8,5 persen responden yang membagikan tautan dari salah satu situs web ini.

Faktanya, pengguna berusia di atas 65 tahun -terlepas dari afiliasi politik- berbagi “hampir tujuh kali lebih banyak artikel dari domain berita palsu”.

“Tidak ada karakteristik demografis lain yang tampaknya memiliki efek konsisten pada berbagi berita palsu,” lapor penulis.

“Ada kemungkinan bahwa seluruh kelompok orang Amerika, sekarang berusia 60-an dan lebih, tidak memiliki tingkat literasi media digital yang diperlukan untuk secara andal menentukan kepercayaan atas berita yang ditemui online.”

Para penulis juga menyarankan dampak penuaan pada memori memiliki efek. “Berdasarkan catatan ini, ingatan memburuk seiring bertambahnya usia dengan cara yang secara khusus melemahkan resistensi terhadap ilusi kebenaran,” tulis mereka.

BACA JUGA  Amerika Tolak Diadili Atas Kejahatan Perang di Afghanistan

Facebook telah menjadi sorotan karena gagal menghentikan manipulasi informasi dan informasi yang salah, termasuk dari organisasi Rusia selama pemilihan umum AS 2016.

Para pemimpinnya telah berjanji lebih transparan dalam dengar pendapat di Kongres AS dan di tempat lain. Facebook mengaku akan meningkatkan upaya untuk menemukan dan membasmi akun palsu dan kampanye pengaruh asing.

Sumber: UPI
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Dubes Rusia: Istilah “Propaganda Rusia”, Hoaks!

Indonesia - Rabu, 13/02/2019 16:22

Siapa di Belakang Saracen? Ini Kata Pengamat Intelijen

Indonesia - Senin, 11/02/2019 13:21