Chusnul Mar’iyah Tolak Muslim yang Menuntut Keadilan Disebut Radikal

Foto: Pengamat politik UI Chusnul Mar'iyah, Ph.D

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengamat Politik, Chusnul Mar’iyah menilai bahwa di era Jokowi muncul destorsi wacana kebangsaan.

Ia menjelaskan, salah satu Destorsi yang muncul yaitu ungkapan “Saya Pancasila” yang diucapkan oleh Presiden dan para pendukungnya dan apabila bertentangan, maka dianggap berpecah-belah.

“Tau-tau dari mulai presiden sampai pendukung-pendukungnya mengucapkan ‘saya pancasila’, kalau presiden bicara seperti itu, trus kalau saya mengkritik, saya bicara apa namanya? Tidak pancasila?,” ungkap Chusnul di Jalan Daksa nomor 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (11/01/2019).

Chusnul juga mengkritik ungkapan Revolusi mental yang tidak boleh memasukkan politik kedalam agama. “Tiba-tiba dikatakan tidak boleh agama dimasukkan dalam politik, lupa bahwa Negara ini dibentuk dibangun dengan teriakan-teriakan Takbir,” ucapnya.

Chusnul menegaskan bahwa Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk muslimnya terbesar didunia, tetapi pada saat gerakan orang-orang Islam berada menuntut ketidakadilan, mereka langsung dianggap radikal.

“Padahal itu kalau di dalam demokrasi disebut civil islam, civil and political liberty,” tuturnya

Ia juga menyayangkan pemerintah kerap menyuarakan revolusi mental tapi justru banyak sekali terjadi Islamophobia. “Dan itu (islamophobia.red) hanya terjadi di zaman revolusi mental ini,” pungkasnya.

Reporter: Alif
Editor: Izhar Zulfikar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Menag: Tidak Ada Pesantren Radikal

Indonesia - Rabu, 23/01/2019 21:56

Masjid Radikal, Sebuah Narasi Menyudutkan Islam

Opini - Kamis, 12/07/2018 10:28