Menapaki Jejak Politik Yusuf Alaihissalam

Foto: Ilustrasi PKS sebagai partai yang memperjuangkan kemaslahatan ummat Islam via jalur politik (Rusydan/kiblat).

KIBLAT.NET – Kiprah Yusuf Alaihissalam sebagai pejabat kerajaan Mesir yang tidak menerapkan hukum Allah SWT terkadang menjadi justifikasi bagi beberapa pihak di barisan umat Islam yang berjuang melalui jalur politik praktis. Dengan dalih memperjuangkan maslahat serta mencegah kemudharatan yang lebih besar, mereka pun merasa baik-baik saja berjalan di jalur demokrasi, sebuah sistem yang tentu saja tidak menerapkan hukum Allah.

Namun benarkah kiprah politik Yusuf alaihissalam memang bisa menjadi landasan bagi apa yang diistilahkan perjuangan Islam melalui jalur demokrasi dalam konteks kekinian. Mari kita cermati apa yang sejatinya diperbuat oleh Yusuf alaihissalam.

Yusuf alaihissalam merupakan seorang anak yang sangat dicintai ayahnya, hal itu membuat saudara-saudaranya iri dan singkat cerita mereka membuang Yusuf ke dalam sumur yang jauh dari kediaman mereka. Lalu datanglah sekelompok musafir yang menemukannya lalu menjualnya dengan harga murah kepada Al Aziz seorang bangsawan Mesir.

Sejak saat itu, Yusuf menjalani hari-harinya sebagai budak Al Aziz, lalu ketika beranjak dewasa ada satu fase kehidupannya yang paling dihafal manusia, yaitu ketika istri Al Azis menggodanya namun dia menolak ajakan istri Al Azis, dan penolakan tersebut pada akhirnya menyeret Yusuf ke dalam penjara.

Meskipun banyak pihak yang tahu bahwa Yusuf tak seharusnya dipenjara, namun secara konstitusional penolakan seorang budak terhadap perintah tuannya adalah pelanggaran hukum. Di samping itu, di ruang dan waktu manapun orang yang dipenjara selalu dipandang dan dinilai dengan kesan yang buruk.

Di dalam penjara, Yusuf banyak berdiskusi dengan dua teman satu selnya. Diskusi biasanya berfokus pada persoalan tauhid ataupun seputar eksistensi Allah SWT sebagai Rabb semesta alam, hal itu tercermin dari ucapan Yusuf dalam surat Yusuf ayat 39, “Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam ataukah Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa?”

BACA JUGA  Editorial: Asap Semakin Pekat, Kebijakan Malah Jalan di Tempat

Sebelumnya Yusuf juga telah mendeklarasikan bahwa dirinya telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman dan tidak percaya pada keberadaan akhirat. Semua itu dilakukan Yusuf untuk agar kedua temannya yakin dan percaya bahwa tidak ada yang keluar dari lisannya melainkan kebenaran. Maka ketika Yusuf alaihissalam menakwilkan mimpi mereka berdua, mereka pun percaya dengan perkataan Yusuf alaihissalam.

Pada suatu hari, Raja bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya kering. Para cendekiawan di sekeliling raja kompak mengatakan adhghootsu ahlaam alias mimpi kosong yang tak perlu ditakwilkan. Namun salah seorang teman sel Yusuf alaihissalam yang kini menjadi pelayan Raja ketika mendengar mimpi sang Raja dia merekomendasikan agar Raja bertanya kepada Yusuf alaihissalam yang masih meringkuk di penjara.

Sebelum melanjutkan kisahnya, mari kita telaah dulu apa yang sedang terjadi. Pertama, Yusuf memiliki sifat amanah, dia tak mau mengkhianati tuannya, meskipun andai Yusuf mengiyakan godaan istri Al Aziz, tak akan ada manusia yang tahu perbuatan mereka, di samping itu Yusuf pun tak akan meringkuk di balik penjara. Kedua, Yusuf mempunyai kapasitas keilmuan yang mumpuni, dan juga ketaatan yang luar biasa kepada Rabb-nya, sehingga kedua temannya percaya ketika dia menakwilkan mimpi mereka, dan salah satu dari mereka bahkan tak ragu merekomendasikan Yusuf alaihissalam untuk menakwilkan mimpi sang raja.

BACA JUGA  Akhirnya, Fahri Hamzah Dirikan Partai Politik

Inti dari penakwilan Yusuf alaihissalam adalah bahwa Mesir akan dilanda masa-masa sangat sulit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Raja pun memanggil Yusuf alaihissalam, dan menanyakan perihal mengapa dirinya dipenjara. Yusuf pun menceritakan semuanya, istri Al Aziz pun dipanggil untuk melakukan klarifikasi. Setelah nama baiknya pulih kembali, Raja pun menawari Yusuf jabatan dan dia meminta dijadikan bendaharawan.

Memang Yusuf alaihissalam mengambil peluang jabatan di sebuah sistem yang tidak menerapkan hukum Allah. Namun ada catatan yang perlu diperhatikan, bahwa Yusuf alaihissalam mempunyai keyakinan bahwa dialah satu-satunya yang bisa memperjuangkan kemaslahatan rakyat Mesir, karena dialah satu-satunya yang mampu menakwilkan mimpi raja. Dan Yusuf alaihissalam juga yakin bahwa menjadi bendaharawan adalah satu-satunya jalan menuju kemaslahatan.

Di samping itu, dalam berpolitik Yusuf alaihissalam tak pernah mengucapkan narasi-narasi yang membela hukum buatan Raja, bahkan Yusuf alaihissalam senantiasa menerapkan hukum Allah sesuai batas kemampuannya. Hal ini bisa kita lihat pada surat Yusuf ayat 76, yang menampilkan momen ketika Yusuf menghukum saudaranya menurut hukum Allah bukan hukum buatan Raja.

Jadi jika ingin mencontoh Yusuf alaihissalam, anda tidak cukup hanya memastikan bahwa anda adalah seorang yang amanah, punya kapasitas keilmuan mumpuni, dan taat terhadap syariat Allah SWT. Namun anda harus yakin bahwa anda-lah satu-satunya yang bisa memperjuangkan kemaslahatan ummat Islam, anda juga harus yakin bahwa itulah satu-satunya jalan menuju kemaslahatan, dan jangan sampai narasi-narasi yang memperkuat hukum buatan manusia terucap oleh lisan anda.

Berhati-hatilah, sekali lagi berhati-hatilah, jangan sampai kisah Yusuf alaihissalam yang penuh kemuliaan sekedar menjadi pembungkus yang indah bagi sebuah ambisi kekuasaan. Naudzubillahi min dzalik

  

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Mendagri Sebut Pertemuan Prabowo-Megawati Menyejukkan

Indonesia - Kamis, 25/07/2019 13:30

Antara Ketahanan Politik dan Ketahanan Keluarga

Suara Pembaca - Senin, 24/06/2019 13:39