Khutbah Jumat: 3 Alasan Kita Harus Menegakkan Syariat Islam

Foto: Khutbah Jumat

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَصْلَحَ الضَمَائِرَ، وَنَقَّى السَرَائِرَ، فَهَدَى الْقَلْبَ الحَائِرَ إِلَى طَرِيْقِ أَوْلَي البَصَائِرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيُكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَنْقَى العَالَمِيْنَ سَرِيْرَةً وَأَزكْاَهُمْ سِيْرَةً، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وَقَالَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Selama ini seruan penegakkan syariat sering disalahartikan. Banyak di antara kaum muslimin yang masih memahami bahwa penegakkan syariat hanya sekedar hukum hudud, potong tangan, rajam, hukuman mati dan sebagainya. Sehingga siapapun yang terlibat dalam upaya penegakkan syariat dituduh radikal, aliran keras, kaum barbar dan sebagainya.

Tampaknya memang pemahaman seperti ini sengaja dikampanyekan oleh orang-orang liberal untuk menjauhkan masyarakat dari syariat Islam. Dalam banyak artikel yang dipubliskan di media, kaum liberal selalu menggambarkan masyarakat Islam yang menegakkan syariat sebagai masyarakat yang suka menghunus pedang. Masyarakat yang hanya menyibukkan dirinya dengan penegakkan hukuman hudud atau gambaran-gambaran sadis lainnya yang mereka sematkan. Sementara wujud dari keadilan syariat Islam yang telah terbukti itu tidak pernah mereka sebutkan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sejatinya, seruan penegakkan syariat adalah seruan untuk menanamkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh dalam aturan hidup kita.  Seruan untuk bermusyawarah dalam pengangkatan pemimpin, seruan untuk menaati pemimpin, menegakkan amar makruf nahi mungkar, melindungi kaum muslimin yang tertindas, menegakkan jihad serta meninggalkan segala bentuk kemungkaran; zina, khamer, judi, riba dan tradisi jahiliyah lainnya. Semua itu tertuju pada satu tujuan, yaitu mewujudkan kemaslahatan hidup manusia yang adil dan sejahtera.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menegaskan, “Syariat Islam dibangun berdasarkan asas hikmah dan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.Ia merupakan keadilan yang bersifat mutlak, kasih sayang, kemaslahatan, dan hikmah. Oleh karenanya, setiap persoalan yang bertolak belakang dari keadilan menuju kezaliman, kasih sayang menuju kekerasan, maslahat menuju kemudaratan, serta hikmah menuju sesuatu yang bernilai sia-sia, maka itu semua bukanlah bagian dari syariat, sekalipun ditafsirkan sebagai syariat.” (I’lamimul Muwaqqi’in, 3/3)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bagi seorang mukmin yang percaya akan keesaan Allah Ta’ala, dia tidak hanya percaya dengan keesaan Allah dalam menciptakan alam beserta isinya. Namun dia juga yakin bahwa dibalik penciptaan itu, Allah juga menurunkan aturan hidup (undang-undang) bagi manusia. Sebuah aturan yang diyakininya paling sempurna. Tidak ada hukum yang paling adil selain hukum yang telah ditetapkan sendiri oleh Dzat Yang Maha Adil.

Dibalik hikmah yang terdapat dalam pelaksanaan syariat Islam itu sendiri, Al-Qur’an juga menegaskan beberapa prinsip mengapa seorang mukmin harus berjuang untuk menegakkan syariat Islam. Dengan memahami prinsip ini, siapapun yang percaya dengan kemurnian ajaran Islam, pasti akan tergerak untuk berjuang menegakkan syariat Islam dalam kehidupannya. Walaupun terkadang tidak setiap hikmah dibalik syariat itu dipahami atau dirasakan dalam kehidupannya. Baginya, percaya dengan segala aturan/perintah Allah itu prinsip yang tidak boleh lepas dari jiwanya.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Menang Bersama Orang Orang yang Lemah - Ust. Miftahul Ihsan, Lc.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada beberapa prinsip yang ditegaskan dalam Al-Qur’an mengapa kita sebagai orang muslim mesti harus terlibat dalam perjuangan menegakkan syariat, di antaranya:

  1. Al-Qur’an Menjelaskan bahwa Setiap Mukmin Wajib Berhukum dengan Syariat Islam

Dalam ayat Al-Qur’an, Allah ta’ala berulangkali menyebutkan tentang wajibnya seorang mukmin untuk mengembalikan setiap persoalan hukum kepada syariat Islam, di antaranya Allah ta’ala berfirman:

 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”  (QS.Al-Jatsiyah: 18)

Kemudian dalam ayat yang lain, Allah ta’ala berfirman:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS. Al-Maidah: 49)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyertakan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas ia berkata bahwa dengan turunnya ayat ini Rasulullah SAW diperintahkan untuk memutuskan setiap perkara di antara mereka (Ahli Kitab) dengan apa yang terdapat di dalam kitab kita, yakni Al-Qur’an.

Maknanya, terhadap ahlu kitab sekalipun, Allah Ta’ala perintahkan nabi-Nya agar memutuskan hukum di antara mereka dengan aturan yang terdapat dalam Al-Quran. Lalu Allah tegaskan,“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (Al-Maidah: 49)

Yaitu pendapat-pendapat mereka yang mereka peristilahkan sendiri, dan karenanya mereka meninggalkan apa yang apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul Nya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

  1. Al-Quran Menegaskan bahwa Keputusan Hukum itu Hanyalah Milik Allah

Kita yakin bahwa Allah adalah al-Khalik (Sang Pencipta) yang telah menciptakan segala sesuatu, dan kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dalam menjaga keteraturan hidup makhluk-Nya, Allah menetapkan bahwa hukum itu hanyalah milik-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia..” (QS. Yusuf; 40)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga menegaskan, “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (Al An’am :57)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

  1. Menegakkan Syariat adalah Sifat Orang Mukmin

Dalam ayat yang lain, Allah juga menegaskan bahwa mau berhukum dengan hukum Allah adalah salah satu sifat orang mukmin sedangkan menolaknya dan berhukum dengan selain hukum Allah adalah bagian dari sifat orang munafik.

BACA JUGA  Amnesty International Minta Polisi Ungkap Dalang Kerusuhan 21-22 Mei

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (An-Nur: 48)

Sementara sifat orang mukmin, Allah Ta’ala jelaskan dalam ayat lain, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.  An-Nur; 51)

Ibnu Taimiyah berkata, “Suatu hal yang telah disepakati bersama oleh kaum muslimin bahwa dirinya wajib berhukum kepada petunjuk Nabi SAW dalam setiap permasalahan yang mereka  hadapi, baik perkara agama maupun dunia mereka, dalam perkara ushul (pokok) maupun furu’ (cabang). Mereka semua wajib menaati hukumnya apabila sudah diputuskan dan tidak ada rasa berat dalam jiwa mereka serta menerimanya dengan sepenuh hati.” (Majmu’ Fatawa; 7/37-38)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Demikian beberapa keterangan al-Quran mengapa seorang muslim wajib menegakkan syariat Islam.  Tunduk dan patuh kepada seluruh hukum Allah adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Ia bagian dari konsekuensi iman yang ada dalam jiwanya. Karena itu, ketika nilai-nilai syariat itu mulai pudar dalam kehidupannya, maka dia akan berupaya sebisa mungkin agar  syariat Islam tegak semaksimal mungkin. Wallahu a’lam bisshawab!

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿2﴾ إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ !

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga