Editorial: Suka-Suka ala Saracen

Foto: Media Sosial. (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Peristiwa “alam” tak wajar terjadi, ketika Facebook menutup fanspage milik Permadi Arya. Disebut tak wajar, karena sekian lama aduan terhadap akun Permadi Arya dan sejenisnya, bertepuk sebelah tangan.

Berbagai cara ditempuh banyak orang untuk membungkam akun-akun yang dinilai kerap menebarkan kebencian terhadap kelompok Islam. Melakukan aduan ke perusahaan pemilik aplikasi, hingga pelaporan ke pihak yang dianggap berwenang.

Hampir tak ada hasil yang berarti. Malah sebaliknya, mereka yang bersebrangan—terutama dengan rezim—satu per satu diseret ke kursi pesakitan. Pasal demi pasal diobral untuk menjerat. Tak jarang, sosok hantu dihadirkan untuk mencekamkan suasana.

Lihat saja Saracen. Publik dibuat heboh dengan isu terbongkarnya jaringan produsen konten hoaks dan ujaran kebencian, bernama Saracen. Seolah-olah banjir hoaks selama ini dikelola dengan sengaja oleh salah satu pihak.

Belakangan, pengadilan gagal membuktikan wujud Saracen dalam fakta hukum. terdakwa yang awalnya dinobatkan media sebagai tokoh utama Saracen, malah dijerat dengan pasal-pasal lain, mengakses informasi tanpa ijin. Padahal yang diakses adalah akun mereka sendiri.

Sebuah madzhab baru muncul dalam penanganan ujaran kebencian, bernama madzhab suka-suka. Hanya menyebut “idiot” untuk lawan politiknya, Ahmad Dani langsung dijebloskan ke bui. Sementara Laiskodat yang terang-terangan mengancam bunuh, masih bebas melenggang.

Suka-suka saja, ketika ada pemuda anak negeri langsung diringkus atas tuduhan menghina pemimpin negara. Sama suka-sukanya, ketika pemuda lain telah mengancam nyawa Presiden melalui kata-kata, namun hanya dianggap sebatas main-main semata.

BACA JUGA  IM Gelar Konferensi Internasional di Turki Bahas Idelogi Terkini

Deretan suka-suka lainnya masih panjang. Saking panjangnya kita mungkin tak lagi sanggup menghapalnya satu persatu. Hanya Tuhan saja, kemudian mesin Google-lah yang tahu persisnya.

Demikian pula dalam kasus Permadi Arya. Terungkap oleh Facebook bahwa dia terkait dengan kelompok Saracen. Padahal selama ini Permadi Arya sangat sigap menjadi pembela kubu rezim. Kok bisa, kubu rezim disebut sebagai tokoh Saracen, yang dikenal sebagai produsen hoaks kontra pemerintah?

Dalam madzhab suka-suka, tak ada kepastian yang lebih pasti selain praktik suka-suka itu sendiri. Oleh sebab itu, daripada larut bersorak-sorai dengan pupusnya akun Permadi Arya, akan lebih baik jika kita menahan diri sebentar. Mengamati gejala tak wajar apa lagi yang akan terjadi.

Apalagi di tahun panas seperti 2019 sekarang ini. Ketidakwajaran paling aneh pun bisa terjadi, asal memenuhi syarat dan standar madzhab suka-suka. Ada yang tiba-tiba nampang salat, ada juga yang tiba-tiba membelot dan berbelok arah.

Kaget, barangkali bukan hanya hak Presiden. Kita sebagai rakyat malah akrab dengan aneka kekagetan yang muncul dari ketidakwajaran gejala “alam” tadi. Karenanya, yang tak kalah penting adalah memohon perlindungan kepada Tuhan dari fitnah tahun politik, yang sejatinya juga adalah fitnah akhir zaman.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Editorial: Kita Yang Tak Jauh Lebih Baik dari Kongo

Editorial - Sabtu, 27/04/2019 17:41

Editorial: Ada “Brenton” di Negeri Kita

Editorial - Ahad, 17/03/2019 10:49

Mencari Al-Mu’tashim Baru untuk Uighur

Editorial - Sabtu, 22/12/2018 12:49