Ibnul Mubarok, Menghabiskan Umur di Medan Ilmu dan Jihad

Foto: Jihad (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Tokoh kita kali ini adalah salah seorang ulama tabiut tabi’in yang menghabiskan hidupnya dari satu bumi ribath ke bumi ribath lainnya, dari satu kancah jihad ke kancah jihad lainnya. Beliau adalah Abdullah bin Mubarok. Tokoh yang sarat dengan kisah-kisah hikmah ini menorehkan karya besar pertama, Kitabul Jihad. Karya ini merupakan buku pertama yang secara khusus membahas jihad. Sungguh menarik lika liku perjalanan hidup seorang Ibnul Mubarok hingga menjadi pioner jihad mandiri pada masa Abbasiyah.

Perjalanan hidup Abdullah bin Mubarok

Tentu sudah tidak asing bagi kita kisah seorang penjaga kebun anggur dan majikannya. Dalam tarikh An-Nuur As-Safir disebutkan seorang qadhi  sekaligus pemimpin di Marw  (Turkmenistan) yang bernama Nuh bin Maryam. Ia memiliki putri yang sangat cantik  hingga karena wajahnya yang rupawan banyak tokoh dan pembesar yang ingin menyuntingnya.

Di saat yang sama sang qadhi memiliki pembantu yang bertugas menjaga kebunnya. Hingga suatu saat Qadhi Nuh pergi ke kebun dan meminta kepada sang pembantu untuk dipetikkan anggur. Sang pembantu pun memberikan anggur yang rasanya masam, hingga Qadhi Nuh berkata,”Berikan anggur yang manis!” Sang pembantu pun memberikan anggur yang rasanya juga masam.

Sang Qadhi pun mulai merasa jengkel,”Celakalah kamu! Engkau tidak tahu mana yang manis dan yang masam?” Sang pembantu pun menjawab,”Ya, akan tetapi Anda memerintahkan saya untuk menjaganya dan tidak memerintahkan untuk memakannya. Barang siapa tidak makan dia tidak tahu”.

Sang Qadhi pun merasa takjub dengan pernyataan sang pembantu, dan menilai bahwa sang pembantu memiliki sifat jujur dan amanah hingga akhirnya sang Qadhi memutuskan menikahkannya dengan putrinya. Nah, dari pasangan inilah lahir Abdullah bin Mubarok yang terkenal dengan kedermawanan, kesalehan dan keilmuannya.

Abdullah bin Mubarok lahir di Marw pada tahun 118 H. Tumbuh pada masa khilafah Umawiyah, yakni pada masa Hisyam bin ‘Abd al-Malik. Ia meninggal pada tahun 181 H saat pemerintahan Harun ar-Rasyid yang merupakan khalifah pada pemerintahan ‘Abbasiyah. Ibnul Mubarok mengalami saat-saat kemunduran dan keruntuhan khilafah Umawiyah, dan menikmati saat-saat kejayaan khilafah ‘Abbasiyah. Ayahnya adalah seorang berdarah Turki dan dulunya seorang hamba sahaya, sedangkan ibunya berasal dari Khawarizm, Persia.

Sedikit literatur yang menceritakan masa kecilnya. Kehidupannya mulai terukir dalam sejarah ketika memulai pengembaraan mencari ilmu ketika berusia 20 tahun. Beberapa ulama tabi’in yang pernah menjadi gurunya adalah Abu Hanifah, Al-A’masy, Ibn Juraij, Al-Auza’i, al-Lais, Ibn Lahi’ah, dan lain-lain. Sedangkan yang mengambil sanad darinya di antaranya adalah ‘Abd ar-Razzaq bin Hammam, Ibn Abi Syaibah, Ibn Ma’in, Al-Husain bin al-Hasan al-Marwazi, dan sebagainya.

Kejeniusan Abdullah semakin kentara ketika menginjak usia 23 tahun. Di usia yang masih hijau ia telah hafal Al-Quran, menguasai tata bahasa Arab termasuk ilmu balaghah, Hadis, dan fikih. Ia dikenal dengan kekuatan hafalannya. Hampir tidak ada yang lepas dari ingatannya apapun yang didengar dan dihafalnya.

Meski ia mulai menuntut ilmu pada waktu yang agak terlambat, ternyata kegigihannya mampun menambah percepatan pemahamannya terhadap ilmu. Jadi tak heran kalau ia tidak tertinggal dengan teman-temannya yang memulai menimba ilmu lebih dahulu darinya.

Beberapa kota yang ia datangi untuk menuntut ilmu dan menyampaikan hadits adalah Syam, Khurasan, Mesir, Iraq, juga Mekkkah dan Madinah. Kepandaiannya dalam ulumuddien ternyata juga dibarengi dengan sifatnya dan akhlaknya yang terpuji.

Salah satunya adalah kisah Abdullah bin Mubarok ketika menghadiri majlis hadis gurunya Hammad bin Zaid, maka para penuntut hadis itu berkata kepada Hammad: “Mintakan kepada Abi Abdirrahman (yakni Abdullah bin al-Mubarok) untuk meriwayatkan hadis kepada kami”, maka sang Guru berkata

BACA JUGA  Editorial: Ada "Brenton" di Negeri Kita

“Wahai Aba Abdirrahman riwayatkanlah hadis kepada mereka, sesungguhnya mereka telah memohon kepadaku hal ini”. 

Abdullah bin al-Mubarok tertengun dengan hal itu seraya berkata, “Subhanallah, Wahai Aba Ismail (kun-yah Hammad bin Zaid) bagaimana mungkin aku meriwayatkan hadis sedang dirimu hadir di sini”.

Mendengar itu Hammad bin Zaid berkata; “Aku bersumpah kepadamu agar kamu melakukannya”.

Maka karena sumpah gurunya ini, terpaksa Ibnul Mubarok menurutinya, dan ia pun berkata “Ambillah, telah meriwayatkan kepada kami Abu Ismail Hammad bin Zaid”, tidaklah ia meriwayatkan satu hadis pun pada saat itu kecuali hadis-hadis yang didengarnya melalui jalur gurunya Hammad”.

Sungguh sikap yang teramat mulia ketika ilmu benar-benar merasuk ke dalam hati. Sikap ikhlas dalam menuntut ilmu berbuah rasa tawadhu’. Ibarat pepatah ilmu padi, makin berisi semakin merunduk. Semakin berilmu membuat dirinya semakin rendah hati dan mampu menempatkan diri di segala kondisi.

Semua kebaikan di atas juga ditopang dengan sifat kedermawanan yang luar biasa. Meskipun ia seorang ulama yang berilmu luas, ia tetap berniaga tetapi bukan untuk memperkaya diri sendiri. Ia mencari dunia untuk menuntut ilmu, menyantuni ulama, membatu fakir miskin dan berperang di jalan Allah

Ia pernah berkata kepada Fudhail bin Iyadh,

“Andai bukan karena dirimu dan teman-temanmu (maksudnya adalah para ulama) niscaya diriku tidak akan berniaga”.

Jika kita ingin menghitung seberapa dermawannya seorang Ibnul Mubarok, Imam Adz-Dzahabi pernah menyebutkan bahwa putra Mubarok ini membantu kaum fakir miskin dalam setahun dengan uang sejumlah 100 ribu Dirham. Inilah yang membuat ia begitu istimewa, hingga salah seorang ulama yang bernama Isa bin Yunus menjawab ketika ada pertanyaan apa yang menjadikan Ibnul Mubarok lebih utama daripada ulama yang lain.

“Hal itu dikarenakan kalau dia datang bersama budak-budaknya dari Khurasan membawa pakaian-pakaian yang baik-baik, ia menyambung tali persaudaran dengan para ulama dengan barang-barang tersebut, berbagi dengan mereka, sedangkan kami tidak mampu berbuat itu”. Jelas Isa bin Yunus.

Abdullah bin Mubarok di Medan Jihad

Ibnul Mubarok selain dikenal karena keilmuan dan zuhudnya, beliau juga dikenal sebagai ulama yang menghabiskan waktu di medan jihad. Hal ini tergambar dari perkataan Ibnu Katsir di dalam Al-Bidayah wa Nihayah tentang Ibnul Mubarok, Ibnu Ktasir berkata:

“Ibnul Mubarok adalah seorang yang banyak melakukan jihad dan haji.” (Al-Bidayah wan Nihayah 10/177)

Imam Adz-Dzahabi menceritakan lebih panjang lagi tentang ibnul Mubarok. Beliau adalah teladan dalam keberanian, beliau mengisi hidupnya setahun berjihad dan setahun untuk naik haji. Terkadang berjihad (ribath) di Tartus terkadang di Mashsihoh, begitu seterusnya beliau menghabiskan waktunya berpindah dari satu bumi ribath menuju bumi ribath lainnya hingga beliau meninggal.

Di bumi ribath, Ibnul Mubarok juga mengajarkan ilmu dan hadits kepada manusia. Ketika dirinya datang maka para mujahidin lainnya duduk di majlis beliau dan belajar ilmu dan hadits sebagaimana mereka belajar keberanian dari seorang Ibnul Mubarok.

Seorang Ibnul Mubarok juga tidak lupa mengingatkan akan pentingnya jihad kepada kaum muslimin, salah satu nasehat beliau yang terkenal adalah surat yang beliau tulis kepada sahabatnya Fudhail bin Iyadh.

يَا عَابِدَ الحَرَمَيْنِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا * لَعَلِمْتَ أَنَّكَ بِالعِبَادَةِ تَلْعَبُ

مَنْ كَانَ يَخْضِبُ جِيدَهُ بِدُمُوعِهِ * فَنُحُورُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَّبُ

أَوْ كَانَ يُتْعِبُ خَيْلَهُ فِي بَاطِلٍ * فَخُيُولُنَا يَوْمَ الصَّبِيحَةِ تَتْعَبُ

رِيحُ العَبِيرِ لَكُمْ وَنَحْنُ عَبِيرُنَا * رَهَجُ السَّنَابِكِ وَالغُبَارُ الأَطْيَبُ

Wahai yang beribadah di duo kota suci, jika kalian melihat kami

Maka kalian akan paham bahwa engkau sedang berain dalam ibadah

Siapa yang lehernya dipenuhi oleh air matanya

Maka leher-leher kami dipenuhi oleh darah-darah kami

Atau siapa yang kudanya lelah dalam kebatilan

Maka kuda kami lelah pada hari bertempur dengan musuh

Wangi parfuam untuk kalian, sedangkan wewangian kami

Adalah debu yang memenuhi kuku sebagai selimut kami

Membaca syair yang dikirimkan oleh Ibnul Mubarok di atas, mata Fudhoail bin Iyadh meneteskan air mata, sembari berkata, “Betul yang disampaikan Abu Abdirrahman (Fudhail bin Iyadh) dan sungguh dia telah memberi nasehat.”

BACA JUGA  Syaikh Al-Muhaisini Jelaskan Perbedaan Perlakuan Jika Pelaku Teror di Selandia Baru Muslim

Tidak hanya mengirim surat kepada Fudhoil bin Iyadh, Ibnul Mubarok juga mengajak kepada para ahli ibadah di Baghdad untuk terjun ke medan jihad. Beliau berkata:

أيها الناسك الذي لبس الصوف  ***  وأضحى يُعد في العباد

إلزم الثغر والتعبد فيه ***  ليس بغداد مسكن الزهاد

إن بغداد للملوك مَحَل *** مناخ للقارئ الصياد

Wahai ahli ibadah yang memakai kain wol

Dan di waktu dhuha dijuluki sebagai ahli ibadah

Mari terjun ke perbatasan (ribath) dan beribadahlah di sana

Baghdad bukanlah tempat orang zuhud

Baghdad adalah tempat para raja

 Dan tempat untuk para pembaca yang mencari ilmu

Ibnul Mubarok juga  lihai dalam berperang. Diceritakan oleh Ubaidullah bin Sinan bahwa dirinya bersama Ibnul Mubarokdan Muktamir bin Salman di Tartus, ketika itu ada yang berteriak, pasukan musuh datang, pasukan musuh datang. Ketika kedua pasukan sudah saling berhaapan, ada seorang pasukan musuh yang keluar dari barisan menantang perang tanding. Ajakan itu disambut oleh seorang pasukan kaum muslimin, kesatria Romawi tadi menang, dia menantang lagi, menang lagi, dia menantang lagi dan menang, begitu terus hingga Kesatria Romawi tadi berhasil mengalahkan 6 orang kaum muslimin dalam perang tanding.

Dia menantang lagi, dan seketika itu Ibnul mubarok berwasiat kepada Ubaidullah bin Sinan, “Jika aku terbunuh maka lakukan ini dan itu..” Abdullah bin Mubarok keluar menerima tantangan dari kesatria Romawi yang telah membunuh 6 pasukan kaum muslimin, setelah betempur cukup sengit Abdullah bin Mubarok mampu mengalahkannya. Hingga beliau mengalahkan 6 orang pasukan Romawi.

Setelah berhasil mengalahkan 6 orang pasukan Romawi Abdullah bin Mubarok hilang dalam kerumunan dan kembali ke tempat semula.  Di dalam kancah peperangan Ibnul Mubarok adalah seorang yang mati-matian dalam berperang, namun ketika datang waktu pembagian ghanimah dirinya menghilang, beliau berkata, “Amalanku dilihat oleh Dzat yang aku berperang karena-Nya.”

Tidak hanya terjun dan berpindah dari satu perbatasan ke perbatasan lainnya, dari satu medan jihad ke medan lainnya, Ibnul Mubarok juga meninggalkan warisan berharga untuk para mujahidin secara khusus dan kaum muslimin secara umu, yaitu kitabul Jihad. Kitabul Jihad Ibnul Mubarok adalah kitab jihad pertama yang ditulis dalam satu pembahasan khusus. Kitab tersebut memuat adits-hadits tentang jihad fi sabilillah.

Haji Khalifah berkata, “Kitab Jihad yang dikarang oleh Abu Abdirrahman Abdullah bin Mubarok yang wafat tahun 181 H, merupakan buku pertama yang secara khusus membahas jihad sebagai mana disebutkan di dalam Mashoriul Asywaq.”

Wafatnya Abdullah bin Mubarok

Ibnul Mubarok wafat pada tahun 181 H di bulan Ramadhan. Umurnya saat itu tepat 63 tahun sama seperti Rasulullah ketika dipanggil oleh Allah. Semoga Allah menjadikan generasi umat ini mewarisi sifat, akhlak dan tekad Abdullah bin Mubarok di dalam segala hal. Maka , diharapkan munculnya generasi Ibnul Mubarok muda yang siap berjuang di dalam Islam. Wallahu a’lam bi shawab.

 

Penulis: Dhani El_Ashim & Aiman
Editor: Arju

Sumber:

  1. Tarikh An-Nuur As-Safir an Akhbari Qarni Al-Asir, Abdul Qadir bin Syaikh bin Abdillah Al-Aydarus
  2. Siyaru Alam An-Nubala, Imam Adz Dzahabi
  3. Kitab Al-jihad, Ibnul Mubarok
  4. Konsep jihad Abdullah bin Mubarok dan jihad global, Ismail Yahya, Dosen Syariah IAIN Surakarta

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Asad bin Furat, Ulama Pembebas Kepulauan Sisilia

Profil - Selasa, 29/01/2019 17:34