Kenapa Ust. Bachtiar Nasir Pilih Bangun Umat Lewat Dakwah, Bukan Politik?

Foto: Ustadz Bachtiar Nasir dalam tabligh akbar wisuda huffadz santri Pondok Pesantren Islam Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Ahad (17/02/2019)

KIBLAT.NET, Jakarta – Direktur AQL Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir menilai Indonesia memiliki keunggulan dalam membangun umat yang Islami dibandingkan negara Turki. Hal itu ia ungkapkan setelah kunjungannya ke Turki untuk mempelajari lebih dalam tentang politik, Islam dan keumatan di sana.

“Kita bersyukur ada di Indonesia, walaupun politik kita lemah namun kekuatan keumatan kita kuat. Berbeda dengan Turki, politik di sana kuat dan memberikan peranan besar bagi dunia Islam, tetapi sayangnya rakyat mereka masih dalam pengaruh sekularisme,” katanya di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (21/02/2019).

Melihat kondisi demikian, pria akrab dengan sapaan UBN itu kemudian memilih jalan untuk membangun umat melalui dakwah dan tarbiyah, dibanding jalur politik. Sehingga ia memilih untuk tidak terbawa arus politik pada Pilpres 2019 ini.

“Risiko Islam berpolitik adalah perebutan kekuasaan. Meskipun memang menguasai politik dapat memberi pengaruh besar bagi Islam. Tetapi membangun ideologi umat melalui penguatan akidah di tengah zaman fitnah adalah hal terpenting,” tuturnya.

Dalam tadabbur kami di Turki, kata UBN, kekuatan politik yang memberikan pengaruh luar biasa bagi dunia Islam di bawah pemimpin Muslim bisa dilihat dan dirasakan. Sebagai contoh pemerintah Turki memuliakan pengungsi-pengungsi dari negara yang terzalimi.

“Berbeda dengan di Indonesia banyak yang Islamnya hanya di KTP. Tetapi kebijakannya tidak memihak kepada kepentingan umat Islam,” katanya.

BACA JUGA  Soal Pembangunan Infrastruktur, Komisi V: Masih Banyak Pihak yang Dirugikan

Para pengungsi di Turki berharap Indonesia dapat menerima pengungsi dengan baik. Tetapi UBN pesimis, karena cukup sulit melihat ketidakseriusan pemerintah membantu Muslim dari negara-negara tertindas.

“Kita tahu Turki dahulu sempat menjadi pusat kekhilafahan umat Islam. Hingga akhirnya jatuh dan menjadi negara sekuler. Kemudian setelah Erdogan selama 15 tahun memimpin Turki, umat muslim mulai membangun kejayaannya di sana,” ujarnya.

UBN bersama AQL Peduli mencoba menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga di Turki. Salah satunya menyediakan mushaf untuk disebarkan di wilayah Afrika dan menjalin kerjasama pendidikan bagi warga Indonesia di sana.

“Setidaknya ilmu pengetahuan yang dapat kita ambil di Turki, sebab Turki termasuk negara peringkat ke-5 dengan pendidikan terbaik,” tukasnya.

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: M. Rudy

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Menyikapi Perginya Para Pemimpin Umat

Opini - Kamis, 16/05/2019 12:24

Jadi, Di Mana Salah UBN?

Suara Pembaca - Senin, 13/05/2019 12:39