Editorial: Taliban, Bukan Lagi Potret Distopia

Foto: Delegasi Taliban dalam sebuah perundingan.

KIBLAT.NET – Radikal, barbar, ngawur, pendek akal, bengis, keji, tak beradab, anti budaya, terbelakang, kaku, dan tak demokratis. Itulah sederet daftar panjang istilah-istilah yang selama ini disematkan dunia Barat kepada Taliban.

Para pemangku kebijakan di Barat senantiasa memandang Taliban sebagai sebuah distopia. Segala tindak tanduk Taliban dinilai akan berujung ketakutan dan kengerian di masa mendatang. Melalui media, mereka mendoktrin masyarakat Barat dengan potret-potret yang secara kasat mata tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diklaim sebagai kearifan Barat. Penutupan bioskop, pembatasan ruang gerak perempuan, larangan anak perempuan bersekolah, dan puncaknya yang paling bully-able: penghancuran patung Budha Bamiyan.

Lalu bagaimana dengan dunia Timur? Tentu saja tidak, tidak jauh beda. Dunia Timur yang dalam konteks kekinian mengalami inferioritas nilai, sudah pasti terlalu mudah untuk didikte barat. Para pemimpin dunia Timur beserta para medianya secara mainstream menjiplak mentah-mentah cara pandang Barat terhadap Taliban.

Memang ada sebagian elemen di dunia Islam yang sedikit mengapresiasi Taliban meski dengan bahasa yang belum cukup santun. Mereka masih menganggap Taliban terlalu ber-utopia, dalam pikiran mereka rasanya Taliban masih sangat-sangat jauh dari tujuan mulianya, dan jalan yang ditempuh Taliban selalu dipandang terlalu panjang dan rumit.

Bagi sebagian besar aktivis pergerakan di dunia Islam, Hamas dan Erdogan masih menjadi dua matahari kembar yang menyilaukan. Keberhasilan-keberhasilan material mereka selalu membuat siapapun tersilap dan menyimpulkan bahwa jalan mereka berdua yang paling keren. Padahal jika kita sedikit kritis, mungkin mereka juga tak lebih baik dari Taliban.

BACA JUGA  Mendakwa Agama dalam Panggung Pemilu

Bolehlah kita bertanya, apa yang ditempuh Hamas ketika Ismail Haniyeh dikerdilkan otoritasnya oleh Presiden Abbas pada tahun 2007? Tak ada, mereka tak mampu berbuat banyak mempertahankan kursi Perdana Menteri Ismail Haniyeh yang terpilih secara demokratis pada Pemilu Palestina 2006. Hamas hanya mampu mempertahankan kontrol wilayah atas Gaza; sesuatu yang tanpa jalur pemilu pun sudah bisa mereka capai.

Bagaimana dengan Erdogan? Aksi kudeta kecil-kecilan pada tahun 2016 tentu menjadi lampu kuning yang berpotensi besar menjadi lampu merah. Lalu pertanyaan yang paling mendasar adalah, after Erdogan, who’s next?!

Sementara itu di atas sebuah negeri bernama Afghanistan, setelah dua puluh tahun lebih bergerilya di pegunungan, Taliban mulai memancarkan sinarnya. Sejak global war on terrorism (GWOT) didengungkan pada tahun 2001, Amerika selalu berkoar bahwa mereka tak akan berunding dengan teroris. Bagi Amerika, teroris hanya bisa berunding dengan bahasa tembakan dan tetesan darah. Namun sekarang pada akhirnya Amerika mau berunding satu meja dengan Taliban.

Pada 30 Januari lalu, perwakilan Taliban dan perwakilan Amerika telah berunding di Doha, Qatar. Hasil perundingan yang dicapai pun rasanya lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa hebatnya Taliban. Ada dua poin penting yang dihasilkan dari perundingan itu. Pertama, persoalan wilayah Afghanistan tidak boleh digunakan untuk tempat menyusun serangan kepada Negara lain, ini yang menjadi tuntutan AS. Kedua, tuntutan Taliban yaitu keluarnya pasukan AS dan asing dari Afghanistan.

BACA JUGA  Soal Fitnah Ustadz Abdul Somad, Ini Komentar Polisi

Bukankah hal ini seharusnya menjadi busyro bagi kaum muslimin, khususnya aktivis pergerakan. Jika boleh sedikit hiperbolis, hal ini seharusnya mengingatkan kita pada sekuel perjalanan Rasulullah SAW; perjanjian Hudaibiyah.

Setidaknya ada dua kesamaan antara Hudaibiyah dengan negosisasi Taliban-AS. Pertama, diakuinya eksistensi entitas yang lebih lemah oleh entitas yang lebih mapan. Kaum muslimin oleh kafir Quraisy, Taliban oleh AS. Kedua, perjanjian tersebut memberi waktu lebih untuk pembenahan-pembenahan internal. Rasulullah SAW mempergunakan momen Hudaibiyah untuk mengalahkan suku-suku Yahudi Madinah baik secara politik maupun militer. Maka Taliban tentu saja bisa memanfaatkan momen ini untuk menegaskan hegemoninya atas pemerintah Afghanistan yang selalu mereka pandang sebagai boneka AS.

Memang, kita kaum muslimin pesimis AS akan menepati janjinya. Dan kita juga tidak terlalu yakin Taliban bisa mencontoh Rasulullah SAW yang membalas pengkhianatan atas Hudaibiyah dengan Fathul Makkah. Namun, setidaknya saat ini Taliban bukan lagi distopia ataupun utopia, melainkan terpampang nyata, cetar, dan membahana.

 

 

 

Ikuti Topik:

2 comments on “Editorial: Taliban, Bukan Lagi Potret Distopia”

  1. annie leonhart

    Taliban tetap eksis meski hantaman bertubi. Melalui jalan jihad mereka meniti, jalan yang dicontohkan para Nabi. Taliban adalah contoh ideal aktivis jihad masa kini.

  2. dzaki asy syakir

    zindabaaaaddd

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Para Diplomat Taliban Eks Guantanamo

Profil - Senin, 15/04/2019 18:52

Kiblat Review: Taliban Menang Lawan Amerika

Video News - Selasa, 02/04/2019 13:01