Dilan, Bukan Pemuda Idaman

Foto: Spanduk penolakan pembangunan Taman Dilan di Bandung. (Foto: Galamedianews)

Penulis: Dina Dwi Nurcahyani (Komunitas Dakwah Muslimah Malang)

Si Dilan muncul lagi. Setelah tahun lalu heboh dengan film pertamanya kini tayang lagi Dilan dengan film keduanya yang nggak jauh-jauh dari cerita pacaran anak-anak muda era 90-an. Sebenarnya ceritanya tak terlalu istimewa, layaknya film remaja masa kini yang topiknya seputar cinta-cintaan dan pacaran. Film ini juga penuh gombalan rayuan Dilan kepada gadis pujaannya. Hanya saja ia dibuat dengan nuansa tahun 90-an yang jadul, sehingga berkesan nostalgia bagi generasi yang mengalami era itu.

Film yang diadaptasi dari novel Pidi Baiq ini juga sudah memiliki basic penggemarnya sendiri. Maka tak heran mereka yang sudah membaca novelnya pastinya ingin melihat filmnya seperti apa. Promosi gencar dimana-mana yang dimulai sebelum masa tayangnya di bioskop, ditambah bumbu-bumbu dibalik layarnya menjadi daya tarik tersendiri untuk menonton film ini. Promosi ‘gratis’ dari mereka yang sudah menonton, termasuk dari public figure menjadikan film ini booming dimana-mana kala itu.

Hingga kemudian fenomena Dilan menyeruak ke tengah masyarakat, khususnya para remaja. Ia menjadi sosok idola baru bagi para ABG, remaja yang baru tumbuh. Gayanya banyak ditiru para remaja milenial masa kini yang tak sadar bahwa mereka sedang dijejali dengan gaya hidup bebas ala liberal.

Gaya Hidup Liberal Menyasar Generasi Muda Islam

Dan kini fenomena Dilan mencoba untuk di-boomingkan kembali. Tak sekedar untuk keuntungan materi, tetapi juga kepentingan lainnya, yaitu mempromosikan gaya hidup liberal seperti pacaran dan gaul bebas. Bahkan ini didukung oleh pejabat yang harusnya bisa melindungi rakyatnya dari pengaruh buruk pemikiran asing yang tak sesuai dengan norma agama. Seperti yang diketahui, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Menteri Pariwisata Arief Yahya, secara resmi telah meletakkan batu pertama pembangunan Taman Dilan di Bandung pada 24 Februari lalu. Ridwan Kamil menilai jika fenomena Dilan dan Milea telah memberikan sumbangsih besar bagi Jawa Barat, terutama dalam bidang pariwisata.

BACA JUGA  Seolah-olah Ini Ramadhan Terakhir Kita

Sampai kemudian 24 Februari 2019 juga ditetapkan sebagai perayaan Hari Dilan. Ini sebagai anniversary film Dilan yang disakralkan dengan peletakan batu pertama untuk Taman Sudut Dilan oleh pejabat setempat. Taman Sudut Dilan sendiri akan dibangun di GOR Saparua, Bandung. Pembangunannya diprediksikan rampung pada akhir tahun 2019. Taman ini diproyeksikan akan menjadi ajang interaksi dan literasi anak muda. Desainnya akan banyak dihiasi mural, foto sepasang muda mudi dimabuk cinta ala Dilan dan Milea, juga kalimat-kalimat ikonis penuh gombal rayu ala Pidi Baiq sebagai penulis Novel Dilan.

Kaum remaja yang terikut arus pun terbuai dengan kisah Dilan dan kekasihnya. Mencoba mengikuti gaya mereka dalam kehidupan sehari-hari. Para remaja ini terhanyut dengan haru-biru kata-kata manis Dilan di sepanjang film. Sepak terjang Dilan dalam menaklukkan gadis pujaannya seolah menjadi inspirasi cowok-cowok ABG untuk mengejar cinta mereka serupa si Dilan. Yang tentunya bukan cinta yang dibenarkan menurut agama. Melainkan cinta berbingkai pacaran ala penganut gaya hidup liberal yang bebas.

Bagi cewek-cewek ABG, sosok Dilan seolah menjelma menjadi idola idaman baru yang romantis, puitis, namun sejatinya membuat miris. Bagaimana tidak? Sebenarnya untuk apa kata-ata manis jika itu hanya di bibir saja. Pandai merayu dan menggombal tidak menjadi jaminan cinta itu akan langgeng.

Apalagi di dunia yang serba materialis seperti sekarang ini, tak cukup hanya bermodal kata-kata dalam membangun hubungan. Cinta tak hanya dibangun dengan rangkaian kalimat puitis nan indah tapi kosong isinya. Cinta butuh fondasi yang kuat untuk menopangnya agar senantiasa kokoh dalam segala situasi dan ujian. Cinta butuh komitmen teguh yang berdiri di atas dasar yang benar dan kuat.

BACA JUGA  Jadi, Di Mana Salah UBN?

Dan, itu tak bisa didapat selama pemikiran liberalisme masih bercokol di benak. Karena dalam liberalisme yang diagungkan adalah kebebasan tanpa ada campur tangan agama. Tatkala cinta datang maka akan diperjuangkan dengan segala macam cara. Meskipun dengan melanggar aturan agama. Semuanya sah-sah saja. Jadi, bisa dibayangkan cinta macam apa jika diraih dengan cara yang keliru. Jika fondasinya keliru dan salah, maka bangunannya akan lemah dan mudah roboh kapan saja.

Baca halaman selanjutnya: Pemuda Muslim Idaman ...

Halaman Selanjutnya 1 2

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga