Umat Islam, Khilafah, dan Kegagalan Negara Bangsa

Foto: Ilustrasi bendera Rasulullah SAW, Ar-Rayah dan Al-Liwa.

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si (Penulis dan Pemerhati Politik Islam) 

Negara bangsa terbukti gagal menyelamatkan dunia dari penjajahan dan penindasan suatu bangsa atas bangsa yang lain. Negara bangsa justru menjamin keberlangsungan penindasan dan penjajahan. Perampasan tanah Palestina oleh zionisme, Perang Yaman, konflik Suriah, derita Uighur, Rohingya dan sederet konflik di seluruh negeri Islam menjadi bukti. Dunia Islam tidak membutuhkan konsep negara bangsa yang memecah belah kesatuan dan melemahkan kekuatan politik mereka.

Sungguh dunia Islam adalah dunia paling menderita pasca penerapan konsep negara bangsa di dalamnya. Sejak keruntuhan Kekhilafahan Turki Utsmani tepatnya tanggal 3 Maret 1924 M hingga Maret 2018 (hari ditulisnya artikel ini) eksistensi kaum muslimin sebagai umat yang satu, umat terbaik (khairu ummah) selama 13 abad telah hilang.

Namun diskursus tentang khilafah dan upaya kembalinya khilafah sebagai solusi tunggal problematika dunia Islam terus bergulir mustahil mampu dihentikan. Sebab dunia Islam sejatinya membutuhkan negara paling modern yang mampu memberi jawaban atas segala bentuk krisis dan penjajahan.

Negara-negara pengusung dan kaki tangan pendukung konsep negara bangsa terus bergunjing perihal khilafah. Tak kalah massif dengan diskusi-diskusi khilafah yang digagas oleh umat Islam sendiri yang menginginkan kembalinya khilafah. Walhasil keduanya melahirkan opini besar dunia yang satu, yakni khilafah memang pernah ada dan akan kembali tegak berdasarkan prediksi kaum penentangnya maupun landasan/dalil-dalil syariat yang berhasil dihimpun umat Islam dari sumbernya yakni Al Qur’an dan as-Sunnah.

Desember 2004 salah satu lembaga intelligent Amerika Serikat, National Intellegence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan berjudul Mapping The Global Future memprediksi 4 skenario besar dunia di tahun 2020. Salah satu skenario disebut sebagai A New Chaliphate, sebuah pemerintahan Islam global yang memberi tantangan terhadap nilai-nilai global (demokrasi, hak asasi manusia, dan liberalisme).

BACA JUGA  Dilan, Bukan Pemuda Idaman

Setahun berikutnya (2005) Perdana Menteri Inggris, Tony Blair dalam sambutan pada Konggres Tahunan Partai Buruh menyatakan pentingnya perang total terhadap gerakan yang berusaha melenyapkan Israel, mengeluarkan Barat dari Dunia Islam, berupaya menerapkan syariat di seluruh dunia Islam dengan cara mendirikan negara untuk seluruh umat.

Sementara dari kalangan pendukung konsep negara bangsa yang digagas penjajah, mereka tetap dengan kegagapannya meng-counter opini khilafah tanpa mampu menghadirkan argumentasi melainkan sebatas copy paste pandangan Barat. Yahya Cholil Staquf dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU (28/2/2019) menyatakan tak ada kewajiban umat Islam untuk menerapkan khilafah yang satu kekuasaan sistem politik dan meminta umat menerima keberadaan negara bangsa. Sayangnya, tokoh Muslim yang juga anggota wantimpres ini telah diabaikan oleh umat muslim Indonesia sejak kemesraan hubungannya bersama zionis Israel dipertontonkan tanpa rasa malu.

Abad Khilafah

Apa mau dikata terbitnya fajar khilafah, sunnatullah yang telah melekat dalam keimanan kaum muslimin. Keimanan kaum muslimin terhadap hari akhir dan janji Allah SWT, berbuah penerimaan terhadap dakwah syariah dan khilafah. Kokohnya dalil-dalil syariat tentang kewajiban menegakkan khilafah sebagai kekuasaan politik yang satu bagi muslim dunia sangat banyak bertebaran dalam khazanah kitab-kitab ulama besar Islam, disamping telah menjadi pakem dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, maupun ijma shahabat.

Di dalam QS. An Nuur ayat 55 disebutkan janji Allah SWT tentang kembalinya kekuasaan Islam yang akan mengangkat umat Islam dari ketakutan (penderitaan) memberikan rasa aman sentausa serta meneguhkan kedudukan kekuasaan yang diridhoi ini.

Tentang kewajiban mengangkat khalifah, tercantum dalam QS. Al Baqarah ayat 30, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat. “Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah.” Imam Al Qurthubi (w.671 M) menjelaskan bahwa ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat khalifah dan menegaskan tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban ini di kalangan umat dan imam mahdzab kecuali pendapat yang diriwayatkan al-Asham (yang tuli syariah) dan pengikutnya.

BACA JUGA  Ketika Istilah Kafir Diacak-acak

As-Sunnah juga menjelaskan di antaranya dari riwayat Imam Muslim sebagai berikut: “Siapa saja yang mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah/Imam), maka ia mati jahiliyah.” Hadits ini menjelaskan mati jahiliyah adalah perkara yang dicela oleh syariah bermakna berdosa bagi yang lalai mengupayakannya. Riwayat yang lain dari Imam Muslim, Nabi SAW mengisyaratkan bahwa sepeninggal Beliau harus ada yang menjaga agama dan mengurus urusan dunia yakni khulafa’, bentuk jamak (plural) dari kata khalifah.

Imam Al-Haitsami menekankan: “Sungguh para shahabat telah bersepakat-bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah akhir zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam sebagai kewajiban paling penting. Faktanya mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rosulullah SAW.” (Al Haitsami, Ash-Shawaiq al Muhriqah, hlm. 7).

Kedudukan ijma shahabat sebagai dalil syariah sangatlah kuat (qath’i) setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Menolaknya bisa menyebabkan seseorang murtad dari Islam, ini adalah pendapat Imam as-Sarkhasi dalam Ushul as-Sarkhasi juz I/296.

Maknanya perjuangan penegakan khilafah bukanlah proyek remeh temeh yang digagas oleh manusia-manusia pengkhayal yang jumud menghadapi hegemoni kapitalisme global pimpinan Amerika Serikat. Upaya penegakan khilafah justru merupakan mega proyek global yang ditopang oleh manusia-manusia yang memiliki keimanan rasional.

Keberhasilan  dakwah khilafah adalah garansi yang diberikan langsung oleh Pemilik Kekuasaan Langit dan Bumi. Dan beruntunglah mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangkannya dengan segenap kemampuannya.

“Dan hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada al khair, memerintahkan kepada kemakrufan dan mencegah dari kemungkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104).

Wallaahu a’lam bis-shawwab

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Felix Siauw: Toleransi Itu Simpel

Indonesia - Jum'at, 04/01/2019 13:54