Gantz Bersumpah Terus Bidik Pemimpin Hamas Jika Terpilih Jadi PM Israel

Foto: Kandidat Perdana Menteri Israel, Benny Gantz

KIBLAT.NET, Tel Aviv – Kandidat Perdana Menteri Israel, Benny Gantz bersumpah akan melanjutkan pembunuhan terhadap para pemimpin Hamas jika terpilih. Hal itu ia katakan dalam kampanyenya di komunitas Israel di dekat perbatasan Jalur Gaza, Rabu (13/03/2019).

“Jika mereka menyerang kita, mereka akan menghadapi aksi kekerasan, bahkan pembunuhan yang tertarget -jika diperlukan. Hamas tahu persis apa yang kita maksudkan dengan itu,” kata mantan Menteri Pertahanan Israel itu.

Pernyataan ini sebagai kritik terhadap pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Menurutnya, Netanyahu tidak banyak melakukan tindakan perlindungan setelah operasi militernya pada 2014 terhadap Jalur Gaza.

Gantz mengatakan selama tiga setengah tahun setelah operasi, Israel mengalami masa tenang. “Tidak ada roket, tidak ada balon, tidak ada layang-layang,” katanya.

Menurut Gantz, selain mempertahankan hambatan fisik di sepanjang perbatasan Gaza, tidak ada hal lain yang dilakukan (Netanyahu) untuk menggagalkan meningkatnya kekerasan baru-baru ini antara Palestina dan Israel.

“Kami akan mengubah kebijakan tenang ini dan mempromosikan strategi keras,” katanya, sembari menegaskan akan mendesak Hamas untuk membebaskan tawanan Israel.

Partai Kahol Lavan, yang dikenal sebagai Partai Biru dan Putih dalam bahasa Inggris untuk warna bendera Israel, dibentuk sebagai aliansi politik antara Partai Ketahanan Israel Gantz dan Partai Yesh Atid Yair Lapid pada 21 Februari.

Di bawah aliansi, jika Partai Biru dan Putih terpilih, Gantz akan menjabat sebagai perdana menteri selama dua setengah tahun pertama. Setelah itu Lapid akan mengambil alih kepemimpinan negara itu untuk setengah masa jabatannya. Pemilihan dijadwalkan pada 9 April.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Jangan Mengubah Kitab Suci Seperti Yahudi!

Sumber: UPI
Redaktur: Ibas Fuadi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Editorial: Ketika Olahraga Jadi Alat Politik

Editorial - Selasa, 26/06/2018 18:50