Editorial: Ada “Brenton” di Negeri Kita

Foto: Brenton Tarrant, Teroris pelaku penyerangan masjid di Christcurch, Selandia Baru yang menewaskan 51 orang

Dunia masih tercekat. Tak habis pikir mengapa ada manusia seperti Brenton Tarrant. Menenteng senjata semi otomatis yang penuh mantra, ia tuju sebuah masjid yang sedang bersiap menggelar Jumatan. Senjata yang ia tenteng menyalak, puluhan jamaah roboh bersimbah darah. Semua ia siarkan penuh kebanggaan melalui Facebook. Hingga kini, 50 orang dilaporkan tewas.

Sebenarnya, motif Brenton dapat diketahui sejak ia menyanyikan sebuah lagu saat masih mengendarai mobil. Lagu berisi pujian untuk Radovan Karadzic, aktor utama pembunuhan etnis muslim Bosnia, 1995 silam. Motif lebih jelas terlihat dari manifesto yang ia unggah, dan coretan-coretan pada senjata yang ia gunakan untuk membantai.

Sebagian coretan laksana mantra itu berupa nama-nama tokoh perlawanan terhadap kaum Muslim. Mulai Alexandre Bissonnette yang menyerbu masjid di kota Quebec tahun 2017 hingga nama-nama pasukan dan panglima Kristen yang berhasil menaklukkan tentara Khilafah Utsmaniyah.

Dendam bermotif agama itulah yang membuat Brenton sebenarnya tidak sendirian. Apalagi ia penganut ekstrimis sayap kanan yang anti-Islam dan anti-imigran. Kelompok inilah yang menjadi motor kampanye Islamophobia dalam sebuah gerakan Counter Jihad Movement (CJM). Mereka juga aktif bertukar pikiran dan gagasan di internet, di antaranya Counter Jihad Forum.

Dengan kebanggaan kepada nilai-nilai Judeo-Christian dan liberalism, CJM aktif meyakinkan publik bahwa Islam sedang berperang melawan Barat, dan kaum Muslimin secara diam-diam ingin melakukan Islamisasi di negeri mereka. Selain itu, CJM suka terus menyerang negara-negara yang dinilai terlalu lembek terhadap imigran Muslim. Narasi semacam itulah yang kemudian melahirkan Brenton Tarrant.

BACA JUGA  Ribuan Anggota IJABI dan ABI Rayakan Hari Asyuro di Gelora Bung Karno

Tapi keberadaan Brenton dan kawan-kawan bukan muncul dari sekadar gerakan sosial semata. Islamophobia terus mereka produksi bekerjasama dengan negara, politisi, media, dan akademisi. Negara, dengan kebijakan Counter Violent Extremism (CVE), menjadikan “ekstrimis” dan “radikal” sebagai target.

Pada praktiknya, semua program itu hanya diarahkan kepada kelompok Islam. Pengawasan masjid, intervensi khutbah dan ceramah, revisi kurikulum madrasah, pendefinisian ulang ajaran Islam dan revisi agama Islam menjadi ajaran baru yang oleh mereka dianggap lebih moderat. Narasi teror dan ketakutan selalu dikaitkan dengan jenggot, halaqah, cadar dan atribut sejenis lainnya.

Narasi ketakutan seperti itu juga nyaring di negeri kita. Sebelumnya, negara aktif memerangi terorisme dengan mendirikan lembaga khusus, lengkap dengan kekuatan pemukul. Kini, seorang Muslim tak perlu mengebom terlebih dulu untuk menjadi musuh negara. Cukup dengan menganut ajaran Islam secara menyeluruh, akan mendapat stempel sebagai kelompok radikal.

Al-Quran menjadi barang bukti dalam pengungkapan kasus terorisme. Organisasi pengusung ide khilafah langsung dibabat dengan hukum. Penganut, simpatisan atau siapapun yang memiliki ide yang sama, dikucilkan secara sosial dengan tuduhan sebagai kelompok ekstrimis. Khutbah di masjid pun diawasi dengan menerbitkan sertifikasi para khatib.

Kurikulum sekolah diperbarui, kegiatan mahasiswa kampus dipantau, untuk memastikan tidak ada lagi gagasan tentang khilafah. Terbaru, terminologi Al-Wala’ wal Bara’ yang diajarkan Islam mencoba diusik dengan wacana penyebutan non-muslim sebagai ganti kata kafir.

BACA JUGA  Aliansi BEM-SI Kritisi Sikap Pemerintah Terkait Kebakaran Hutan Riau

Masih banyak contoh lain yang membuktikan kampanye Islamofobia sedang mewabah di negeri ini. Sebuah kampanye yang memiliki mata rantai berkelindan dengan sosok Brenton.

Di satu sisi berupa munculnya propagandis Islamofobia berwujud politisi, cendekiawan dan tokoh serta organisasi agama.  Di sisi lain, gerakan Islamofobia di atas, lama kelamaan akan berpotensi melahirkan “Brenton-Brenton” baru di negeri kita. Naudzubillah.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Editorial: Kita Yang Tak Jauh Lebih Baik dari Kongo

Editorial - Sabtu, 27/04/2019 17:41

Editorial: Suka-Suka ala Saracen

Editorial - Rabu, 13/02/2019 11:02

Mencari Al-Mu’tashim Baru untuk Uighur

Editorial - Sabtu, 22/12/2018 12:49