Menjalani Hidup dengan Mentalitas Mujahid

Foto: Mujahid membaca Al-Quran

KIBLAT.NET – Salah satu adab seorang muslim terhadap Al-Quran adalah memuliakannya. Memuliakan dengan membaca, menadaburi dan melaksanakan sepenuh hati. Bukan menggugat apa yang telah ada didalamnya ,atau  dengan sombong mengubah apa yang telah di firmankan oleh-Nya.

Terkadang ketika membaca ayat-ayat tentang jihad, kita membayangkan untuk diri sendiri. Sungguh cita-cita yang besar karena jihad adalah amalan tertinggi di dalam Islam.

… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ.

“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)

Anugerah yang besar jika  Allah memberikan kesempatan itu. Seluruh umat Islam berharap agar dimasukkan ke dalam golongan yang beruntung ini. Tetapi, terkadang apa yang diharapkan tak selalunya terjadi. Maka, hal itu janganlah membuat  patah semangat, lemah dan putus asa. Hiduplah dengan mentalitas tempur seorang mujahid di kehidupan sehari-hari yang dilalui.

Hidup dengan Mentalitas  Mujahid

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah thalabul ilmi baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Dengan kehadiran kedua ilmu ini, berguna untuk kesiapan sebagai mujahid fi sabilillah. Juga terhindar dari berbagai macam syubhat yang ada di sekitar manusia pada umumnya. Allah pun telah memberikan kabar gembira bagi para pengemban ilmu bahwa mereka akan ditingggikan derajatnya oleh-Nya.

Allah Swt telah menjanjikan derajat itu di dalam Surat Mujadilah ayat 11,

يَرفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُم وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلعِلمَ دَرَجَـٰتٍ‌ۚ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Surat Mujadilah : 11 )

Ilmu adalah sesuatu yang penting bagi setiap muslim. Bagaimana mungkin seseorang beramal tanpa berilmu? Apalagi cita-citanya tertinggi adalah berjihad di jalan Allah. Mungkinkah seorang hamba Allah berjihad tanpa ilmu?

Modal utama seorang muslim adalah ilmu. Karena semua yang akan ia lakukan membutuhkan ilmu untuk menerapkannya. Maka, ketika Allah belum memberikan seseorang kesempatan untuk berjihad, hiasilah diri dengan ilmu. Sehingga ketika anugerah itu datang, seseorang yang telah lama mendambakan terjun di medan jihad telah siap untuk berkiprah dengan ilmu yang dimiliki.

Kedua, adalah dengan menjalankan peran di setiap lingkungan yang berbeda-beda dengan baik. Adakalanya seseorang berperan sebagai ayah, sebagai anak, sebagai suami, sebagai kakak, sebagai guru, sebagai tetangga, sebagai pekerja, sebagai pebisnis dan masih banyak lagi. Dengan jiwa mujahid yang telah tertanam di hati, ia menjalani semua peran itu dengan sebaik-baiknya. Karena sebagai seorang mujahid harus siap dengan kondisi apapun dan dalam posisi sebagai apapun. Dengan penempatan diri sesuai perannya membuat seseorang fokus dengan apa yang ia kerjakan, serta tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.

Jangan sampai hanya karena hidup enak dan nyaman lantas meninggalkan jihad. Juga tidak perlu sampai menghilangkan  jati diri yang sebenarnya ketika hidup dengan mentalitas seorang mujahid. Yang paling tepat adalah mengkombinasikan keduanya. Kemenangan yang besar akan dibukakan Allah padanya ketika ia menjalani semua itu dengan kejujuran hati dan keikhlasan.

Begitu pula, janganlah mempersulit diri sendiri ketika belum diberi kesempatan Allah berjihad. Hidup secara ekslusif hingga sampai berdampak pada orang tuanya, istrinya, anak-anaknya dan menjauh dari mereka dan masyarakat. Kehadirannya justru menjadi bumerang bagi umat dan stimulan untuk musuh Allah sedang dia tidak merasa.

Hiduplah dengan mentalitas mujahid yang dicintai Allah, yaitu mujahid yang bersikap lembut terhadap kaum muslimin

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ

“….yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela….” (QS.Al-Maidah : 54)

Berbagai macam rintangan, hambatan, rasa sakit yang akan menimpa di sepanjang perjalanan hidup akan membuatmu tabah dan sabar. Karena ia adalah seseorang yang hidup dengan mental mujahid.

Disebutkan ada seorang lelaki lewat di depan Rasulullah  dan para shahabat radhiyallahu `anhu melihat kondisi lelaki tersebut dari kulit tubuhnya dan semangatnya, maka Rasulullah  bersabda

إن كان خرج يسعى على ولده صغارًا فهو في سبيل الله، و إن خرج يسعى على آبوين شيخين كبيرين فهو في سبيل الله، وإن كان يسعى على نفسه يعفّها فهو في سبيل الله، و إن كان خرج رياءً وتفاخرًا فهو في سبيل الشيطان

“Jika dia keluar bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia terhitung di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja untuk kedua orang tuanya, maka dia terhitung di jalan Allah, dan jika dia keluar bekerja untuk dirinya sendiri dalam rangka `iffah (menjaga kehormatan diri- pen) maka dia terhitung di jalan Allah  ,dan jika keluar dalam rangka riya` dan berbangga diri maka dia terhitung di jalan setan.”  (Ath-Thabraniy, Shahih At-Targhib (1692))

Ya, hiduplah dengan mentalitas seorang mujahid. Berdoa pada Allah agar apa yang diusahakan ini menjadi sebab sampainya di jalan jihad serta mendapat syahadah di dalamnya. Wallahu a’lam bi shawab.

Disarikan dari tulisan Syaikh Iyad Al-Qunaibi yang berjudul “Isy Binafsiyatil Mujahid

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Abu Qotadah Al-Filastini: Kemewahan Adalah Musuh Jihad

Tarbiyah Jihadiyah - Sabtu, 01/06/2019 14:49

Mengenal Masyarakat Jahiliyah Bersama Sayyid Quthb

Tarbiyah Jihadiyah - Kamis, 25/04/2019 23:20

Selalu Menjaga Keikhlasan dalam Amal Islami

Tarbiyah Jihadiyah - Rabu, 27/03/2019 10:59