Facebook Mengaku Tidak Menerima Laporan Terkait Live Streaming Teror Christchurch

Foto: Kantor Facebook

KIBLAT.NET, California – Aksi teror penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru terjadi pada hari Jumat (15/03/2019), sekitar pukul 13:40 (waktu setempat) atau ketika menjelang sholat Jum’at. Puluhan orang dilaporkan tewas dalam penembakan tersebut.

Sebagaimana diketahui, Brenton Tarrant sang pelaku menyiarkan aksi kejinya tersebut secara live melalui Facebook. Namun pihak Facebook menyayangkan perilaku para pengguna yang terkesan menikmati siaran tersebut, alih-alih melaporkannya.

“Tidak ada pengguna Facebook yang melaporkan penembakan di masjid Selandia Baru ketika mereka menonton siaran langsung serangan itu,” ujar Vice President Facebook Chris Sonderby pada Senin (18/03/2019).

Siaran langsung kekerasan itu awalnya hanya ditonton 200 kali, namun siaran itu mulai mendapatkan daya tarik ketika ada pengguna yang pertama kali melapor Facebook perihal siaran tersebut, kurang lebih 12 menit setelah streaming berdurasi 17 menit tersebut berakhir.

Video asli diputar sekitar 4.000 kali sebelum dihapus, Facebook mengatakan pada Sabtu (16/03/2019) bahwa pihaknya telah menghapus 1,5 juta video berbeda dari penembakan, termasuk memblokir 1,2 juta video sebelum diunggah.

Namun video tersebut terus menyebar di internet karena pengguna 8chan berbagi tautan di papan pesan, yang sering dipandang sebagai “jangkauan paling gelap dari internet” dan dipandang sebagai tempat berkembang biaknya kebencian.

Facebook mengatakan pihaknya segera menghapus video dari platformnya setelah dihubungi oleh Kepolisian Selandia Baru.

BACA JUGA  Pakistan Minta DK PBB Sidang Darurat Bahas Kashmir

“Kami menghapus akun pribadi tersangka dari Facebook dan Instagram, dan secara aktif mengidentifikasi dan menghapus akun palsu yang muncul,” kata Sonderby.

Sonderby juga menegaskan bahwa setiap konten yang secara visual serupa dengan video tersebut akan terdeteksi dan dihapus secara otomatis. Kini Facebook harus menggunakan teknologi audio untuk membantu menangkap unggahan baru karena platform tersebut kesulitan mendeteksi rekaman layar.

“Kami telah menetapkan kedua penembakan sebagai serangan teror, yang berarti bahwa segala pujian, dukungan, dan representasi dari peristiwa tersebut melanggar standar komunitas kami dan tidak diizinkan di Facebook,”tegasnya.

Sumber: Huffpost
Redaktur: Rusydan

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga