Karakter Jahiliyah Modern: Mendahulukan Akal di atas Wahyu

Foto: Akal manusia

KIBLAT.NET – Seperti halnya dengan keimanan, jahiliyah sejatinya juga memiliki sejarah yang berakar panjang di muka bumi ini. Kedua-duanya berkaitan erat dengan manusia pertama, Adam bersama dengan putra-putranya. Kedua-duanya juga kembali kepada watak manusia itu sendiri yang sifatnya dikotomis, menerima pengaruh sesat atau jalan petunjuk, jahiliyah dan kesadaran. Keadaan ini diterangkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)* maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,* sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,* dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” QS. Asy-Syams : 7-10

Seluruh amalan manusia atau apapun yang terjadi dalam diri mereka sejatinya tidak lepas dari dua perkara; menerima petunjuk atau terpengaruh dengan kesesatan jahiliyah. Dalam perjalanan sejarah, wahyu dan jahiliyah itu merupakan dua sisi yang berjalan berlawanan. Ketika seorang rasul diutus dan diturunkan wahyu kepadanya, maka dalam periode tertentu, umat manusia mengikuti petunjuk tersebut. Tapi dalam periode lainnya, mereka menolak petunjuk rasul dan tetap berpegang teguhterhadap  kejahiliyahannya.

Karena itu, karakter jahiliyah tidak lepas dari tabiat manusia itu sendiri. Antara mereka yang menerima wahyu sebagai pedoman hidup dan mereka yang menolaknya akan terus ada di setiap masa. Kondisi ini akan terus berulang di setiap zaman. Ketika jiwa manusia serta akalnya tidak terbimbing dengan nilai-nilai wahyu, maka dia akan terseret dengan pengaruh jahiliyah yang dihembuskan setan.

Atas alasan ini, Muhammad Qutb, dalam kitab “Jahiliyah al-Qarni al-Isyriin, menyimpulkan bahwa jahiliyah modern adalah rangkuman dari seluruh bentuk kejahiliyahan masa lalu. Bentuknya pun lebih parah dari yang pernah ada. Menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Aspek moral, pendidikan, sosial, ekonomi, politik, seni, sains dan seluruh aspek hidup lainnya yang dipisahkan dari keterkaitannya dengan konsep ilahiyah.

Jahiliyah Modern: Rusaknya Tashawur Umat

Pemisahan agama dari kehidupan nyata atau memisahkan hubungan antara iman dan perilaku dan akidah dari syariat merupakan kerusakan yang paling mendasar dari konsep jahiliyah modern. Efeknya, manusia tidak lagi merasa butuh aturan Allah dalam hidupnya. Agama hanya dipandang sebagai urusan privat. Tidak perlu ikut-ikutan mengatur kebijakan publik. Hal ini erat kaitannya sekali dengan kehidupan jahiliyah masa lalu. Sebab, bagi masyarakat jahiliyah agama dinilai sebagai penghalang atas kebebasan manusia untuk meraih kemajuan.

Dengan demikian, agama sangat kecil pengaruhnya dalam kehidupan nyata. Semua fenomena yang terjadi di muka bumi ini dipandang hanya kebetulan belaka atau sudah ditentukan oleh alam itu sendiri. Tidak ada kaitannya dengan tuhan. Kerancuan berpikir semakin diperkuat dengan munculnya revolusi industri di abad pertengahan. Dimana manusia mulai mendewakan materi dan beranggapan bahwa yang membuat mesin-mesin dan menumbuhkan perindustrian di kota-kota adalah manusia bukan tuhan. Manusia lah yang—dengan ilmu pengetahuannya—mengetahui rahasia dan seluk beluk materi. Semuanya diciptakan dan diatur oleh manusia sendiri tidak ada kaitannya dengan sesuatu yang gaib.

BACA JUGA  Mengapa Materi Perang dalam Kurikulum Sejarah Itu Penting?

Efeknya, dalam merumuskan aturan hidup pun demikian. Manusia bebas menentukan aturan hidup sesuai dengan kemauannya sendiri. Tidak perlu ada campur tangan hukum tuhan di dalamnya. Semua kebijakan hukum hanya ditetapkan berdasar produk akal pikiran mereka semata. Bahkan dalam menyikapi hukum Allah Ta’ala sekalipun, semua itu tidak bisa diberlakukan jika tidak bertolak belakangan dengan akal pikiran atau tidak selaras dengan kemauan mereka.

Sehingga satu-satunya alat untuk mengukur kebenaran adalah akal. Sesuatu yang logis dan dapat dinalar akan dianggap benar. Sedangkan yang tidak bisa dijangkau oleh akal akan ditolak. Semuanya berada dalam sorotan rasio. Bahkan termasuk hal-hal yang berkenaan dengan eksistensi Allah Ta’ala. Bagi mereka, Allah haruslah merupakan eksistensi yang dapat diukur dengan akal, dan manakala tidak dapat dijangkau oleh akal, maka eksistensi-Nya pun mesti ditolak.

Cara pandang yang menitikberatkan pada penilaian akal, menjadi titik tolak rusaknya tasawur (pola pikir) umat dalam memandang agama. Aturan agama hanya dipilah-pilih sesuai dengan selera akalnya sendiri. Tidak ada lagi sesuatu yang sakral dalam beragama. Semuanya bisa diatur ulang jika memang dinilai tidak relevan dengan zaman. Intinya, seluruh undang-undang atau aturan hidup masyarakat dipaksa tunduk kepada hasil akal pikiran manusia semata.

Islam dan Merawat Akal Sehat

Islam merupakan agama yang sangat adil dan sempurna. Dalam Islam, peran akal sangat dimuliakan. Karenanya, Islam pun menetapkan syariat demi menjaga dan merawal akal sehat. Di antaranya: Islam memasukkan peran penjagaan akal dalam dharuriyatul khamsah, yaitu lima kebutuhan primer yang harus dijaga dalam penetapan hukum. Selanjutnya, islam juga mengharamkan segala perbuatan yang bisa merusak akal, seperti khamer, narkoba dan sebagainya. Islam juga menjadikan akal sebagai salah satu syarat utama taklif (pembebanan hukum) dan Islam juga mewajibkan umatnya untuk terus mengembangkan pemikiran melalui ilmu pengetahuan. Bahkan dalam banyak ayat-Nya, Allah Ta’ala selalu memotivasi hamba-Nya agar senantiasa menggunakan akalnya, di antaranya:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).” (QS. An-Nahl: 12)

Sebaliknya, Allah Ta’ala juga mencela mereka yang tidak mau menggunakan akalnya dalam bertindak:

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’.” (QS. Al-Mulk: 10)

Ibnu Taimiyah menjelaskan, “(Maknanya yaitu) tidak berakal dan tidak bisa membedakan. Bagaimanapun hal tersebut tidaklah terpuji. Karenanya, tidak ada satu pun ayat dalam al-Qur’an maupun hadis yang menyebutkan pujian ataupun sanjungan bagi mereka yang tidak berakal serta tidak bisa membedakan (tamyis)…” (Al-Istiqamah, 2/157)

BACA JUGA  Kedudukan Hari Asyura dalam Islam

Namun demikian, Islam menyadarkan kita bahwa akal manusia memiliki sifat yang terbatas. Akal tidak mampu menjangkau perkara-perkara ghaib di balik alam nyata yang kita saksikan ini, seperti pengetahuan tentang Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, arwah, surga dan neraka yang semua itu hanya dapat diketahui melalui wahyu. Karena itu, dalam memahami Islam akal harus senantiasa dibimbing oleh wahyu. Ia tidak bisa berdiri sendiri. Ibarat mata dalam memandang sesuatu. Tanpa adanya cahaya, mata tidak dapat melihat apa-apa. Apabila ada cahaya, barulah mata bisa melihat benda dengan jelas. Seperti itu lah akal dalam memahami hakikat sesuatu. ia tidak mungkin dalam mencapai sebuah hakikat dengan jelas kecuali dibimbing oleh wahyu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan, “Akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Akal bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapati cahaya iman dan Al Qur’an barulah akal akan seperti mata yang mendapatkan cahaya mentari. Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” (Majmu’ Al Fatawa, 3/338-339)

Maknanya, akal bisa berjalan dan berfungsi jika ditunjuki oleh dalil syar’i yaitu dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Ia akan liar dan terus diarahkan oleh nafsu di bawah godaan syaitan. Karena itu, bilamana akal bertentangan dengan wahyu maka yang patut dipertanyakan adalah akal itu sendiri. Sebab, tidak ada nash yang shahih kecuali selaras dengan akal sehat manusia.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan, “Sesungguhnya mempertentangkan antara akal dengan wahyu adalah asal-usul segala kerusakan di alam semesta. Itu adalah lawan dari dakwah para rasul dari semua sisi karena mereka (para rasul) mengajak untuk mengedepankan wahyu daripada pendapat akal” (Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah, hlm. 97)

Karena itu, Ibnu Taimiyah mengemukakan sebuah pernyataan yang cukup menarik untuk kita cermati bersama:

وَالرُّسُلُ جَاءَتْ بِمَا يَعْجِزُ الْعَقْلُ عَنْ دَرْكِهِ . لَمْ تَأْتِ بِمَا يُعْلَمُ بِالْعَقْلِ امْتِنَاعُهُ

“Rasul itu datang dengan sesuatu (wahyu) yang sulit dipahami oleh akal (secara sempurna). Namun beliau tidaklah datang dengan wahyu yang mustahil bagi akal untuk memahaminya.” (Majmu’ Al Fatawa, 3/339)

Ringkasnya, sebagai makhluk Allah Ta’ala, manusia penuh dengan keterbatasan. Sehebat apapun kecerdasan manusia, ia tidak akan mampu menjangkau luasnya ilmu Sang Khalik. Maka sebagai bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya, manusia tak hanya diciptakan lalu dibiarkan begitu saja di muka bumi ini. Namun Allah Ta’ala juga menurunkan wahyu sebagai bimbingan bagi manusia agar tidak tersesat dalam menjalani hidup. Ketika manusia berkreasi sendiri dan menjauh dari petunjuk tersebut maka selama itu pula dia akan terus terombang-ambing dengan alam pikirannya yang dipengaruhi oleh nafsu setan.

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Akhir Nasib Penguasa Tiran

Manhaj - Sabtu, 07/09/2019 20:00

Tingkatan Manusia dalam Membantu Kezaliman

Manhaj - Jum'at, 12/07/2019 19:32

Ramadhan, Bulan Jihad dan Kemenangan

Manhaj - Sabtu, 18/05/2019 14:57