Amnesty International: Extra Judicial Killing Oleh Densus 88 Berbau Doktrin Militer

Foto: Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid

KIBLAT.NET, Jakarta – Amnesty International Indonesia menilai penanganan terorisme di Indonesia berlebihan. Sebab, selama ini banyak terjadi pembunuhan di luar pengadilan oleh Densus 88 kepada terduga teroris.

“Extra Judicial Execution juga digunakan pada orang yang diduga terlibat dengan terorisme, beberapa tahun lalu, Densus misalnya dikenal dengan tindakan kerasnya. itu sebenarnya tindakan yang keliru,” ujar Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid ditemui di Kantornya, Gedung HDI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/04/2019).

“Itu tindakan yang seperti berbau doktrin militer dalam keadaan perang. Membunuh siapapun orang yang dianggap musuhnya,” lanjutnya.

Menurut Usman, di Indonesia penanganan Terorisme dalam hukum masih dikategorikan tindak pidana, yang berarti pelaku teror masih berhak atas pengadilan yang adil. Selanjutnya, Undang-undang yang ada pun dinamakan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Ia menekankan bahwa ranah penegakan hukumnya mensyaratkan seseorang itu diduga tidak bersalah sampai hukum membuktikan di pengadilan bahwa dia bersalah.

“Tindakan-tindakan seperti Densus dalam menembak di tempat itu jelas extra judicial killing. Dan jelas menghukum orang diluar proses hukum dan itu tidak dibenarkan dalam pandangan HAM,” jelasnya.

Selain kepada teroris, pembunuhan di luar hukum lainnya yang dilakukan kepolisian menurut Usman adalah penanganan peredaran narkotika dan aksi begal. Menurutnya, sejak 2017 angka penyalahgunaan narkotika selalu naik. Dan, penindakan tegas berupa penembakan ditempat juga sempat naik mencapai angka 90 kasus.

BACA JUGA  Pria Ini Ditahan Polisi Usai Aksi 22 Mei Setelah Ditemukan Kata "Jihad" di Ponselnya

“Pemerintah seakan ingin meng-intensifkan upaya memberantas narkotika. Beberapa pejabat tinggi kepolisian termasuk BNN mengutip pemerintahan Filipina atau merujuk Filipina dalam memberantas narkotika. Padahal dunia mengecam Filipina,” ujarnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Izhar Zulfikar

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga