Perancis Gelar Operasi Militer Gabungan di Mali

Foto: Tentara asing di Mali

KIBLAT.NET, Bamako – Pada hari Kamis (11/04) dilaporkan bahwa pasukan Perancis baru saja menyelesaikan operasi keamanan selama hampir tiga pekan bersama pasukan militer Mali di daerah Gourma bagian tengah negara itu. Dikatakan kampanye militer ini menargetkan JNIM (Jabhah Nushrat al-Islam wal Muslimun) afiliasi al-Qaidah di Afrika Barat & Sahel. Media pro Barat mengklaim sedikitnya 3o pejuang jihadis dilaporkan terbunuh.

Sebanyak tujuh ratus lebih tentara Perancis bersama 150 anggota militer Mali ambil bagian dalam misi ini, sementara tentara Burkina Faso disebar di sepanjang perbatasan sebagai cut-off untuk menutup jalur keluar jihadis.

Sumber Perancis menyatakan, tahap pertama serangan dimulai tanggal 29 Maret lalu dengan mengerahkan jet-jet tempur Mirage dan helikopter Tiger untuk menyasar posisi kelompok jihadis Ansharul Islam di kawasan hutan Fulsare yang juga berbatasan dengan negara tetangga Burkina Faso. Hutan Fulsare dan sekitarnya sudah lama diketahui sebagai tempat mangkal jihadis. Ansharul Islam sendiri masuk dalam daftar organisasi teroris yang secara khusus ditetapkan versi pemerintah AS.

Di lapangan, pasukan gabungan Perancis dan Mali melakukan patroli, operasi pencarian, dan menghancurkan sejumlah bekas posisi jihadis di area sekitar hutan. Pihak militer mengklaim telah menemukan beberapa unit senjata ringan, amunisi, peluncur granat, bom, dan kendaraan dalam operasi mereka. Namun tidak ada yang tewas di pihak jihadis. Sebaliknya, seorang tentara Perancis yang diidentifikasi bertugas sebagai dokter militer tewas akibat terkena ranjau improvisasi. Tak lama kemudian, JNIM menyatakan bertanggung jawab atas insiden IEDs tersebut.

BACA JUGA  Junta Militer dan Aliansi Oposisi Sudan Teken Kesepakatan Politik

Fase kedua kampanye militer Perancis-Mali dimulai pada tanggal 7 April pekan lalu di hutan Serma yang juga mengerahkan kekuatan udara untuk menyerang posisi yang diduga milik Katibah Serma di bawah JNIM. Sebuah drone jenis Reaper dan helikopter tempur Tiger ikut membantu memberikan dukungan udara terhadap pasukan darat yang mencoba menyisir fasilitas jihadis.

Sumber Perancis mengatakan sedikitnya 30 jihadis dilaporkan terbunuh selama fase ini, termasuk mendapatkan sejumlah motor, senjata plus amunisi, dan komponen-komponen IEDs. Hal itu mengindikasikan lokasi tersebut merupakan kamp Mujahidin yang didominasi oleh Katibah Serma sebagai operator utama di daerah tersebut.

Sebagai salah satu kelompok yang tergabung dalam koalisi besar JNIM, Katibah Serba beroperasi di Mali bagian tengah dan kerap melakukan kerjasama dengan Anshorul Islam yang berasal dari Burkina Faso. Katibah Serma & Katibah Macina sudah lama diketahui saling mendukung dengan kelompok Anshorul Islam dengan memberikan bantuan senjata, pelatihan, dan dukungan lainnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Perancis telah melancarkan beberapa kali serangan ke Mali dan Burkina Faso. Awal Januari, pasukan Perancis menggelar operasi militer di bagian utara Mali, tepatnya di daerah Menaka. Selanjutnya di pertengahan bulan yang sama, ada laporan mereka menewaskan 15 pejuang jihadis menyusul serangan udara yang berkoordinasi dengan pasukan Mali. Beberapa bulan berikutnya, operasi-operasi darat dan udara terus dilakukan untuk mendukung pasukan pemerintah Mali dan Burkina Faso karena semakin tertekan oleh serangan-serangan jihadis.

BACA JUGA  Prancis Benarkan Rudal yang Disita dari Kamp Militer Haftar Miliknya

Di bulan Februari, serangan militer Perancis dilaporkan menewaskan seorang deputi amir sekaligus salah satu pendiri JNIM bernama Yahya Abu al Hammam di wilayah Timbuktu. Pihak Perancis mengklaim Abu al Hammam betul-betul terbunuh, namun sejauh ini belum ada konfirmasi dari JNIM sendiri yang menyatakan Abu al Hammam telah gugur.

Dalam kasus yang berbeda, Perancis juga pernah mengklaim kematian pemimpin kelompok Front Pembebasan Macina (MLF), Amadou Koufa, seorang pendakwah lokal etnis Fulani yang pernah melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan Afghanistan. Secara tak terduga, Koufa muncul dalam keadaan segar bugar di awal Maret setelah sebelumnya sempat dilaporkan terbunuh oleh pasukan Perancis tahun lalu.

Di tengah berbagai serangan yang melibatkan kekuatan asing, termasuk pasukan gabungan G5 Sahel: Mali, Mauritania, Burkina Faso, Chad, dan Niger; pasukan penjaga perdamaian PBB, dan kematian sejumlah pemimpin jihadis, al-Qaidah mampu bertahan dan masih memiliki kemampuan untuk beroperasi & melancarkan berbagai serangan secara terbuka di dalam negeri Mali, dan juga ke negara-negara lain di kawasan Sahel yang lebih luas.

Sumber: Long War Journal
Redaktur: Yasin Muslim

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga