Para Diplomat Taliban Eks Guantanamo

Foto: Delegasi Taliban dalam sebuah perundingan.

KIBLAT.NET – Ada pemandangan yang mencengangkan pada bulan Maret lalu saat terjadi perundingan antara Taliban dan Amerika di Doha. Pasalnya, lima orang yang mewakili Taliban adalah mantan tahanan Guantanamo yang dulunya diperlakukan tak manusiawi oleh Amerika. Kini, berlima duduk berhadapan dengan mantan penculik mereka membahas masalah penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan.

Selama 12 tahun lima pejabat senior ini diperlakukan seperti teroris : diborgol, dikerudungi dan dijebloskan ke kamp penahanan di Teluk Guantanamo, Kuba.

Salah satu perwakilan Taliban dalam perundingan itu, Mullah Khairullah Khairkhwa mengatakan, “Selama kami di Guantánamo, perasaan yang menggelayuti adalah kami telah dibawa ke sana secara tidak adil dan kita akan dibebaskan,” Ia melanjutkan “Tetapi tidak pernah terpikir bahwa suatu hari nanti akan ada negosiasi dengan mereka, dan saya akan duduk di sana bersama mereka di satu sisi dan kita di sisi yang lain.”

Tentu menarik jika kita mengenal lebih dalam siapa saja lima orang pejabat senior mantan Guantanamo ini. Bagaimana perjalanan hidupnya hingga ditangkap oleh Amerika, dijebloskan ke kamp di Kuba, bebas dan kembali bertatap muka dengan para penculiknya. Kelima orang ini adalah

  1. Mullah Khairullah Khairkhwa
  2. Abdul Haq Wasiq
  3. Mullah Fazel Mazloom
  4. Mullah Norullah Noori
  5. Mohammad Nabi Omari

Pertama, Mullah Khairullah Khairkhwa

Mullah Khairullah Khairkhwa adalah tokoh yang paling senior dari lima orang utusan Taliban. Ia termasuk generasi awal Taliban tahun 1994 dan menjabat sebagai menteri dalam negeri. Posisi strategis yang menonjol adalah sebagai gubernur provinsi Herat dari 1999-2001.

Di kalangan internal Taliban, ia dikenal cerdas dan “bermata elang”. Tokoh asli Afghanistan ini lahir pada 1967 di Kandahar dan mengenyam pendidikan di Haqqaniya dan Madrasah Akhora Khattak di Pakistan bersama dengan petinggi Taliban lainnya.

Pada 1980-an, Khairullah bergabung dengan Harakat-e Enqelab-e Islami (The Islamic Revolution Movement) sebuah gerakan islamis tradisionalis yang tergabung kelompok mujahidin Afghanistan berperang melawan pasukan Soviet selama Perang Soviet-Afghanistan. Gerakan ini dipimpin oleh Mohammad Nabi Mohammadi. Seperti yang telah disebutkan di atas, ia diangkat sebagai menteri dalam negeri dan menjadi juru bicara Taliban. Ketika Taliban merebut Mazar Sharif pada 1997, Khairullah ditempatkan di sana sebagai komandan memimpin pasukan dari Afghanistan Barat.

Dua tahun kemudian, ia didapuk sebagai gubernur di Herat selama 3 tahun sebelum akhirnya tertangkap. Tepatnya pada Februari 2002, tokoh yang disinyalir pernah berhubungan langsung dengan syaikh Usamah bin Ladin dan syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi rahimahumallah ini ditangkap pemerintah Pakistan. Awalnya ia ditempatkan di Kandahar kemudian dipindahkan ke penjara Guantanamo pada Mei 2002.

BACA JUGA  Ditanya Soal Surat Suara Tercoblos, Luhut: Saya Belum Tau

Selama interogasi yang di luar nalar kemanusiaan, Khairullah selalu menolak bahwa ia terlibat dalam kegiatan ekstrimisme dan terorisme. Namanya berkali-kali muncul untuk kemungkinan dibebaskan. Februari 2011 muncul berita ia akan dibebaskan karena penahanan yang melanggar hukum, tetapi isu itu mandeg dan pembebasan benar-benar terjadi pada 1 Juni 2014.

Itu pun karena adanya pertukaran tawanan antara lima pejabat senior Taliban dengan Bowe Bergdahl, seorang tentara angkatan darat AS yang menjadi tawanan Taliban.

Kedua, Abdul Haq Wasiq

Ia adalah wakil kepala bagian Intelijen Taliban. Termasuk dalam jajaran tokoh penting dan ditakuti musuh. Lahir di Ghazni, Afghanistan pada 1971. Aktif di dalam Taliban mulai tahun 1996 hingga tahun 2001. Ia ditangkap pada akhir 2001 dalam sebuah operasi di Ghazni.

Pada awal Januari tanggal 11 tahun 2002, ia tiba di kamp Guantanamo dan mendapat perlakuan semena-mena sama dengan tahanan yang lainnya. Ia dibebaskan bersama dengan empat anggota lainnya pada 1 Juni 2014.

Ketiga, Mullah Fazel Mazloom

Mullah Fazel Mazloom atau dikenal juga dengan nama Fazel Muhammad Mazloom, Haji Fazl Akhund, Mullah Fazl Ahmad atau Mullah Fazl Akhund ini adalah tokoh yang terkenal di Taliban. Ia adalah seorang Kakar (suku Gharghashti Pashtun, sebagian besar berbasis di Provinsi Balochistan Pakistan, dan Loy Kandahar di Afghanistan) berasal dari Tirin Kot di Uruzgan.

Ketika Soviet menginvasi Afghanistan, Fazl dan ibunya pindah ke kamp pengungsi di Pakistan. Selama di sana, ia menuntut ilmu selama enam tahun di Rabinyah Madrasah. Setelah itu,salah seorang tokoh yang bernama  Mullah Abdul Ghafar mendorong Fazl untuk bergabung dengan Taliban, yang saat itu baru terbentuk. Fazl pergi ke Kandahar untuk bergabung dengan Taliban dan mendapat tugas pertamanya sebagai seorang tentara di Kandahar.

Kesolidannya dalam bertugas dan pengalamnnya yang luas membuatnya cepat berkembang. Pada 1996,Fazl telah diberi kepercayaan memimpin 100 pasukan. Dari 1999 sampai 2001, ia memimpin sekitar 3.000 pasukan dan ikut serta dalam konfrontasi melawan aliansi Utara. Segera setelah itu, ia diangkat menjadi kepala staf Taliban Angkatan Darat dan komandan divisi ke-10.

Ia ditangkap pada November 2001 oleh pasukan Aliansi Utara, kemudian diserahkan pada USA dan dijebloskan ke kamp Guantanamo pada Januari 2002. Aliansi Utara mendapatkan imbalan $500.000 atas jasanya memberikan seorang Fazl kepada AS.  Perlu diketahui, Fazl juga  menjadi incaran PBB karena dianggap sebagai aktor utama pemberangusan orang-orang Syiah di Afghanistan. Selama proses investigasi pun, Fazl tidak pernah menyesal melakukan itu.

BACA JUGA  KPAI Temukan Peningkatan Jumlah Anak Terlibat Kampanye Pemilu 2019

Selama 12 tahun ia mendekam di Guantanamo, dan bebas bersama empat rekannya pada Juni 2014.

Keempat, Mullah Norullah Noori

Mullah Norullah Noori adalah gubernur Taliban di provinsi Balkh. Usianya teramat muda ketika ikut serta dalam konfrontasi melawan invasi Soviet pada 1980-an. Noori bergabung dengan Taliban ketika gerakan ini mengepakkan sayapnya ke arah utara. Noori mulai dipercaya ketika diberi amanah sebagai gubernur Balkh pada 1998. Bahkan selama masa aktifnya di Taliban ia pernah menjadi gubernur provinsi sementara Jalalabad dan Gubernur sementara Mazar Sharif.

Ketika menjadi gubernur Balkh, tokoh yang lahir pada 1967 di Shajoie, Afghanistan ini memainkan peran penting dalam melawan Aliasi Utara. Namun, pada akhirnya, Noori tertangkap pihak Aliansi Utara setelah pada musim gugur 2001. USA dan aliansi utara bersekutu untuk memberangus Al-Qaidah. Noori pun menyerah, pada 26 November 2001 ia ditangkap kemudian dipindahkan ke Guantanamo pada 11 Januari 2002.

Setelah 12 tahun, ia pun dibebaskan bersama empat senior Taliban lainnya di atas.

Kelima, Mohammad Nabi Omari

Mohammad Nabi Omari adalah seorang hakim di wilayah Khost. Lahir di Khowst, Afghanistan pada 1968. Selain bekerja untuk Taliban, Omari juga diduga bekerja di bawah Jalaludin Haqqani. Namun, dalam persidangan ia mengaku bekerja untuk Taliban saja, tidak mengakui hubungan dengan kelompok yang lain.

Ia ditangkap dan dibawa ke Guantanamo pada 28 Oktober 2002. Dibanding dengan keempat tokoh yang dibebaskan bersamanya, Omari adalah yang paling terakhir didatangkan dari Afghanistan ke Kuba. Pada akhirnya ia dibebaskan pada 1 Juni 2014 bersama empat rekan lainnya seperti yang telah disebutkan di atas.

Sekali lagi hal unik terjadi ketika kelima tokoh di atas yang dibawa ke Guantanamo secara zalim, kembali dipertemukan dengan Amerika dalam satu meja perundingan. Sebuah pemandangan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya duduk bersama para penculik, penyiksa dan perampas waktu 12 tahun yang dihabiskan sia-sia di kamp penyiksaan Guantanamo.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Sumber

 

  1. https://www.afghanistan-analysts.org/
  2. https://en.wikipedia.org/
  3. https://www.nytimes.com/

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Editorial: Taliban, Bukan Lagi Potret Distopia

Editorial - Sabtu, 02/03/2019 06:08

Taliban Luncurkan Serangan Serentak di Empat Provinsi

Afghanistan - Jum'at, 11/01/2019 06:56