Mengenal Masyarakat Jahiliyah Bersama Sayyid Quthb

Foto: Penyembahan berhala, simbol jahiliyah masyarakat Arab pra-Kenabian.

KIBLAT.NET – Masyarakat jahiliyah seringkali diartikan sebagai masyarakat yang masih tertutup kebodohan. Dan ketika ditanya perihal contoh, sebagaian besar kita pasti menjawab masyarakat Arab pra-kenabian. Namun bila kita renungkan dan kita pelajari, masyarakat Arab pra-kenabian sejatinya juga tidak bisa dikatakan bodoh (bodoh dalam definisi kekinian tentunya). Masyarakat Arab pra-kenabian khususnya suku Quraisy justru termasuk yang maju pada zaman itu khususnya dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Jadi bagaimana sebenarnya pengertian masyarakat jahiliyah? Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi Ath-Thariq memberikan dua batasan mengapa sebuah masyarakat dikatakan jahiliyah. Batasan pertama, bahwa masyarakat jahiliyah adalah setiap masyarakat selain masyarakat muslim. Lalu batasan kedua, setiap masyarakat yang tidak memurnikan penghambaannya kepada Allah semata. Penghambaan ini terejawantahkan dalam konsepsi teologis, ritual-ritual ibadah, dan dalam peraturan perundang-undangan.

Pendapat Sayyid Quthb tersebut tentu kontradiktif dengan pendapat sebagian ulama yang mendefinisikan masyarakat jahiliyah sebagai masyarakat pra-kenabian, sehingga pasca kenabian tak ada lagi masyarakat jahiliyah. Definisi ala Sayyid Quthb tampaknya lebih universal, dalam artian berlaku di segala ruang dan waktu.

Sehingga ada kemungkinan atau bahkan kepastian akan adanya masyarakat jahiliyah di setiap zaman. Bisa jadi itu adalah masyarakat di samping kanan kita, kiri kita, depan kita,  atau bahkan masyarakat yang kita sedang menjadi bagian di dalamnya.

Selanjutnya, Sayyid Quthb membagi masyarakat jahiliyah dalam empat kelompok dimana masing-masing mempunyai sebab dan tingkat kejahiliyahan yang berbeda.

Kelompok pertama adalah masyarakat komunis. Penyebabnya adalah -tentu saja- pengingkaran penuh mereka atas eksistensi Allah SWT. Masyarakat komunis meyakini bahwa kekuatan kendali alam semesta ini berasal dari benda atau alam itu sendiri, mereka juga meyakini bahwa kendali atas kehidupan manusia serta sejarahnya berpangkal pada persoalan ekonomi serta alat-alat produksi semata. Masyarakat komunis juga membangun tatanan ketundukan hanya terhadap partai saja, jadi sudah pasti mereka tidak tunduk kepada Allah SWT.

Komunisme telah membawa manusia pada pemahaman bahwa kebutuhan manusia hanyalah sebatas kebutuhan-kebutuhan hidup seperti sandang, papan, pangan, dan pemenuhan hasrat seksual. Komunisme menafikan kenyataan bahwa manusia mempunyai kebutuhan spiritual, sesuatu yang akan membedakan manusia dengan binatang atau lebih tepatnya sesuatu yang membuat manusia bisa disebut manusia. Sebagai makhluk spiritual, di samping membutuhkan kepercayaan kepada Tuhan, manusia juga membutuhkan aturan-aturan Tuhan, yang akan memberinya rambu-rambu serta batasan dalam mengekspresikan jati dirinya di muka bumi ini.

Kelompok kedua adalah masyarakat paganis. Konsep teologis masyarakat paganis selalu berasaskan penuhanan selain Allah, terkadang mereka menyembah Allah SWT tetapi menyekutukannya bersama berhala rekaan mereka dalam ritual peribadatan. Namun tak jarang mereka menafikan keberadaan Allah SWT lalu memuja berhala-berhala yang mereka ciptakan sendiri. Mendedikasikan ritual peribadatan kepada segala sesuatu –selain Allah- yang diklaim memiliki unsur ketuhanan adalah trademark masyarakat paganis.

Lalu yang ketiga adalah masyarakat Yahudi dan Nasrani di seluruh penjuru bumi. Dikategorikan demikian karena konsepsi teologisnya telah mengalami distorsi. Konsepsinya tidak lagi mengesakan Allah SWT, mereka merekayasa adanya sekutu bagi-Nya dalam salah satu bentuk syirik, entah dalam konsep Tuhan mempunyai anak ataupun dalam konsep trinitas. Ada juga yang menggambarkan Allah dengan ilustrasi yang tidak semestinya, dan ada pula yang menggambarkan hubungan Khaliq-makhluk tidak dengan pola yang sebenarnya.

Allah SWT menyinggung perilaku mereka dalam beberapa ayat,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (QS At Taubah: 30).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS Al Maidah: 73).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu, “sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS Al Maidah: 64).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). (QS. Al-Maidah : 18).

Selain itu, tata aturan serta perundangan mereka sudah tidak lagi berdasar pada penghambaan kepada Allah SWT semata, mereka tidak menyatakan bahwa otoritas memerintah hanyalah kepunyaan Allah saja. Mereka justru mendirikan lembaga-lembaga berisi para rahib serta pendeta, dan memberi mereka otoritas tertinggi untuk mengatur kehidupan mereka. Mereka akan melaksanakan apapun keputusan rahib serta pendeta meski mereka mengetahui bahwa keputusan tersebut tidak sesuai dengan syariat Allah SWT. Memang, dalam dunia kekristenan sempat terjadi gerakan yang meruntuhkan otoritas pendeta yang kebablasan tersebut, namun setelahnya mereka justru bertindak lebih fatal, karena memberikan otoritas tertinggi kepada kalangan bukan pendeta, yang malah lebih jauh dari ajaran-ajaran suci Injil mereka.

Kelompok yang terakhir, adalah komunitas-komunitas yang mengaku sebagai masyarakat muslim. Masyarakat ini dikategorikan demikian bukan karena mereka meyakini ketuhanan seseorang selain Allah, bukan pyula karena mendedikasikan ritual peribadatan kepada selain Allah SWT.

Tetapi, karena mereka tidak menjalankan penghambaan kepada Allah semata dalam tatanan kehidupan mereka. Sehingga, meski dalam berkeyakinan tidak menyekutukan Allah SWT, tetapi -entah sadar ataupun tidak- mereka telah menyematkan otoritas ketuhanan paling hakiki kepada selain Allah. Mereka tunduk pada kekuasaan selain Allah, menerima sistem yang diterapkannya, peraturan-peraturannya, nilai-nilainya, pertimbangan-pertimbangannya, tradisi-tradisi, adat-istiadat, serta segala hal yang menunjang kehidupan mereka.

Sebagai seorang muslim, yang menjalani keseharian dengan spirit bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik lagi, tentu penjelasan Sayyid Quthb mengenai masyarakat jahiliyah di atas perlu menjadi bahan muhasabah, perlu menjadi bahan renungan, sudahkah kita terbebas dari kejahiliyahan, atau lebih tepatnya, sudah seberapa jauh kita dari kejahiliyahan?!

Penulis: Rusydan Abdul Hadi

 

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Abu Qotadah Al-Filastini: Kemewahan Adalah Musuh Jihad

Tarbiyah Jihadiyah - Sabtu, 01/06/2019 14:49

Selalu Menjaga Keikhlasan dalam Amal Islami

Tarbiyah Jihadiyah - Rabu, 27/03/2019 10:59

Menjalani Hidup dengan Mentalitas Mujahid

Tarbiyah Jihadiyah - Ahad, 17/03/2019 11:57