Editorial: Kita Yang Tak Jauh Lebih Baik dari Kongo

Foto: Pemilu di Kongo.

KIBLAT.NET – Akhir Desember 2018. Salah satu negara besar di benua Afrika menggelar Pemilu. Pemilu tersebut merupakan pemilu yang diharapkan akan berjalan secara demokratis, setelah dipimpin oleh Presiden Joseph Kabila selama 18 tahun.

Kongo, nama negara itu, sudah lama dipimpin barisan rezim otoriter. Sebelum Kabila berkuasa, ada Mobutu Sese Seko. Mobutu dikenal sebagai seorang pemboros, ia pernah mencarter pesawat Concorde untuk membawa keluarganya belanja di Paris.

Di pemilu 2019 ini, Kongo memiliki tiga kandidat. Pertama ialah pemimpin oposisi Felix Tshisekedi, pemimpin koalisi Lamuka, Martin Fayulu dan boneka rezim sebelumnya Emmanuel Ramazani Shadary—kandidat presiden dari koalisi Common Front for Congo (FCC).

Pemilihan presiden di Kongo diwarnai beragam insiden serius. Sejumlah daerah di Kongo tengah dilanda wabah ebola, serangan oleh milisi bersenjata, hingga kebakaran misterius di gudang yang dijaga militer di ibukota menyebabkan 8.000 mesin pemilu elektronik rusak. Insiden tersebut menyebabkan pemilu tertunda.

Tak hanya itu, sejumlah keanehan pun terjadi. Di beberapa daerah, banyak kotak suara dibuang. Juga munculnya para pemilih hantu, yaitu pemilih tak terdata yang nyatanya bisa ikut memilih. Kejadian semacam itu rasanya tak asing terdengar di telinga orang Indonesia, yang juga baru saja menyelenggarakan Pilpres 2019.

Ketika Pilpres 2019, di Kongo usai digelar. Keganjilan pun banyak terjadi. Hasil pemilu terus diundur karena mandeknya data coblosan yang masuk ke CENI (Komisi Pemilihan Independen Nasional Kongo). Semacam KPU-nya Kongo. Akhirnya, masing-masing kandidat saling mengklaim merekalah pemenangnya. Menjelang hasil coblosan diumumkan, pemerintah Kongo mematikan koneksi internet dan layanan SMS untuk mencegah banyaknya propaganda di dunia maya.

BACA JUGA  Terkena Stroke, Eks Presiden Tunisia Ben Ali Meninggal di Arab Saudi

Pada 9 Januari, pemimpin oposisi Felix Tshisekedi disebut memenangkan pemilihan presiden dengan 36,6 persen suara. Urutan kedua adalah Martin Fayulu yang mencetak 34,8 persen. Dan, Emmanuel Ramazani Shadary berada di urutan ketiga dengan 23,8 persen.

Namun hasil itu banyak dimentahkan oleh kelompok sipil. Gereja Katolik Kongo yang mengirim 40.000 pemantau, menegaskan hasil pemilu seharusnya dimenangkan secara telak oleh Martin Fayulu. Fayulu kemudian menggugat hasil pengumuman CENI seraya menuduh bahwa Tshisekedi telah bermain mata dengan rezim sebelumnya.

Komunitas Pengembangan Afrika Selatan (SADC) juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Kongo harus menghitung ulang suara dari pemilihan presiden yang diperebutkan itu. Blok regional yang beranggotakan 16 negara itu menegaskan penghitungan ulang agar ada jaminan bagi pemenang sesungguhnya.

Sementara itu, Prancis dan Belgia juga menentang hasil pemilihan presiden, di mana Menteri Luar Negeri Prancis mengatakan bahwa kemenangan Tshisekedi “tidak konsisten” dengan hasil, dan bahwa lawannya Fayulu tampaknya telah menang.

Sementara, AS bersama dengan Inggris, Pantai Gading, dan Belgia, telah mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap mereka yang merusak proses pemilu Kongo. Washington telah mengirim pasukan ke Gabon sebagai tindakan pencegahan jika warga negaranya perlu diselamatkan dari kekerasan.

Apa yang terjadi di Kongo sesungguhnya tak begitu jauh berbeda dengan apa yang kita alami di negeri ini. Kecurangan dalam proses transisi kepemimpinan memang selalu terjadi di mana saja. Sudah tabiat manusia selalu ingin berkuasa, berapapun harganya.

BACA JUGA  Mengapa Materi Perang dalam Kurikulum Sejarah Itu Penting?

Nampaknya, negeri ini masih sama ironisnya dengan negeri bernama Republik Demokratik Kongo. Menyandang nama demokrat di dalam namanya tak menjamin kebahagiaan warganya. Di Kongo, banyak rakyat mati karena Ebola. Di Indonesia sebanyak 250 warga mati karena menjaga kotak suara. Nyatanya, kita tidak lebih baik dari Kongo.

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Editorial: Ada “Brenton” di Negeri Kita

Editorial - Ahad, 17/03/2019 10:49

Editorial: Suka-Suka ala Saracen

Editorial - Rabu, 13/02/2019 11:02

Mencari Al-Mu’tashim Baru untuk Uighur

Editorial - Sabtu, 22/12/2018 12:49