Bagi Seorang Uighur, Puasa adalah Sebuah Kemewahan

Foto: Muslim Uighur

KIBLAT.NET – Ramadhan telah tiba. Setelah sekian lama berpisah, kini bulan yang dirindukan ini telah hadir menghampiri kita. Kedatangannya selalu dinantikan dan dielu-elukan oleh umat Islam. Suasana bersamanya menyenangkan dan membuat jiwa-jiwa orang mukmin tenang dan damai.

Bagi umat Islam, Ramadhan bagaikan tamu agung yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Karena Ramadhan hadir bersama sejumlah “hadiah” dari Allah SWT berupa pahala yang berlipat, rahmat, pengampunan dosa, kemuliaan, keberkahan, dan lainnya.

Secara umum, umat Islam di seluruh penjuru dunia akan menyambut kedatangan Ramadhan dengan perasaan gembira dan suka cita. Namun tidak demikian halnya dengan muslim Uighur yang menempati daerah otonomi Uighur, Xinjiang, Cina. Mereka menyambut Ramadhan dengan penuh was was dan keraguan.

Coba kita bayangkan sejenak, ibadah puasa yang “sekedar” menahan makan, minum, dan hubungan suami istri ternyata menjadi hal yang serba rumit bagi muslim Uighur.

Dilansir dari laporan Amnesty International, bahwa dalam memperlakukan muslim Uighur, otoritas Cina melihat puasa sebagai tanda ekstremisme. Tidak hanya itu, tampilan-tampilan luar yang terkait dengan ajaran Islam seperti memanjangkan janggut, mengenakan jilbab, sholat, puasa, hingga menghindari alkohol juga dikategorikan sebagai tanda-tanda ekstremisme.

Sederet aktivitas ibadah di atas –yang begitu mudahnya dan begitu malasnya kita kerjakan- bisa menyeret seorang muslim Uighur ke dalam Kamp Konsentrasi, yang oleh pemerintah Cina diistilahkan sebagai transformation-through-education centres atau pusat transformasi melalui pendidikan, yang dilaporkan telah menahan satu juta orang lebih secara sewenang-wenang.

Intensitas pengawasan serta penahanan secara massal terhadap muslim Uighur telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Segala macam praktik keagamaan serta tradisi budaya keislaman mereka menjadi hal yang terlarang untuk ditampilkan.

Ramadhan di Sekolah

BACA JUGA  Suasana Haru Iringi Sholat Jenazah Rozian

Gulzire, seorang wanita Uighur dari Yining, di barat laut Xinjiang, menuturkan bahwa ketika dia belajar di sekolah menengah pada awal tahun 2000-an, gurunya mendesak siswa untuk tidak berpuasa karena mereka membutuhkan nutrisi yang baik untuk mempersiapkan ujian publik mereka. Beberapa siswa tetap berpuasa dan tinggal di kelas untuk beristirahat selama makan siang alih-alih pulang atau pergi ke kantin untuk makan. Untuk memastikan para siswa tidak berpuasa, terkadang guru pergi ke ruang kelas untuk memeriksa siswa. Masih lekat dalam ingatan Gulzire, bagaimana dia menunjukkan kepada seorang guru makan siang yang dibawanya sebagai bukti bahwa ia tidak berpuasa. Gulzire mengatakan bahwa pada saat itu aturan larangan tidak terlalu ketat, sehingga beberapa siswa masih berhasil berpuasa meskipun dengan sembunyi-sembunyi.

Larangan ini ternyata tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Tiongkok. Ketika Gulzire meninggalkan Xinjiang untuk belajar di kota Shenzhen di Cina selatan pada tahun 2006, ia terkejut dengan keterbukaan yang ia temukan di sana. Selama festival keagamaan, Universitas Shenzhen akan mengangkut Gulzire dan teman-teman Xinjiangnya ke masjid atau ke acara keagamaan dan budaya lainnya. Dia mengatakan bahwa teman-teman sekelasnya -yang sebagian besar berasal dari mayoritas etnis Han- juga sangat berpikiran terbuka dan mendukung praktik budaya Uighur

Sebuah Titik Balik

Situasi menjadi semakin memburuk pada musim panas 2009. Dimulai sejak peristiwa konflik antar-etnis di Urumqi, ibukota Xinjang, yang menewaskan hamper dua ratus orang. Sebagai respon, militer Cina pun hadir dengan pengawasan yang sangat ketat di seluruh Xinjiang, hal ini justru meningkatkan intensitas ketegangan di wilayah tersebut, situasinya menjadi sangat mencekam dan menakutkan bagi muslim Uighur.

BACA JUGA  Dituduh Radikal, Dikeluarkan dari Kampus, Mahasiswa Ini Malah Dibanjiri Tawaran Kerja

Gulzire mengisahkan, pada saat itu orang tuanya menyuruhnya berhenti pergi ke masjid, bahkan ketika dirinya berada di Shenzhen sekalipun. Mereka khawatir dicap sebagai keluarga ekstremis, mereka juga berhenti berbicara dengannya tentang Al-Quran dan berhenti untuk sekedar mengucapkan Qurban bayram mubarek (ucapan selamat hari raya qurban) melalui telepon.

Sejak itu, situasinya terus memburuk. Serangkaian undang-undang disahkan untuk melegitimasi segala bentuk diskriminasi agama dan etnis, dan penindasan pun meningkat di Xinjiang.

Menurut peraturan yang disahkan pada tahun 2017, orang dapat diberi label ekstremis karena menolak untuk menonton radio publik dan program TV, mengenakan burqa atau memiliki janggut yang melebihi “batas normal”.

Pada April 2017, pemerintah dilaporkan menerbitkan daftar nama-nama yang dilarang, yang sebagian besar adalah nama-nama Islami, dan mengharuskan semua anak di bawah enam belas tahun dengan nama-nama ini untuk segera mengubah namanya.

Sebuah Harapan

Ramadhan kali ini, banyak muslim Uighur yang terpisah dari orang-orang yang mereka cintai, beberapa hilang entah ke mana, sementara yang lain mendekam di kamp konsentrasi.

Jurnalis Radio Free Asia, Gulchehra Hoja yang meninggalkan Cina sejak delapan belas tahun lalu, mengaku bahwa setelah pindah ke Amerika Serikat barulah dirinya bisa sepenuhnya merayakan Ramadhan. Hoja pun bertutur perihal kehidupan masa lalunya di Xinjiang, dia berkata:

“Saya ingat hanya orang tua seperti nenek saya yang berpuasa dan berdoa untuk meminta kepada Allah agar mengampuni anak-anaknya karena tidak berpuasa. Sekarang giliran saya yang berdoa untuk keluarga saya dan seluruh orang Uighur.”

Ya begitulah, bagi seorang Uighur, puasa adalah sebuah kemewahan.

Penulis: Rusydan Abdul Hadi

 

Ingin membantu muslim Uighur? Klik disini. 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga