Badan Wakaf Indonesia Galakkan Wakaf Produktif

Foto: Badan Wakaf Indonesia (BWI)

KIBLAT.NET, Jakarta – Badan Wakaf Indonesia (BWI) terus menggencarkan sosialisasi wakaf produktif. Dari keseluruhan aset wakaf yang ada saat ini, sebanyak 90 persen di antaranya tak dikembangkan untuk menjadi wakaf produktif.

Kepala Divisi Pengelolaan dan Pemberdayaan BWI, JE. Robbyantono mengatakan wakaf sebenarnya telah berkembang di Indonesia sebelum lembaga wakaf nasional berdiri. Namun, aset wakaf yang ada belum dikembangkan secara maksimal menjadi akaf produktif.

Badan Wakaf Indonesia (BWI) mencatat adanya aset wakaf seluas 4,3 miliar meter persegi. Namun, sebagian besar dari aset itu tak dikembangkan menjadi wakaf produktif.

“Sekarang 90 persen masih jadi masjid, kuburan, dan pesantren,” kata Robbyantono di Jakarta, Selasa (14/05/2019).

Situasi tersebut, lanjut Robbyantono, agak berbeda dengan praktik awal wakaf. Dia kemudian mencontohkan wakaf yang dilakukan sahabat Umar bin Khattab yang pada masa Rasullullah mewakafkan kebun kurma terbaiknya, yang saat itu sangat menghasilkan. Hasil kebun kurma itu kemudian diperuntukkan bagi kemaslahatan umat. “Jadi dia asetnya adalah aset yang menghasilkan, ada omsetnya,” ujarnya.

Situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi BWI. Tantangan lainnya adalah pemahaman yang belum sama di kalangan para pengelola wakaf (nadzir) terhadap wakaf produktif. Sehingga muncul anggapan bahwa wakaf harus disimpan terus menerus dan tak boleh diproduktifkan, karena punya potensi merugi atau hilang.

Akhirnya, muncul langkah nadzir menukar guling aset wakaf yang ada di kota besar dengan tanah-tanah di kampung-kampung. Akibatnya, tanah wakaf di kampung tak bisa berkembang. Sementara, aset di kota besar jika dikelola dengan baik akan berpotensi menghasilkan pemasukan yang besar, misalnya dikembangkan untuk usaha properti.

BACA JUGA  Gandeng PPMI, KBRI Islamabad Salurkan Daging Qurban Kepada Masyarakat Pakistan

“Banyak aset-aset yang akhirnya jadi korban ruislag, karena kepahaman wakaf produktif tidak masif dipahami oleh masyarakat,” kata Robbyantono.

“Dengan adanya BWI maka kita sudah mulai menggalakkan mengenai wakaf produktif,” pungkasnya.

Robbyantono menyebut wakaf di Indonesia kebanyakan masih dikelola dengan tradisional. Karenanya, untuk mensosialisasikan wakaf produktif pihaknya melakukan sejumlah program seperti seminar dan gerakan wakaf goes to kampus.

“Kita perlu mengedukasi mereka dalam mengelola wakaf, sehingga nanti muncul nadzir yang profesional, bahkan kita bikin core principal-nya untuk standar mengelola wakaf,” tandasnya.

Reporter: Imam S.
Editor: Wildan Mustofa

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga