Soal Ujian Nasional Bocor, Somalia Blokir Media Sosial

Foto: Ilustrasi media sosial. (Foto: Mastel)

KIBLAT.NET, Mogadishu – Ratusan siswa sekolah menengah berunjuk rasa di Mogadishu, ibu kota Somalia. Setelah pengumuman pembatalan dan penundaan ujian nasional mereka, menyusul laporan adanya dugaan kebocoran soal-soal ujian.

Menteri Pendidikan Somalia, Abdullahi Godah Barre pada hari Senin (13/05/2019) mengumumkan pembatalan ujian yang seharusnya dimulai Sabtu lalu dan berakhir pada 21 Mei. Ujian ditunda dijadwalkan akan digelar pada tanggal 27 hingga 31 Mei, dan Abdullahi juga menambahkan bahwa media sosial akan diblokir pada hari-hari itu.

Belum diketahui secara pasti, apakah demonstrasi para siswa dipicu oleh pembatalan ujian atau rencana pemblokiran media sosial. Namun yang pasti adalah pemerintah mengkambinghitamkan media sosial atas kebocoran tersebut, alih-alih mengakui kelalaian mereka dalam menjaga kerahasiaan soal ujian.

Beberapa warga Somalia menyatakan ketidaksukaan terkait rencana pemerintah untuk memblokir media social, karena kebocoran ujian sejatinya bukan hal baru di Afrika dan bagian dunia lainnya.

Namun, pemblokiran media sosial juga bukan hal baru di Afrika. Pada Juli 2018, Negara tetangga Somalia, Somaliland memblokir media sosial selama dua jam per hari ketika ujian sekolah menengah berlangsung selama empat hari, untuk mencegah kebocoran. Pemerintah mengatakan penutupan akan mencegah penyimpangan ujian, penyebaran surat-surat palsu, dan desas-desus palsu.

“Ini tindakan sementara yang akan berlangsung berjam-jam ketika siswa duduk untuk ujian. Media sosial telah terbukti menjadi ancaman bagi ujian, ” kata Menteri Telekomunikasi dan Teknologi Somaliland, Abdiweli Sheikh Ibrahim saat itu.

BACA JUGA  Junta Militer dan Oposisi Sipil Sudan Bentuk Dewan Kedaulatan

Delapan bulan sebelum penutupan, Somaliland bahkan memblokir internet selama pemilihan presiden mulai dari hari pemilihan hingga hari hasil diumumkan.

Pada tahun yang sama, Aljazair juga mematikan koneksi internet seluler selama berhari-hari selama ujian sekolah menengah. Seluruh negara offline selama beberapa jam setiap hari untuk mencegah kecurangan. Langkah serupa dilakukan oleh Ethiopia pada tahun 2017, selama ujian wajib sekolah menengah Nasional.

Hal ini juga merupakan praktik umum di India dan Irak, di mana situs media sosial dan internet secara keseluruhan ditutup untuk ujian dan alasan lain termasuk pemilu.

Menurut Access Now, sebuah kelompok advokasi yang didedikasikan untuk internet yang terbuka dan gratis, penutupan internet dan upaya untuk mengontrol aliran informasi online selama pemilihan dan protes adalah tindakan yang merugikan diri sendiri serta mencederai hak asasi dan hak ekonomi manusia .

“Mereka membatasi akses ke informasi, menghentikan kebebasan berekspresi, dan memblokir pelaksanaan banyak hak lain yang sangat vital untuk demokrasi yang berfungsi,” katanya.

Negara-negara Afrika seperti Uganda, Kongo, Chad, Gabon, Niger, dan Gambia telah memblokir koneksi internet selama pemilihan umum mereka di masa lalu. Namun, pemblokiran tersebut tidak mengurangi kontroversi selama pemilihan umum.

Sumber: Face2faceafrica
Redaktur: Rusydan

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Ledakan Bom Kembali Melanda Mogadishu

Afrika - Jum'at, 23/03/2018 15:45