Ramadhan, Bulan Jihad dan Kemenangan

Foto: Ramadhan bulan jihad

KIBLAT.NET – Ramadhan selalu membawa keberkahan bagi kaum muslimin. Salah satunya, pada bulan yang mulia ini Allah Ta’ala memberikan beragam kemenangan bagi umat Islam. Bukan hanya kemenangan melawan hawa nafsu, seperti yang sering kita dengar, tetapi justru kemenangan melawan musuh di medan perang. Karenanya, Ramadhan selain disebut dengan syahru shiyam (bulan puasa) juga disebut sebagai syahrul jihad wal intisharat (bulan jihad dan kemenangan).

Sejarah telah mengabadikan beragam peristiwa kemenangan besar yang menjadi titik awal perubahan Islam. Kemenangan itu diawali dengan keberhasilan kaum muslimin dalam Perang Badar. Perang ini terjadi bertepatan dengan tahun diwajibkannya puasa Ramadhan, yakni tahun 2 H. Kemudian diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dengan sebutan yaumul furqon (Hari Pembeda). Sebab, waktu itu Allah hendak membedakan antara yang haq dan yang batil. Perang penentuan terhadap masing-masing golongan, serta pembuktian atas benar dan tidaknya perjuangan.

Para sejarawan mencatat, tidak banyak dari kaum muslimin yang ikut perang penentuan tersebut. Jumlah mereka hanya 313 orang. Sementara dari pihak musuh, jumlahnya mencapai 1000 personil dengan persenjataan lengkap. Kondisi ini menyebabkan Nabi SAW berulangkali memohon kepada Allah:

اَللَّهُمَّ نَصْرُكَ الَّذِيْ وَعَدْتَنِيْ، اَللَّهُمَّ نَصْرُكَ الَّذِيْ وَعَدْتَنِي، اَللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ لاَ تُعْبَدْ بَعْدَ الْيَوْمِ فِي اْلأَرْضِ.

“Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, andaikan umat ini hancur luluh, niscaya Engkau tidak disembah lagi di muka bumi ini setelah hari ini.”

Hingga Abu Bakar yang berada dekat Nabi saat itu, merasa kasihan terhadap beliau lalu mendekatinya sambil berkata, “Ya Rasulullah, (yakinlah) setelah untaian doa yang engkau sampaikan kepada Rabbmu, niscaya Allah akan menyelamatkanmu sebagaimana yang dijanjikan.” Dengan doa yang dilafazkan oleh Nabi, kemudian diiringi dengan keteguhan iman dan ketangguhan para sahabat dalam melawan musuh, Allah ta’ala pun menurunkan kemenangan kepada kaum muslimin. Dan akhirnya, ajaran Islam tegak serta tersebar ke seluruh Jazirah Arab.

BACA JUGA  Suasana Haru Iringi Sholat Jenazah Rozian

Peristiwa di atas memberi satu perlajaran penting buat kita, yaitu musuh yang berjumlah tiga kali lipat bukan hal yang mustahil untuk dikalahkan. Tapi pertanyaannya, Apa yang harus dipersiapkan untuk memenangkan pertempuran seperti itu?

Ramadhan Bulan Jihad dan Kemenangan

Dalam kitab, Ramadhan wa Bina’ al-Ummah, DR. Raghib As-Shirjani menjelaskan bahwa Ramadhan adalah kunci kemenangan kaum muslimin pada Perang Badar. Ramadhan merupakan madrasah rabbani dalam menyiapkan generasi tangguh yang siap bertempur. Barisan muslim yang pantas berperang di Badar atau peperangan lainnya membutuhkan suatu pendidikan yang sangat khusus. Dan Ramadhanlah di antara institusi yang dapat melaksanakan tugas ini.

Pertama, Ramadhan mendidik kita untuk memenuhi perintah-perintah Allah ‘azza wa jalla secara totalitas (sempurna) tanpa memandang hikmah perintah itu. Sebab, Allah ‘azza wa jalla mencintai hamba-Nya yang tunduk kepada-Nya tanpa membantah dan menaati-Nya tanpa keraguan. Memang, terkadang Allah menampakkan hikmah di balik perintah-Nya. Namun, tidak jarang Allah juga merahasiakannya. Meskipun demikian, orang-orang mukmin wajib taat dalam segala hal.

Kedua, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya, atau bisa juga disebut, “menindak tegas” syahwat agar berada pada posisi yang benar. Ketika Ramadhan, seorang mukmin dilarang melakukan hal-hal yang pada hakekatnya adalah halal dilakukan, namun hanya diharamkan pada siang Ramadhan saja. Sehingga, orang yang mampu menahan dirinya dari yang halal maka ia akan lebih sanggup menahan dirinya dari makanan haram, minuman haram, hubungan-hubungan yang diharamkan, dan seterusnya.

Lantas apa hubungannya jihad dengan puasa? Mengapa seorang pribadi mujahid butuh berlatih dengan baik di madrasah (institusi) yang bernama “puasa”?

Ramadhan dan jihad fi sabilillah memiliki ikatan penghubung yang sangat erat. Di antara contoh yang paling tampak misalnya, Ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran atas segala bentuk kesulitan. Demikian juga dengan jihad, ia juga merupakan perintah yang dituntut untuk selalu bersabar atas setiap himpitan musuh. Ia merupakan amal yang cukup sulit untuk dikerjakan. Setiap mujahid pasti akan mengalami saat-saat di mana mereka tidak menemukan makanan, minuman, dan juga isteri. Orang yang sudah terbiasa berpuasa akan lebih sanggup berjihad dari orang yang tidak terbiasa melakukannya.

BACA JUGA  BJ Habibie Wafat, Ulama dan Tokoh Sampaikan Duka Cita

Selain itu, kesamaan lainnya juga adalah puasa Ramadhan merupakan syariat yang berlaku hingga hari kiamat. Sama halnya dengan jihad, ia juga syariat yang terus berlangsung hingga hari kiamat. Tujuannya, untuk menjaga akidah, kehormatan, harta, jiwa dan wilayah kaum muslimin. Keterangan ini telah ditegaskan dalam banyak hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya riwayat dari Anas bin Malik radhiyallhu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ

“Jihad akan senantiasa berlangsung sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kezaliman orang zalim ataupun keadilan orang adil,” (HR. Abu Dawud)

Besarnya pengaruh puasa bagi tegaknya syariat jihad bisa ditandai dengan banyaknya capaian kemengangan yang diperoleh kaum muslimin di bulan Ramadhan. Selain Perang Badar yang disebutkan di atas, sejarah telah merekam beragam peristiwa kemenangan besar dalam Islam yang terjadi pada bulan tersebut. Di antara catatan yang paling fenomenal adalah Penaklukan Mekah, Perang Buwaib, Perang Qodisiah, Pertempuran Hittin, Pertempuran ‘Ain Jalut, Penaklukan kota Andalus, Penaklukan India dan Pakistan, Penaklukan kota Amuriyah, Penaklukan kota Sirakusa dari tangan Romawi, Pertempuran Manzikert atau Malazgirt, dan sejumlah perang lainnya. Bahkan kemerdekaan Negera Indonesia pun terjadi pada bulan Ramadhan.

Semua kemenangan dalam perang tersebut diraih saat kaum muslimin diwajibkan berpuasa. Kuncinya, kedekatan hamba dengan Allah menjadi salah satu faktor utama dalam meraih kemenangan. Dan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ini artinya bulan Ramadhan adalah bulan jihad. Bulan kemenangan dan kemuliaan bagi umat Islam.

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Akhir Nasib Penguasa Tiran

Manhaj - Sabtu, 07/09/2019 20:00

Tingkatan Manusia dalam Membantu Kezaliman

Manhaj - Jum'at, 12/07/2019 19:32

Mereka yang Merugi di Bulan Ramadhan

Khazanah - Selasa, 04/06/2019 13:49