Ketika Telah Mencapai Nishab, Allah Akan Binasakan Pelaku Kezaliman

Foto: Kezaliman

KIBLAT.NET – Kezaliman memiliki batasannya dan batasannya adalah hukuman yang Allah berikan kepada pelaku kezaliman baik di dunia maupun di akhirat. Namun, yang seringkali luput dari pengamatan si zalim adalah hukuman yang Allah berikan kepada pelaku zalim bersifat tiba-tiba. Sedangkan pelaku kezaliman masih asik dengan berbagai macam kezalimannya.

Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah SWT di laut merah ketika dia sedang berada pada puncak kezalimannya. Penenggalaman Fir’aun adalah akibat dari pupuk-pupuk kezaliman yang ditaburkannya ke singgasana kekuasaaannya. Dimulai dari memperbudak Bani Israil, menzalimi mereka selama berpuluh-puluh tahun dan mendaku sebagai tuhan. Membunuhi anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil setelah dia mendapat mimpi.

Kezalimannya terus berlanjut ketika Musa datang kepadanya dan memperingatkan dirinya akan perbudakan yang dia lakukan terhadap bai Israil. Bukannya malah sadar, Fir’aun kemudian menuduh Musa dengan tuduhan yang macam-macam. Musa dituduh penyihir, pembuat onar, ingin memecah persatuan dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Jika kita melihat pola yang terjadi kepada Fir’aun, maka polanya bisa kita sederhanakan seperti ini. Fir’aun berbuat zalim dengan kekuasaan yang dia miliki, Allah mengutus Musa dan Harun untuk mengingatkannya, Fir’aun semakin menjadi-jadi dalam berbuat zalim kepada nabi Musa dan Bani Israil. Akhir cerita Allah menenggelamkan Fir’aun ketika dirinya berada di puncak kezalimannya. Allah SWT berfirman:

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Artinya, “Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (QS Al-Qoshosh : 40)

BACA JUGA  Baru! Tradisi Ngambek dalam Dunia Literasi Indonesia

Pelajarannya adalah, Allah pasti membalas pelaku kezaliman, meskipun terkadang terlihat dalam satu waktu Allah membiarkan pelaku kezaliman merajalela dengan kezalimannya. Semakin banyak dan massif kezaliman yang dilakukan, maka do’a-do’a orang yang terzalimi akan mengetuk pintu-pintu langit. Sehingga ketika sudah mencapai nishabnya Allah akan hukum dan hinakan pelaku kezaliman karena deposit kezaliman yang dia lakukan. Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوْا الظُلْمَ؛ فإنَّ الظُلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَة

Artinya, “Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman nantinya akan menyebabkan kegelapan pada hari kiamat.” (HR Muslim)

Mengomentari hadits di atas Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Subhanallah, saat seorang zalim bergelimang kenikmatan, berapa banyak air mata para janda mengalir karenanya, berapa banyak hati anak yatim terbakar olehnya dan berapa banyak air mata fakir miskin mengalir disebabkan karena kezalimannya.” (Badaiul Fawaid 3/762)

Salah satu di antara dosa yang Allah segerakan hukuman bagi pelakunya adalah kezaliman. Allah SWT berfirman:

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ۝ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

Artinya, “Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui (182) Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS Al-A’raf : 183-183)

Imam Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

الغالب أن الظالم تعجل له العقوبة في الدنيا وإن أمهل فإن الله يملي له حتى إذا أخذه لم يفلته

Artinya, “Yang sering terjadi adalah pelaku kezaliman akan disegerakan hukumannya di dunia meskipun Allah memberinya tenggat waktu. Karena Allah memberinya kelonggaran sehingga ketika Allah menghukumnya dia tidak akan selemat (dari hukuman Allah).”

Syaikh Abdul Azis Ath-Tharifi di dalam ceramahnya mengingatkan besarnya dosa kezaliman yang dilakukan oleh penguasa. Karena objek dari kezaliman penguasa adalah orang banyak. Semakin besar jumlah yang dizalimi maka semakin berlipat pula dosa kezalimannya.

BACA JUGA  Akhir Nasib Penguasa Tiran

Di masa salaf dahulu, diceritakan bahwa ada seorang salaf yang dihukum dengan hutang dan penjara karena dirinya pernah memanggil seseorang dengan sebutan wahai muflis (orang yang bangkrut). 40 tahun kemudian Allah memberikan balasan atas ucapannya tersebut. Itu kezaliman kepada satu orang. Bagaimana dengan kezaliman kepada rakyat? Kezaliman kepada umat?

Cuitan Syaikh Ath-Tharifi tentang tanda-tanda tumbangnya kezaliman

Cuitan Syaikh Ath-Tharifi tentang tanda-tanda tumbangnya kezaliman

Syaikh Ath-Tharifi menjelaskan bahwa kezaliman itu memiliki batasannya (nishab), jika nishabnya telah tercapai maka Allah turunkan hukumannya kepada para pelaku kezaliman. Di salah satu cuitannya, beliau menjelaskan ciri-ciri akan datangnya hukuman Allah kepada penguasa yang zalim. Beliau berkata:

إذا زاد الظلم وقلّ الناصر، فالله يُريد تهيئة أسباب العقوبة للظالم والساكت معاً ليُنزلها. يجهلون سنة الله فيهربون من بلائه إلى عقوبته

Artinya, “Jika kezaliman terus merajalela dan sedikit orang yang menolong, maka Allah ingin mempersiapkan sebab-sebab hukuman kepada pelaku kezaliman beserta orang yang diam terhadap kezaliman, yang kemudian Allah akan turunkan kepada keduanya. Mereka tidak mengetahui sunnatullah, sehingga mereka lari dari ujian Allah menuju hukuman Allah.”

Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Miftahul Ihsan

 

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Akhir Nasib Penguasa Tiran

Manhaj - Sabtu, 07/09/2019 20:00

Tingkatan Manusia dalam Membantu Kezaliman

Manhaj - Jum'at, 12/07/2019 19:32

Menggugat Penguasa Zalim dengan Doa-doa Mustajab

Khazanah - Rabu, 29/05/2019 11:34