Zakat Fitrah dengan Uang dalam Perspektif Mazhab Syafi’i

Foto: Zakat Fitrah dengan Uang

KIBLAT.NET – Para ulama sepakat bahwa zakat fitrah wajib dibayarkan di bulan suci Ramadan, dengan batas waktu terakhir sebelum dimulainya salat Idul fitrah. Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah penunaian zakat fitrah, apakah boleh dibayar dengan uang ataukah tidak?

Pendapat yang mu’tamad dalam Mazhab Syafii adalah tidak boleh membayar zakat fitrah dengan qimah (sesuatu yang senilai dengan kewajiban zakat, bisa jadi disetarakan dengan uang, makanan atau pakaian) Pendapat ini juga dikuatkan oleh jumhur ulama lainnya. Di antaranya Imam Malik dan Imam Ahmad. Namun tidak demikian dengan Abu Hanifah, beliau membolehkan membayar zakat dengan uang atau yang senilai dengannya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Muhammad Az-Zuhaili dalam kitab al-Mu’tamad fil Fiqhisy Syafi’i:

ولا مانع اليوم من الأخذ بقوله؛ لأنَّه أنفع في هذا العصر للفقراء، مع تحقيق الغاية من زكاة الفطر في إغناء الفقير

 “Hari ini tidak ada larangan untuk mengambil pendapat beliau (imam Abu Hanifah). Sebab, lebih bermanfaat bagi para fakir miskin sekarang dan lebih bisa mewujudkan tujuan dari syariat zakat fitrah itu sendiri, yaitu memberi kecukupan kepada fakir miskin.”

Dalam kitab Fiqh Al Manhaji Ala Mazhabisy Syafi’i disebutkan:

لا بأس باتباع مذهب الإمام أبي حنيفة رحمه الله تعالى في هذه المسألة في هذا العصر، وهو جواز دفع القيمة، ذلك لأنًّ القيمة أنفع للفقير اليوم من القوت نفسه، وأقربُ إلى تحقيق الغاية المرجوة

BACA JUGA  Mengapa Jurnalisme Islam (Harus) Ada? Sebuah Tanggapan untuk Muhamad Heychael

Artinya, “Tidak mengapa mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah ta’ala dalam masalah ini di zaman sekarang. Boleh membayar zakar fitrah dengan qimah. Sebab, ia lebih berguna dan bermanfaat bagi fakir miskin pada zaman ini daripada hanya sekedar makanan pokok. Dan ini lebih bisa mewujudkan tujuan yang diinginkan.”

Demikian juga pendapat yang serupa juga difatwakan oleh Imam Ar-Ramli, beliau berkata, “Maka diperbolehkan kepada orang yang disebut, mengikuti imam Abu Hanifah dalam mengeluarkan zakat dengan qimah (nilai) sebagai ganti dari zakat (bahan makanan pokok), dan tidak wajib baginya mengikuti Abu Hanifah pada perkara slain itu.” (Fatawa Imam Ar Ramli 1/55)

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan bahwa jika seseorang hendak memilih pendapat imam Abu Hanifah dalam masalah ini maka ia harus mengeluarkian zakat senilai ukuran yang telah diharuskan menurut ijtihad beliau. Sebab, besar ukuran zakat yang wajib menurut Abu Hanifah adalah setengah Sha’ gandum atau tepung gandum setara dengan 2 ¼ kg, atau satu sha’ dari jenis makanan pokok lainnya atau setara dengan 4.5 kg.

Dan takaran setengah sho’ di zaman kita hari ini kira-kira 2,1/4 kg.” (Al-Fiqhul Hanafi fi Tsaubihil Jadid 2/375)

Maka, siapa yang ingin mngeluarkan zakat sesuai dengan mazhab Syafi’i, maka wajib baginya mengeluarkan zakat dalam bentuk bahan makanan pokok (beras) sebanyak satu sho’. Dan dalam mazhab Syafi’i satu sho’ sekitar 2.75 kg.

BACA JUGA  Pasca Serangan di Ladang Minyak Aramco, AS Tawari Saudi Bantuan Keamanan

Adapun yang ingin mengeluarkan zakat dalam bentuk uang mengikuti mazhab Abu Hanifah, maka wajib baginya mengikuti takaran sho’ yang telah ditentuka dalam mazhab Abu Hanifah, yaitu beras senilai 4.5 kg. Wallahu a’lamu bissowab.

Sumber: FP Syaikh Dr Labib Najib Al-Adani

Alih Bahasa: Fakhruddin
Editor: Arju

 

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga