Kemkominfo: Kecanggihan Teknologi Banyak Disalahgunakan Untuk Sebar Hoaks

Foto: Kasubdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Anthonius Malau.

KIBLAT.NET,  Jakarta – Kasubdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Anthonius Malau mengatakan bahwa kecanggihan teknologi saat ini berperan dalam penyebaran hoaks.

Kemajuan teknologi saat ini memudahkan penyebaran berita. Namun kemudahan tersebut banyak disalahgunakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi yang tidak benar.

“Masyarakat saat ini dihadapkan pada banyaknya Informasi yang beredar (banjir informasi, red.), dari informasi yang benar dan valid sampai berita hoax, dari hoax yang sekedar bercanda sampai hoax yang besifat provokasi, agitasi, dan propaganda,” kata Anthonius saat mengisi materi dalam “Pelatihan Literasi Informasi Bagi Generasi Milenial” yang digelar Bimas Islam Kementerian Agama di Hotel Aston Kartika, Jakarta Barat pada Selasa (25/06/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan, kini masyarakat Indonesia tengah memasuki era post truth. Menurut Anthonius, era post truth adalah sebuah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal.

“Kondisi inilah yang menyebabkan munculnya hoaks,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa masyarakat Indonesia tengah berada di era share-bait, bukan lagi klik-bait. Anthonius memaparkan, 59 persen tautan yang disebar di media sosial tidak pernah diklik.

“Pembaca online juga sebenarnya tidak membaca, tetapi skimming dan scanning,” pungkasnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI juga merilis ciri-ciri hoaks. Ia menjelaskan, hoaks bisa berupa berita dusta di sebuah situs. Bisa juga berupa pesan menyesatkan yang disebarkan di  whatsApp atau sosmed. Atau berupa foto hasil rekayasa atau editan dan meme yang menyesatkan.

BACA JUGA  Lembaga Sertifikasi Halal Amerika Kunjungi Kementerian Agama

“Bisa pula berupa berita benar dari sebuah link situs berkredibilitas tapi depannya ditempeli judul dan pengantar yang menipu,” terang Anthonius di Hotel Aston Kartika Jakarta pada Selasa (25/06/2019).

Menurut Anthonius, ciri-ciri hoaks tidak jelas sehingga tidak bisa dimintai tanggung jawab. Salah satu cirinya adalah, pesannya sepihak, hanya membela atau menyerang saja.

Selain itu, pesan hoaks juga sering mencatut nama-nama tokoh seakan berasal dari tokoh itu. Hoaks juga banyak memanfaatkan fanatisme dengan nilai-nilai ideologi atau agama untuk meyakinkan.

“Judul atau tampilan provokatif, atau judul dengan isi atau link yang dibuka tidak cocok. Yang terakhir minta dishare atau diviralkan,” imbuhnya.

Anthonius menghimbau masyarakat agar jika menemukan pesan yang memenuhi sebagian ciri-ciri tersebut untuk tidak mudah percaya serta tidak menyebarkan pesan tersebut.

Reporter: Qoid
Editor: Rusydan

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga