Keluarga Petani Jadi Korban Serangan Udara Afghanistan, Warga Marah

Foto: Warga Afghanistan menshalatkan para korban serangan udara AS di Kunduz tahun 2016 lalu

KIBLAT.NET, Baghlan – Setidaknya tujuh warga sipil, termasuk satu bayi, tewas dalam serangan udara di provinsi Baghlan, Afghanistan utara.

Departemen Pertahanan Afghanistan mengatakan, Selasa (09/07/2019), bahwa serangan udara itu sebenarnya untuk “menghancurkan musuh” di distrik Khel di kota Bel Khamri. Dia mengatakan tim dari kementerian sedang menyelidiki laporan tersebut.

Aksi Protes pecah di jalan-jalan utama di kota Bel Khamri sesaat setelah serangan udara tersebut. Para demonstran yang merupakan warga sipil menggunakan truk pickup untuk mengarak jasad para korban sebelum dimakamkan. Aksi itu sebagai bentuk kemarahan kepada pemerintah.

Serangan itu bertepatan dengan dikeluarkannya pernyataan bersama oleh utusan pemerintah Afghanistan dan Taliban mewajibkan para pihak untuk “menghormati dan melindungi martabat warga, nyawa dan harta benda mereka dan mengurangi korban sipil menjadi nol.”

Asadullah Shahbaz, anggota dewan lokal di provinsi Baghlan, mengatakan warga sipil yang tewas dalam serangan udara itu adalah petani. Mereka tidak memiliki hubungan dengan Taliban atau kelompok militan lainnya.

Utusan khusus AS untuk Afghanistan mengakhiri perundingan putaran ketujuh dengan Taliban di Qatar pada Selasa setelah tanda-tanda kemajuan dalam upaya untuk mengakhiri perang terpanjang dalam sejarah AS.

Meskipun negosiasi damai dengan Taliban mendapatkan momentum baru, pertempuran masih meningkat dan warga sipil terus menanggung beban konflik yang berkepanjangan.

Menurut statistik PBB, 3.804 warga sipil, termasuk lebih dari 900 anak-anak, terbunuh dan 7.000 terluka pada 2018, menjadi noda umum bagi warga sipil selama konflik di Afghanistan.

BACA JUGA  Bom Taliban Sasar Konvoi Militer di Depan Markas NATO

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Pertempuran di Afghanistan Kembali Berkobar

Afghanistan - Kamis, 12/09/2019 08:14

Trump Batalkan Negosiasi, Taliban: AS yang Akan Merugi

Afghanistan - Senin, 09/09/2019 16:38