Prancis Benarkan Rudal yang Disita dari Kamp Militer Haftar Miliknya

Foto: Senjata yang disita dari pangkalan militer Haftar/AFP

KIBLAT.NET, Paris – Prancis membenarkan rudal yang disita oleh pasukan Pemerintah Rekonsiliasi Nasonal Libya dari pangkalan militer pasukan Khalifah Haftar milik tentaranya. Namun Paris menolak mengakui senjata itu untuk mendukung milisi Haftar sehingga menimbulkan pertanyaan peran Prancis dalam konflik di negara kaya minyak itu.

Kementerian Militer Prancis, , Rabu (10/07/2019), mengatakan dalam pernyataannya bahwa rudal Javellin buatan AS yang ditemukan di pangkalan militer di kota Griyan, sekitar 100 km barat daya Tripoli, benar milik tentara Prancis yang dibeli dari Amerika Serikat. Semua informasi yang diungkapkan oleh New York Times pada Selasa (09/07/2019) benar adanya.

Akan tetapi, pernyataan itu membantah bahwa Prancis memasok senjata tersebut kepada pasukan Haftar atau melanggar embargo senjata PBB terhadap Libya. Pernyataan itu mengaku bahwa rudal-rudal tersebut sudah tidak dapat digunakan.

Kementerian Perancis mengaku bahwa senjata-senjata ini bertujuan untuk memberikan perlindungan diri terhadap unit Prancis yang ditempatkan di Libya dengan misi intelijen dalam rangka perang melawan terorisme.

Rudal tersebut, imbuh pernyataaan Kementerian Militer Prancis, “rusak dan tidak dapat digunakan” dan disimpan di gudang untuk menunggu dihancurkan. Kami tidak menyerahkannya kepada Tentara Nasional Libya pimpinan Haftar.

Akan tetapi, pernyataan tersebut tidak menjelaskan bagaimana rudal-rudal itu bisa berada di tangan milisi yang berbasis di Libya timur itu. Pernyataan itu juga tidak menjelaskan kenapa rudal-rudal tersebut tidak segera dihancurkan sementara Libya dalam kondisi perang.

BACA JUGA  Penampungan Imigran di Libya Jadi Sasaran Serangan Udara, 60 Tewas

Sebelumnya, New York Times melaporkan bahwa pasukan Pemerintahan Rekonsiliasi Nasional Libya yang diakui secara internasional menemukan empat rudal anti-tank di sebuah pangkalan militer Haftar di kota Griyan. Pasukan rekonsiliasi merebut kota tersebut setelah terlibat pertempuran sengit dengan milisi Haftar.

Pasukan Pemerintah Rekonsiliasi yang diakui-PBB merebut kendali pangkalan Griyian dua pekan lalu dan menyita sejumlah senjata modern. Senjata-senjata itu diungkap ke media. Di antaranya, tiga rudal anti-tank tipe Javelin dan tujuh rudal Norenko GP6 yang dipandu oleh laser buatan Cina.

Washington membuka penyelidikan tentang bagaimana rudal AS bisa berada di negara yang secara teoritis berada di bawah embargo senjata sejak 2011 itu.

Saat disita, senjata itu diyakini milik Uni Emirat Arab namun negaranya tersebut menyangkal.

Libya terus berada dalam kubangan konflik pasca kudeta yang melengserkan Muammar Ghaddafi. Banyaknya ladang minyak di negara itu mendorong kekuatan-kekuatan dunia ikut bermain dalam konflik sehingga tak kunjung berakhir.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga