Islam, Kebudayaan, dan Peradaban: Dari Barat Hingga Melayu

Foto: Ilustrasi

Oleh :
Ahmad Baihaqy*

Seringkali kita bingung hubungan antara Islam dan kebudayaan. Apakah Islam yang mempelopori adanya kebudayaan atau justru Islam adalah bagian dari hasil kebudayaan?

Tentang Kebudayaan

Kita cukup sering mendengar bahwa kata budaya yang berasal dari dari Bahasa Sansekerta, Budhi dan daya. Kata tersebut diartikan sebagai hasil dari rasa, karsa, dan cipta. Adapun pengertian lain dari Kebudayaan dalam bahasa Inggris, culture, berasal dari bahasa Latin, yaitu cultura yang berarti menumbuhkan (growing) dan pertanian atau budidaya (cultivation).[1] Menurut Raymond Williams, kata culture merupakan salah satu kata yang memiliki banyak interpretasi. Setidaknya, terdapat tiga pemahaman mengenai culture. Pertama, a general process of intellectual, spiritual and aesthetic development. Kedua, a particular way of life, whether of a people, a period or a group. Ketiga, the works and practices of intellectual and especially artistic activity.[2]

Dari definisi tersebut, dapat kita pahami sejatinya manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi, bereaksi, dan berkembang dengan lingkungan sekitarnya. Jika manusia merasa lapar maka akan tergerak untuk mencari makan, jika merasa terancam maka akan ada rasa untuk melawan hingga membuat senjata atau bertahan dan berdiam diri di suatu tempat yang dirasa aman. Misalnya pada zaman dahulu, masyarakat nusantara sering melakukan hubungan perniagaan dengan pedagang lokal maupun luar negeri. Dimulai dari adanya kebutuhan akan sesuatu, tawar menawar, berinteraksi, hingga berlanjut pada pembahasan filosofis hingga terbawa ke alam transendental. Kepandaian berpikir dan lokal jenius yang dimiliki menjadi saringan dalam menerima berbagai unsur baru.

Manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan, sandang, berketurunan,  dan lain-lain merupakan bentuk-bentuk kebudayaan. Semakin sering manusia berinteraksi dengan alam, maka akan semakin sering ia berupaya mengerahkan daya ciptanya tersebut yang pada akhirnya menciptakan kebudayaan, kesenian, bahkan peradaban. Hal demikian tentu saja terbentuk dan disepakati oleh komunitas tertentu yang memiliki persamaan  karakter unik yang berbeda dengan komunitas di tempat lainnya. Oleh karena itu Syed M. Naquib Al-Attas  mendefinisikan kebudayaan sebagai segala hasil ciptaan insan dalam usaha menyesuaikan diri dalam menghadapi keadaan alam sekelilingnya.[3]

Islam dan Barat : Perbedaan Pandagan Tentang Kebudayaan

Islam dan Barat memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat dan mengartikan kebudayaan. Barat keliru mengartikan “hasil cipta insan”  dengan memasukkan agama sebagai bagian dari kebudayaan. Jadi dapat dikatakan bahwa agama adalah hasil rekaan manusia, orang cerdas, atau para filsuf. Mungkin pendapat mereka bisa dibenarkan, hanya saja khusus bagi mereka dan untuk agama-agama selain Islam.

Jika menelusuri perjalanan peradaban Barat, memang telah terjadi hal demikian  bagi agama mereka (Kristen). Pada tahun 392 M, agama Kristen diresmikan sebagai agama negara di Kekaisaran Romawi. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, kekuatan Gereja tetap tegak di Eropa.  Di wilayah bekas Kekaisaran Romawi, Gereja memiliki otoritas penting hingga tak ada satu pun aspek kehidupan Abad Pertengahan yang terlepas dari pengaruh Gereja. Dari otoritas tersebut, Gereja membuat beberapa kebijakan seperti pendirian Inkuisisi (Inquisition) yang ditujukan untuk siapa pun yang membantah titah. Gereja juga memasuki ranah sains, di mana para ilmuwan yang mengemukakan teori-teori yang berlawanan dengan Bibel akan menerima ancaman, karya-karyanya dilarang bahkan hukuman.[4]

Trauma akan hegemoni Gereja membuat masyarakat Barat juga ‘trauma’ dengan agama. Hegemoni tersebut memberikan kesan mendalam sehingga istilah agama (religion) memiliki kesan tentang Inkuisisi, takhayul, tidak rasional, dogmatis. Persepsi semacam ini melahirkan pandangan yang memukul rata semua agama sebagai sesuatu yang harus dipisahkan dari ranah politik.[5] Pemahaman ini membuat penafsiran agama bukan hanya berubah, tetapi senantiasa berubah (ever-shifting). Akibatnya, versi penafsiran saat ini akan selalu tergantikan oleh versi penafsiran yang lebih baru lagi. Mereka menggambarkan proses ini sebagai bagian dari proses ‘evolusi’ dalam sejarah manusia, yaitu dari ‘kanak-kanak’ menuju ‘kedewasaan’ dengan ‘membuang sifat kanak-kanaknya’.[6]

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Dari sedikit gambaran di atas atau sebagaimana yang telah sama-sama kita fahami bahwa Kristen telah gagal mengkristenkan Barat dan sebaliknya Baratlah yang telah mengubah agama Kristen. Kristen telah diambil-alih dan diubah-gantikan oleh Peradaban Barat agar dapat sesuai dengan kepercayaan-kepercayaan yang dianut Peradaban Barat sebelum masuknya agama Kristen. Peradaban Barat telah berhasil mencampuradukkan ajaran-ajaran Yunani Kuno dan Romawi yang kemudian menjelma menjadi agama Kristen. Sehingga dapat dikatakan bahwa Kristen (kini) adalah agama hasil dari kebudayaan, sama dengan Hindu, Budha, Majusi dan sebagainya.[7]

Hal tersebut tentu keliru jika kita beranggapan bahwa Islam adalah bagian dari kebudayaan atau hasil dari daya cipta insan. Islam bukanlah hasil cipta atau karangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai kebudayaan. Islam adalah agama tanzil (wahyu) dari Allah melalui Nabi Muhammad SAW yang tidak akan mengalami perubahan dalam hal ajaran keyakinan hingga akhir zaman. Islam bukanlah hasil karangan, renungan, atau teori kaum bijaksana. Bukan juga hasil agung daya cipta manusia sebagaimana seperti kebudayaan. Dasar-dasar akidah dan ibadah agama Islam termaktub secara jelas dalam Al-Quran dan Hadits sebagai wahyu yang diberikan Tuhan kepada pesuruh-Nya.

Sebaliknya, benar adanya bahwa Islam menjadi inspirasi bagi lahirnya kebudayaan hingga peradaban. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang menggunakan nilai-nilai Islam dalam berinteraksi dengan alam; menggunakan sudut pandang Islam dalam melihat fenomena di sekitarnya; yang menggunakan pengaruh keislamannya ke setiap bidang kehidupan dan hasil daya cipta keislaman ini yang kemudian dipahamkan sebagai Kebudayaan Islam.[8] Dengan demikian, pandangan Islam dan Barat dalam mengartikan kebudayaan adalah suatu hal yang berbeda.

Studi  Kasus Kebudayaan Islam di Melayu-Nusantara

Mengkaji tentang Islam di Nusantara memang tidak cukup diselesaikan pembahasannya hanya satu malam. Dalam bagian ini akan sedikit dibahas tentang Kebudayaan Islam yang tersebar di Melayu Nusantara.

Masuk dan menyebarnya Islam di kepulauan Melayu-Nusantara telah mengubah pandangan alam masyarakat Melayu. Islam telah mengalir dalam nadi-nadi kehidupan, menggerakkan sendi-sendi kebudayaan, dan ruh bagi budi pekerti masyarakat. Melayu dipandang bukan lagi sekadar identitas diri tetapi juga pandangan hidup yang telah mengalami pengislaman.

Islam sebagai pandangan alam masyarakat Malayu merupakan sebuah bangunan asasi yang mengacu kepada pandangan tentang Tuhan, metafisika, kosmologi (alam semesta), pandangan tentang waktu, pandangan tentang nasib manusia dan pandangan tentang manusia. Islam telah menjadi jati diri mereka: “Orang Melayu adalah orang Islam”. Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa tidak semua orang Malayu keislamannya didapatkan daripada buah intelektualitas.[9]

Melayu sebelum Islam sebenarnya sudah dikenalkan dengan ajaran dan nilai keislaman. Diantaranya syair-syair yang di dalamnya terdapat kalimat pujian kepada Allah, atau proses adat tertentu yang diiringi bacaan seperti zikir, barzanji, marhaban, rodat,  ratib, hadrah, nasyid, dan sebagainya. Ada pun alat musik yang digunakan hasil perpaduan Islam seperti rebab, gendang nobat, nafiri, serunai, gambus, ‘ud, dan lain-lain.

Diantara contoh yang ada, kita dapat mengambil kisah sewaktu kecil dari Prof. Dr. Hamka. Pada saat itu suatu mantra dimulai dengan kata Hong atau Aum. Di mana kedua kata ini merupakan mantra pusaka agama Hindu Brahmana sebagai kesatuan seruan terhadap Trimuri.

“Aum (Hong), si kurimbak, kurimbek

Si Mambang Tunggal, si Bujang Hitam.

Nan di Bigak, Nan di Bugau, nan di Sirojo Tuo.

Nan di puncak Gunurig Marapi”

Namun setelah kedatangan Islam, kalimat Hong atau Aum diganti dengan kata Haqq. Di mana kata ini adalah satu diantara kalimat Allah SWT.

BACA JUGA  Slogan NKRI Harga Mati (Masih) Menjadi Alat Gebuk

“Haqq, engkau tidak tahu siapa aku.

Besi adalah tulangku, kawat adalah uratku.

Kudaku kuda semberani

Pedangku besi khurasani.

Serpihan besi Nabi Allah Adam.

Guruh adalah suaraku, petus adalah pandang mataku.

Akulah Ali harimau Allah

Aku berdiri dalam kalimat “la illaaha illallaah”.

Selain itu, terdapat pula ide ritme yang dikenal dengan iqaat di Arab Timur, durub di Turki dan mazim di Maghribi. Di masa sekarang, dapat pula disaksikan penyerapan unsur musik dalam bentuk gaya-gaya ritmik yang tidak terikat dalam metrum, biasanya banyak ditemukan dalam melodi-melodi pembuka musik seperti zapin dan nasyid. Dalam permusikan islami, teknik ini disebut dengan avaz atau taqsim. Dalam ranah seni tari, Islam juga memberikan semburat warna, salah satunya adalah tari zapin. Zapin sendiri merupakan tari yang menampilkan serangkum gerak gemulai kaya makna. Beberapa diantaranya membentuk gerak sembah atau salam.[10]

Pada masa sebelum Islam, bahasa Melayu menjadi bahasa yang pembahasannya hanya berkisar seputar takhayul dan mitos.[11] Melalui Islam, bahasa Melayu menjadi media pengejawantahan karya-karya para ulama, dan telah menjadikan peradaban Melayu peradaban yang intelek. Bahkan berkat Islam bahasa Melayu telah menjadi lingua franca.[12]

Selain itu, kesadaran terhadap nilai-nilai Islam dan penunaian kewajiban-kewajiban agama (syariat) menjadi cikal bakal lahirnya kebudayaan dan peradaban pula. Sebagai contoh, sholat bagi seorang muslim adalah suatu kewajiban, dan menghadap kiblat adalah salah satu syarat diterimanya sholat. Oleh karena itu, mengetahui arah kiblat menjadi suatu keharusan. Penunaian keharusan ini menjadi latar belakang penemuan-penemuan dalam bidang navigasi. Begitu juga dalam menentukan waktu-waktu ibadah seperti sholat, puasa dan lebaran melatarbelakangi lahirnya teknologi penanggalan dan astronomi.

Kebudayaan memiliki banyak definisi, diantara definisi kebudayaan adalah semua hasil daya-cipta insan dalam usaha menyesuaikan diri dalam menghadapi keadaan alam sekelilingnya. Terdapat perbedaan antara Islam dan Barat terhadap kebudayaan. Barat memandang bahwa agama adalah bagian dari kebudayaan, hal tersebut dapat dibenarkan kepada agama selain Islam. Sedangkan Islam bukanlah sebuah kebudayaan tetapi agama yang diwahyukan. Justru Islam merupakan inspirasi lahirnya kebudayaan dan peradaban sehingga disebut Kebudayaan Islam. Diantara Kebuayaan Islam yang masyur adalah Kebudayaan Islam yang dibangun di atas Alam Melayu.

 

*Ketua Umum Formasi FIB UI 29

 

[1] “Culture”, Oxford Dictionaries, https://en.oxforddictionaries.com/definition/culture

[2] John Storey, Cultural Theory and Popular Culture: An Introduction, 5th ed. (London: Longman, 2009), hlm. 2

[3] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpu, ISTAC, 2001), hlm. 64

[4] Akmal Sjafril, Islam Liberal 101, (Bogor, Afnan Publishing, 2015), hlm. 46

[5] Ibid, hlm. 46-47

[6] Syamsudin Arif, Orientalis &  Diabolisme Pemikiran, (Jakarta, Gema Insani Press, 2008), hlm. 87

[7] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur, ISTAC, 2001), hlm. 18

[8] Ibid, hlm. 65

[9] Erwiza Erman, Sejarah Sosial Kesultanan Melayu Deli, (Jakarta, KEMENAG RI Badan LITBANG dan DIKLAT PUSLITBANG Lektur  Khazanah Keagamaan, 2011), hlm. 115-116

[10] Muhammad Takari, Zapin Melayu dalam Peradaban Islam, (artikel) hlm. 9

[11] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Kuala Lumpur, ABIM, 1999), hlm. 14

[12]Ibid, hlm. 20, 28, dan 32

 

 

Opini ini adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Kiblat.net

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

Internet di Indonesia, Sudah Layak Anak?

Opini - Jum'at, 19/07/2019 18:56

Sosok Pemimpin Unggul yang Dicintai Manusia

Opini - Jum'at, 05/07/2019 17:20

Keberkahan Bulan Ramadhan

Opini - Kamis, 30/05/2019 15:56