Terorisme Global Menurun, Apa Saja Tren yang Terjadi?

Foto: Terorisme. (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Terorisme telah menjadi topik yang tak hentinya dibahas, utamanya pasca peristiwa 9/11. Beragam forum dan lembaga pemikir dibentuk, untuk satu tujuan besar: memahami terorisme, untuk kemudian menghabisi terorisme dan menindak para teroris.

Siapa para teroris? Secara harfiah, tentu dengan mudah kita menjawab bahwa teroris adalah orang, atau sekelompok orang, yang melakukan tindakan teror. Soal definisi secara praktek, tentu lain lagi. Hari ini, tiap negara bahkan memiliki definisi masing-masing tentang siapa yang berhak disemati label sebagai teroris. Kita bisa berdebat panjang soal ini.

Namun, mungkin kita sepakat tentang satu hal: pembuat definisi tunggal tentang terorisme, secara internasional, adalah Amerika Serikat, sebagai penggagas tunggal Global War on Terrorism. Dan hari ini, sangat sulit untuk menyangkal bahwa label teroris lebih sering disematkan kepada kelompok-kelompok jihadis.

Baru-baru ini, seorang jurnalis, Robert Muggah, memaparkan lima hal yang menjadi intisari dalam publikasi Global Terrorism Database terbaru, di situs web Small Wars Journal. Kelima temuan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, ada penurunan yang signifikan dalam insiden dan kematian teroris, setelah sempat memuncak pada 2014.

Global Terrorism Database (GTD) telah mengidentifikasi beberapa gelombang kekerasan teroris sejak 11 September 2001. Peningkatan pertama terjadi setelah invasi AS ke Irak (2002-2007) dan ledakan kekerasan yang terjadi kemudian. Yang kedua, adanya sedikit penurunan kasus terorisme global setelah fase puncak pasukan AS di Irak (2007-2011). Gelombang ketiga, adanya peningkatan secara besar-besaran dalam kekerasan dari 2012-2014, tidak hanya karena membesarnya perang di Irak, tetapi juga akibat dari ketegangan di Nigeria, Suriah dan pecahnya Musim Semi Arab.

Menurut ulasan Robert, dunia saat ini berada di tengah-tengah gelombang keempat — ditandai dengan penurunan tajam dalam insiden dan korban jiwa —dari 2015 hingga pertengahan 2019. Penurunan sejak 2014 sangat signifikan: pada 2015 (total kematian turun 12%), 2016 (total kematian turun 10%), 2017 (total kematian turun 24%), dan penurunan serupa pada 2018 dan 2019.

Sejauh ini, menurut statistik yang dirujuk oleh Robert, pada paruh pertama 2019 telah terjadi 780 serangan dan 3.488 kematian karena kekerasan. Bandingkan dengan 10.900 serangan dan 26.445 kematian karena kekerasan pada jangka waktu yang sama tahun 2017, atau 17.000 serangan dan 45.000 korban pada tahun 2014.

Kedua, terus terjadi peningkatan konsentrasi insiden dan korban terorisme di sejumlah kecil negara dan dilakukan oleh sejumlah kecil kelompok.

Sebagian besar peristiwa dan kematian terjadi di sejumlah kecil negara di Timur Tengah, Afrika Utara dan Barat, dan Asia Selatan. Selama dekade terakhir, negara “kontributor” utama terjadinya terorisme yaitu Irak, Afghanistan, Suriah, Somalia, Pakistan, Ukraina, Nigeria dan pada tingkat lebih rendah Mesir, Yaman, India, Filipina dan Myanmar. Di Irak, ada 4.271 insiden pada 2017. Sebagai perbandingan, di Kanada, hanya ada dua. Hanya lima kelompok yang dicantumkan oleh GTD sebagai pelaku: ISIS, Taliban, al-Shabaab, Boko Haram, dan Republik Rakyat Donetsk (negara-proto yang didukung Rusia, yang hendak memerdekakan diri dari Ukraina) menyumbang hampir 60 persen dari korban pada 2017 (naik dari 32 persen pada 2012). Ancaman terorisme sangat kecil di negara-negara Barat, dan, ketika hal itu terjadi, sebagian besar korban adalah Muslim.

BACA JUGA  Heroik, Kakek Ini Gagalkan Serangan Teroris di Masjid dengan Tangan Kosong

Hal itu berarti masih ada sejumlah besar negara di mana insiden terorisme terjadi. Pada tahun 2004, hanya 39 negara yang menjadi tempat kejadian terorisme, meningkat menjadi 60 negara pada tahun 2012 dan menjadi 79 negara pada tahun 2016. Pada tahun 2018, sekitar 67 negara mengalami setidaknya satu kematian terkait terorisme.

Ketiga, terorisme nasionalis kulit putih bukan hanya ancaman domestik, tetapi juga ancaman global.

Menurut GTD 2019, insiden kekerasan supremasi kulit putih, yang secara khusus difokuskan pada serangan terhadap sasaran imigran non-kulit putih, non-Kristen, dan terutama Muslim berbeda berdasarkan wilayah dan demografi: Muslim lebih sering menjadi sasaran di Eropa dan Amerika Utara, sementara kelompok minoritas dan komunitas LGBTQ lebih sering diserang di Amerika Latin. Antara 2010-2017 ada 263 insiden terorisme domestik di AS, di mana 92 di antaranya dilakukan oleh ekstremis sayap kanan dan 38 oleh Jihadis atau simpatisan Jihadis. Antara 2009-2018, kelompok supremasi kulit putih bertanggung jawab atas 75 persen dari 313 kematian yang dikaitkan dengan organisasi “ekstremis”.

Terorisme sayap kanan, termasuk supremasi kulit putih dan kekerasan ekstrimis sayap kanan telah meningkat dengan kecepatan yang berbeda di AS dan negara-negara di seluruh Eropa Barat. GTD menyebut bahwa ada peningkatan tajam di AS sejak 2016: ada lebih banyak serangan anti-Muslim yang dilaporkan kepada FBI, yaitu sebanyak 127 serangan, pada 2016, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 2001 (93 serangan). Sementara itu, di Eropa, serangan supremasi kulit putih mulai meningkat sejak 2010, dan terutama sejak gelombang imigrasi pengungsi ke Eropa tahun 2015-2016.

Keempat, media sosial berperan dalam meminimalkan penghalang antara ideolog dan pengikut, serta memperkuat perekrutan / aksi terorisme.

Ada ekosistem yang luas dan kompleks dari kegiatan terkait teroris di media sosial. Sebagian besar kelompok teroris terorganisir dan pelaku terorisme  adalah individu yang melek teknologi. Beberapa kelompok dan individu telah memasang manifesto online sedangkan yang lain menggunakan media sosial untuk menyiarkan tindakan mereka (secara real-time atau setelah kejadian), dengan tujuan tertentu, misalnya untuk meningkatkan rasa solidaritas di antara mereka yang sepemikiran, dan tentu saja menginspirasi tindakan serupa, serta memancing respons yang terlalu berlebihan dari pemerintah.

Media sosial membantu penyebaran narasi ekstrem dan revisionis, beberapa di antaranya menginspirasi ekstremisme kekerasan. Dalam kasus supremasi kulit putih, gagasan yang disebar adalah bahwa Yahudi dan kelompok non-kulit putih (terutama Muslim) adalah penjajah dan sengaja diimpor untuk menggantikan etnis Eropa. Dalam kasus kelompok-kelompok Jihadis, Robert menyebut, orang Kristen adalah tentara perang salib dan Muslim menjadi korban.

BACA JUGA  Hamzah Bin Ladin, Ikon Jihadis Milenial dan Masa Depan Al-Qaidah

Banyak narasi ini dibagikan di platform media sosial umum seperti Facebook, Twitter, dan lainnya. Menentukan apa itu konten radikal adalah hal yang rumit. Semakin sering, obrolan bergerak ke platform terenkripsi dan situs Darknet, yang berada di luar pengawasan polisi dan intelijen. Usulan inisiatif oleh negara-negara untuk memblokir konten teroris (seperti yang terlihat di Australia, Inggris, dan Uni Eropa) adalah hal yang kontroversial, dengan beberapa analis khawatir bahwa penghapusan konten akan lebih memberdayakan kelompok teroris, daripada melemahkan mereka.

Kelima, muncul ancaman terorisme yang membutuhkan perhatian lebih dekat dari pembuat kebijakan.

Selain jaringan Jihadis seperti ISIS atau al-Qaidah dan ancaman nasionalis kulit putih, ada aktor terorisme lain yang membutuhkan perhatian lebih besar. Misalnya, pejuang asing berbahasa Rusia (berasal dari negara-negara bekas Uni Soviet) yang sebelumnya aktif di Timur Tengah, yang sedang melakukan diversifikasi fokus kelompok mereka. Diperkirakan 8.500  orang dari mereka terlibat di Suriah dan Irak saja.

Beberapa dari mereka pindah kembali ke negara-negara bekas Soviet, serta muncul di medan lain seperti Bangladesh dan Myanmar. Banyak pengamat terorisme telah menyampaikan potensi ancaman dari kelompok ini, dengan menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan warga Uzbek, misalnya, dalam insiden terorisme di Istanbul, New York City (NYC), dan Stockholm.

Pada penutup artikelnya, Robert menyebut bahwa penurunan secara global dalam tingkat keseluruhan dan kematian insiden teroris adalah berita baik, tentu saja bagi Barat. Munculnya berbagai ancaman dari terorisme Jihadis, terorisme supremasi kulit putih transnasional, dan aksi lonewolf (aktor tunggal) masih menjadi perhatian utama. Robert menambahkan bahwa fokus pada insiden dan jumlah korban diperlukan tetapi tidak cukup untuk sepenuhnya menilai perkembangan dan perubahan sifat terorisme.

Pada akhirnya, Robert mengakui selalu ada bias pada jenis ancaman terorisme tertentu di wilayah tertentu. Fokus ini sangat banyak dibentuk oleh prioritas dan kebijakan kontra-terorisme pemerintah yang dominan dan perhatian masyarakat. Sebuah studi baru-baru ini atas lebih dari 3.400 artikel, dari tahun 2007 hingga tahun 2016) menemukan bahwa fokus terbesar pada terorisme adalah pada al-Qaidah, dan kelompok-kelompok Jihad Timur Tengah dan Afrika Utara. Robert mengingatkan bahwa seringkali para peneliti lebih memberi penekanan pada analisis ‘event-driven’ (disebabkan oleh kejadian tertentu) dan kurangnya fokus pada terorisme negara dan terorisme non-Jihad. Padahal, kata Robert, hal tersebut adalah blind spot yang berbahaya.

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

BNPT Tuding Virus Terorisme Sudah Sampai ke PAUD

Indonesia - Kamis, 29/08/2019 15:21