Bolehkah Meniatkan Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal?

Foto: Sapi Kurban

Pertanyaan: Syaikh, bolehkah saya meniatkan kurban untuk orang tua saya yang sudah meninggal?

Jawab: Jika kurban itu adalah nazar atau wasiat yang diucapkan oleh orang tua Anda semasa hidupnya, Anda wajib menunaikannya.

Akan tetapi, jika tujuannya hanya sebatas mengirim pahala maka ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya.

Sebagian ulama pengikut Madzhab Hanafiyah akhir-akhir membolehkannya. Sementara ulama Hanafiyah terdahulu mayoritas tidak membolehkan.

Mayoritas ulama Madzhab Hambali membolehkan, dan pendapat ini yang dipilih oleh Imam Ibnu Taimiyah. Daging dibagi sebagaimana kurbannya orang hidup dari bagian yang dimakan, dishadaqahkan dan dihadiahkan.

Adapun pendapat Madzhab Maliki memakruhkannya. Pada kitab Syarh Mukhtashar Khalil disebutkan: “Dimakruhkan bagi seseorang meniatkan kurban untuk orang sudah meninggal karena tidak ada nash yang menunjukkan kebolehannya.”

Pendapat Madzhab Syafi’iah mengatakan, tidak boleh menurut pendapat yang paling kuat di mandzhab tersebut. Imam Nawawi mengatakan: “Berkurban untuk mayit, Abu Al-Hasan Al-Ibadi membolehkannya. Penulis kitab Al-Uddah dan Al-Baghawi mengatakan, tidak sah berkurban untuk orang sudah meninggal kecuali dia telah mewasiatkannya. Demikian juga pendapat yang dipilih Ar-Rafi’i.” (Al-Majmuk: 8/380)

Catatan: Perbendaan pendapat ini pada kondisi orang yang mengurbankan sudah berkurban untuk dirinya sendiri.

Sangat mengherankan, sebagian orang hanya memiliki harta yang cukup untuk kurban bagi dirinya sendiri namun meniatkan kurban untuk orang yang sudah meninggal, sementara dirinya belum berkurban sama sekali!

Ini kesalahan. Kurban adalah sembelihan dan syiar bagi orang hidup. Hukum kurban bagi orang hidup yang mampu Sunnah Muakkad, bahkan Imam Hanafi mewajibkannya.

Kemudian, tidak ada praktik dari Nabi Muhammad bahwa beliau meniatkan kurban untuk orang yang sudah meninggal, begitu juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Sejumlah ulama yang membolehkannya menggunakan dalil Qiyas dan Istihsan. Wallahu ‘Alam.

Sumber: Fatwa Syaikh Abdurrazaq Al-Mahdi
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga