Hukum-hukum Penting yang Wajib Diketahui oleh Para Pengurban

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET, — Menyembelih hewan kurban merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Tentunya, dalam ibadah tidak boleh sembarangan menentukan sendiri tata caranya. Semua amal ibadah, khususnya Kurban, harus sesuai panduan yang telah dibuat Syariat. Oleh karena itu, supaya ibadah kurban kita diterima, ada beberapa hal penting harus diketahui. Berikut poin-poinnya secara ringkas:

Pertama: Berkurban termasuk salah satu Syariat Allah dan hukumnya Sunnah Muakkad, menurut jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah dan lainnya, dan wajib menurut pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan jika kurban itu sudah dinadzarkan maka seluruh ulama sepakat hukumnya wajib.

Kedua: Jika sudah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, para pengurban dimakruhkan mencukur rambut dan memotong kuku. Namun jika kedua hal itu terlanjur dilakukan, tidak ada denda menurut kesepakatan ulama. Hikmah larangan cukur rambut dan potong kuku bagi pengurban adalah untuk meniru orang yang sedang melaksanakan haji.

Catatan: Larangan ini khusus bagi orang yang berkurban. Wakil pengkurban dan keluarganya tidak masuk dalam hukum ini.

Ketiga: Saat menyembelih wajib membaca: “Bismillah Wallahu Akbar”. Dianjurkan menambah bacaan: “Allahumma Hadza Minka wa Laka”. Atau ditambah lagi: “Anni Wa Anman Lam Yadih min Ahli (dengan meniatkan untuk keluarga yang masih hidup dan sudah meninggal)”.

Keempat: Hewan kurban harus dari hewan ternak, yaitu: unta, sapi, domba dan kambing.

Kelima: Unta yang diboleh jadi hewan kurban harus minimal berumur lima tahun genap, sapi berumur dua tahun, kambing berumur satu tahun dan domba berumur enam bulan genap.

BACA JUGA  Terungkap! Papua Barat Ikuti Turnamen Sepakbola Sebagai Negara

Keenam: Ulama fiqih sepakat hewan kurban sah jika terhindar dari empat cacat, yaitu: buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, sakit dan tampak jelas sakitnya, pincang dan tampak jelas pincangnya, sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.

Catatan: Tidak mengapa jika cacatnya itu ringan, menurut pendapat jumhur ulama. Cacat ringan itu seperti tanduknya seperempat atau sepertiga tanduknya pecah, sobek sepertiga atau seperempat telinganya. Namun berkurban dengan hewan dengan cacat ringan ini hukumnya makruh. Adapun hewan cacat karena dikebiri boleh tanpa makruh.

Ketujuh: Jika pengurban mengetahui ada kecacatan di hewan kurbannya dengan mata sendiri maka wajib menggantinya. Namun, jika kecacatan itu diketahui oleh orang lain (dia tidak mengetahuinya berdasarkan pemeriksaannya) maka kurbannya sah.

Kedelapan: Waktu penyembelihan kurban dimulai selesai Salat Ied, meskipun di tempat itu tidak ada Salat Ied.

Kesembilan: Waktu terakhir penyembelihan hewan kurban, menurut pendapat Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah, adalah terbenamnya Matahari di hari ketiga setelah Idul Adha. Sementara pendapat Syafi’iyah dan sebagian Hanabilah berpendapat waktu terakhir penyembelihan saat tenggelamnya Matahari di hari keempat. Hukumnya makruh menyembelih hewan kurban pada malam hari.

Kesepuluh: Barang siapa yang terlewatkan waktu penyembelihan, jika kurbannya itu nadzar maka wajibnya baginya mengqadha’. Jika kurbannya sebagai amalan sunnah, boleh memilih antara menyembelih dengan cara qadha atau tidak.

BACA JUGA  Ribuan Anggota IJABI dan ABI Rayakan Hari Asyuro di Gelora Bung Karno

Kesebelas: Daging kurban tidak boleh ditukar, baik dengan lebih sedikit atau sepadan dengannya. Adapun jika ditukar dengan yang lebih banyak maka dibolehkan.

Keduabelas: Sunnah Nabi menunjukkan pembagian daging kurban dibagi tiga: sepertiga untuk dimakan sendiri, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga sisanya untuk dishadaqahkan kepada orang-orang miskin.

Ketigabelas: Tidak boleh menjual apapun dari hewan kurban, walaupun hanya kulitnya. Namun boleh dimanfaatkan dan dihadiahkan kepada yang lain. Orang kafir dibolehkan diberi daging kurban.

Keempatbelas: Penjagal tidak boleh diberi upah dari daging kurban, meskipun hanya kulit atau lainnya. Namun, setelah dia dibayar dengan uang, sementara ia termasuk golongan fakir miskin, maka ia boleh diberi daging kurban.

Kelimabelas: Boleh meniatkan kurban satu kambing atau domba untuk keluarga. Tidak ada kurban kolektif dalam kambing dan domba. Kurban kelektif hanya pada unta dan sapi dengan jumlah maksimal tujuh pengkurban dalam satu hewan.

Keenambelas: Paling afdhal hewan kurban disembelih sendiri. Namun boleh diwakilkan kepada muslim lainnya. Tidak sah jika penyembelihan diwakilan kepada Ahli Kitab karena ini bentuk ketaatan.

Ketujuhbelas: Meniatkan kurban untuk mayit hukumnya terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ulama Hanabilah berpendapat hukumnya sunnah, Hanafiyah membolehkan, Malikiyah memakruhkan namun boleh dan Syafi’iyah membolehkan jika itu sudah nadzar atau wasiat. Namun jika hanya sebagai ibadah Sunnah maka tidak boleh.

Sumber: Fatwa Syaikh Abdurrazaq Al-Mahdi
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga

7 Negara Ini Berhari Raya Kurban pada Senin

Wilayah Lain - Senin, 12/08/2019 10:09