Mengurungkan Berhaji, Demi Membantu Fakir Miskin

Foto: Fakir miskin

KIBLAT.NET – Ibnul Mubarok adalah seorang ulama salaf yang terkenal akan keilmuannya, kezuhudnnya dan jihadnya. Beliau adalah yang pernah mengirimkan sebuah surat kepada rekannya Fudhail bin Iyadh yang menghabiskan waktunya untuk beribadah di masjidil harom. Sebuah syair yang berjudul Ya abidal haromain berhasil membuat Fudhail bin Iyadh menangis.

Namun kali ini kita akan bercerita tentang salah satu episode haji Ibnul Mubarok. Suatu ketika Ibnul Mubarok pergi naik haji. Ketika beliau sudah melewati beberapa negeri ada bukurng yang mati. Ibnul Mubarok memerintahkan agar burung itu di tempat sampah. Tidak lama setelah itu, rombongan Ibnu Mubarok berjalan dan Ibnul Mubaro memilih untuk berjalan belakangan. Ketika Ibnu Mubarok melewati tempat sampah tadi beliau melihat seorang wanita yang keluar dari perkampungan terdekat dan mengambil bangkai burung membungkusnya dan bergegas pergi ke rumahnya.

Melihat hal itu Ibnu Mubarok mendatanginya dan bertanya tentang keadaannya dan alasan dirinya mengambil bangkai tersebut. Perempuan tadi menjawab:

“Saya dan saudara laki-laki saya tidak memiliki apa-apa melainkan kain ini. Dan tidak ada makanan kami kecuali apa yang dibuang ke tempat sampah ini. Sungguh telah halal bagi kami memakan bangkai sejak beberapa hari yang lalu. Sedangkan bapak kami memiliki harta namun beliau dicurangi, dirampas hartanya dan dibunuh.

Ibnul Mubarak meminta kepada asistennya untuk menurunkan barang bawaan dan berkata, “Berapa uang yang engkau pegang?”

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Dahsyatnya Dosa Zina di dalam Islam

Asistennya menjawab, “Seribu dinar.”

Ibnul Mubarok berkata, “Hitung (dan sisihkan) 20 dinar, cukup bagi kita untuk perjalanan ke kota Maru sedangkan sisanya berikan kepada perempuan ini. Hal ini lebih baik daripada haji yang kita lakukan hari ini.” Kemudian Ibnul Mubarok kembali ke tempat tinggalnya.

Kita coba menghitung biaya haji yang dimiliki oleh Ibnul Mubarok. Kalau 1 dinar emas seberat 4.5 gram, maka 1000 dinar sama dengan 4.500 gram. Jika 1 gram emas senilai 700an ribu, senilai 3 Milyar lebih. Saya tidak tahu apakah yang diserahkan oleh Ibnul Mubarok kepada perempuan itu bekal pribadinya atau bekal seluruh rombongan yang bersamanya.

Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Ibnul Mubarok memberikan kepada kita sebuah pelaran tentang prioritas amal. Karena di antara pintu masuk setan terhadap manusia adalah merusak prioritas amal. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa salah satu pintu masuk setan terhadap manusia adalah menyibukkannya dengan amalan yang mafdhul (kurang afdhol) dari amalan yang afdhol.

Sebagai contoh adalah sibuk qiyamullail sepanjang malam, namun telat bangun untuk sholat subuh. Kita tahu bahwa qiyamullail adalah amalan yag memiliki banyak keutamaan, namun meski banyak keuatamaan tingkat keuatamaannya tidak lebih tinggi daripada sholat subuh yag hukumnya fardhu ain. Sedangkan qiyamullail hukumnya sunnah.

Sebagai seorang muslim kita harus mawas diri terhadap pintu-pintu masuk setan. Yaitu dengan memahami prioritas-prioritas amal yang sesuai dengan kondisi kita hari ini. bukankah amalan yang paling mulia adalah amal yang sesuai dengan kondisi yang ada. Wallahu a’lam bissowab.

BACA JUGA  Terungkap! Papua Barat Ikuti Turnamen Sepakbola Sebagai Negara

Sumber: Al-Bidayah wan Nihayah jilid 10.

Penulis: Arju
Editor: Aiman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga