Hari Arafah, Renungan Kesempurnaan Islam

Foto: Wukuf di Arafah

KIBLAT.NET – Tepat di hari Arafah 1430 tahun yang lalu Allah SWT menurunkan wahyu terakhir kepada Nabi Muhmmad SAW. Dan momennya adalah ketika 114 ribu sahabat berkumpul di padang Arafah untuk melaksanakan haji terakhir mereka bersama Rasulullah SAW.

Ayat ini sebagai wahyu pamungkas yang turun kepada Nabi Muhammad SAW.   Ajaran Islam diturunkan oleh Allah ta’ala sebagai syariat terakhir dan aturan manusia yang lengkap dan sempurna, sebagaimana isi ayat terakhir ini. Allah SWT berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS Al-Maidah : 3)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : “Ini merupakan nikmat Allah yang paling besar kepada umat ini, karena Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka; mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain, tidak pula memerlukan nabi lain selain nabi mereka; semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepadanya.” (Tafsir Al Quranul Adhzim)

Ayat ini turun pada sore hari Arafah yang jatuh pada hari Jumat (hari haji Akbar), hari itu Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu menangis, sehingga Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Mengapa engkau menangis?” Umar menjawab, “Aku menangis karena sejak dahulu kita masih terus ditambahi dalam agama kita, adapun sekarang ia telah sempurna; dan sesungguhnya tidak sekali-kali sesuatu itu sempurna, melainkan kelak akan berkurang.” Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kamu benar.” (Tafsir Ath-Thobari)

BACA JUGA  Penjelasan Lengkap Ustadz Abdul Somad Soal Ceramah Tentang Salib yang Viral

Makna hadist di atas diperkuat oleh hadist yang mengatakan : “Sesungguhnya Islam bermula dari keterasingan, dan kelak akan kembali menjadi terasing, maka beruntunglah bagi orang-orang yang terasing”. ( Syarh Imam Nawawi Shahih Muslim : 2/177, Sunan Tirmidzi : 2629).

Artinya agama ini telah sempurna ajarannya untuk mengatur kehidupan manusia, dan segala kekurangan yang ada itu disebabkan manusia tersebut tidak mengaplikasikan ajaran ini di kehidupannya. Untuk itu, seorang muslim harus menjalankan ajaran Islam secara kaffah (total, menyeluruh), bukan hanya mementingkan satu aspek dari ajaran Islam lalu mengabaikan aspek yang lainnya. Oleh karena itu, pemahaman dan pengetahuan kita terhadap ajaran Islam secara syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna) menjadi satu keharusan. Disinilah letak pentingnya kita memahami karakteristik atau ciri-ciri khas ajaran Islam dengan baik.

Ciri khas ajaran islam ini sangatlah banyak sekali, yang mana hal ini tidak terdapat di dalam agama lain, dan ini pula yang menjadikan begitu banyak orang yang tertarik kepada Islam sehingga mereka menyatakan diri masuk ke dalam Islam. Ini pula yang menjadi sebab, mengapa hanya Islam satu-satunya agama yang “Shalih Li Kulli Zaman Wa Makaan” yakni agama yang selalu sesuai dan senantiasa berjalan selaras di setiap zaman dan pada ruang-ru ang yang berbeda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits:

BACA JUGA  Teroris Penyerang Masjid Selandia Baru Serukan Aksi Supremasi Kulit Putih dari Penjara

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Telah kutinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. At-Tirmidzi : 2/308).

Semakna dengan hadist diatas Beliau Shallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama kitab Allah (Al-Qur’an) kemana saja ia beredar.” (HR. Al-Hakim : 2/162).

Kembali merenungi sebab Umar bin Khottob menangis di atas yang mengatakan bahwa ketika Islam sudah sampai pada kesempurnaan maka suatu saat akan terjadi reduksi ilmu dan pengamalan.

Pertanyaan yang mesti kita ajukan kepada diri kita, sudahkah kesempurnaan itu kia hadirkan dalam diri kita? Sudahkah kita mengupaykannya dalam masyarakat dan lingkungan kita? Karena perwujudan kesempurnaan Islam dalam kehidupan manusia adalah tolat ukur sejauh mana ketaatan umat dan masyarakat terhadap Rabb-nya.

Implementasi kesempurnaan Islam di dalam kehidupan bermasyarakat akan melahirkan izzah dan kemuliaan bagi kaum muslimin. Musuh-musuh Islam akan berpikir untuk mengganggu eksistensi umat Islam, mereka akan berhitung untuk melecehkan Islam. Kesempurnaan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad diringi dengan keputusasaan orang-orang kafir terhadap agama Islam. Ketika kita belum melihat itu pada realitas kita, maka masih banyak PR umat yang perlu diselesaikan. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Arju
Editor: Aiman

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Baca Juga